Sepertinya hujan sedang sering mampir di kotamu. Membasahi
taman kota, membuat bunga-bunga menari dan tentu saja membasahi atap rumah lalu
mengalir deras melalui kaca jendela kamarmu.
Seharusnya kamu tak perlu menunggu hujan dengan serius.
Hujan akan datang dengan sendirinya menyapamu jika diperutnya sudah penuh
dengan air yang siap dimuntahkannya. Memangnya jika hujan benar-benar datang
dan mengajakmu bercumbu di dalam selimut, kamu mau apa?
Alih-alih sumringah, yang ada kamu malah menggigil kedinginan.
Sebenarnya mungkin ya, yang kamu butuhkan hanya hujan dengan raut manis yang
turun perlahan-lahan di kala sore hari, ketika beramai-ramai burung prenjak
pulang menuju sarangnya. Kamu juga tentunya akan kelabakan jika hujan turun 24
jam menyapamu di depan jendela dan mengajakmu bercinta.
Hujan siap datang kapan saja, tapi apa kamu siap? Ya... kan?
***
Hujan itu digdaya. Dia akan menampakan diri pada mereka yang
memang berani memeluknya. Hujan tak suka hanya dipandangi, dia suka jika kita
bermain-main dengannya. Kuyup, ya tentu. Tapi itu yang ia ingini, basah
bersama, bukan hanya dinikmati tetesan air yang jatuh dari tubuhnya, ataupun
dilumat aromanya demi kamu dapat mencicipi wangi petrichor.







