Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Friday, July 7, 2017

Hujan

Sepertinya hujan sedang sering mampir di kotamu. Membasahi taman kota, membuat bunga-bunga menari dan tentu saja membasahi atap rumah lalu mengalir deras melalui kaca jendela kamarmu.
Seharusnya kamu tak perlu menunggu hujan dengan serius. Hujan akan datang dengan sendirinya menyapamu jika diperutnya sudah penuh dengan air yang siap dimuntahkannya. Memangnya jika hujan benar-benar datang dan mengajakmu bercumbu di dalam selimut, kamu mau apa?
Alih-alih sumringah, yang ada kamu malah menggigil kedinginan. Sebenarnya mungkin ya, yang kamu butuhkan hanya hujan dengan raut manis yang turun perlahan-lahan di kala sore hari, ketika beramai-ramai burung prenjak pulang menuju sarangnya. Kamu juga tentunya akan kelabakan jika hujan turun 24 jam menyapamu di depan jendela dan mengajakmu bercinta.
Hujan siap datang kapan saja, tapi apa kamu siap? Ya... kan?

***

Hujan itu digdaya. Dia akan menampakan diri pada mereka yang memang berani memeluknya. Hujan tak suka hanya dipandangi, dia suka jika kita bermain-main dengannya. Kuyup, ya tentu. Tapi itu yang ia ingini, basah bersama, bukan hanya dinikmati tetesan air yang jatuh dari tubuhnya, ataupun dilumat aromanya demi kamu dapat mencicipi wangi petrichor.

Sunday, May 28, 2017

Cinta dan Kehidupan

Cinta itu kesepakatan, bukan sepihak apalagi diam.
Cinta itu tindakan, bukan hanya ragam kata.
Cinta yang tak mau melakukan apapun, itu adalah cinta yang paling lemah. Dan cinta yang paling lemah adalah kesia-siaan jika memaksa dipertahankan.

Kita tak hidup pada jaman Sisifus yang melakukan kesalahan lantas dihukum.
Kamu bebas melakukan apapun, memilih, lalu mencampakkan ataupun sebaliknya, tak akan ada yang menghukum kecuali dirimu sendiri.

Cinta yang benar tak hanya butuh ketenangan, apalagi menggenang. Ia perlu bergemuruh, karena gemuruhlah yang melahirkan rindu juga anak-anak kasih lainnya.Gemuruhlah yang melahirkan kepedulian, juga ketidakterimaan. Pendeknya, gemuruhlah yang melahirkan kehidupan.

Menjalani hidup dengan gemuruh tentu tak tenang. Tapi memilih cinta yang diam artinya memilih kesengsaraan. Penderitaan yang sengaja dipelihara, lantas karena terbiasa penderitaan pun memjadi candu. Ini bukan sekali dua terjadi, peradaban dibangun atas dasar candu pada siksaan.

Diantara sedikitnya kesenangan yang ditawarkan adalah masih tersisanya sebuah pilihan. Berjalan dengan gemuruh, debur ombak dan menerjang badai untuk sampai di pulau berikutnya, atau hanya diam, menunggu kesempatan. Kesempatan yang kerap kali tak mau mampir karena terlampau sungkan dirinya tak pernah diminta untuk hadir.

Hidup itu pilihan. Pepatah ini basi!
Tak ada keterpaksaan, semuanya kesediaan. Begitu juga dengan ketidakbahagiaan, dan kesakitan. Mereka hadir sebagai jawaban atas pilihan yang sudah kita sepakati. Tak ada orang lain mengambil peran. Hanya diri.

Kamu adalah pilihan Kamu adalah kesempatan, tawaran. Dulu aku tak perlu berpikir dua kali untuk mengambil tawaran tersebut.
Cukup sekali saja. Aku suka angka satu. Juga enggan untuk jadi yang kedua.

Wednesday, December 7, 2016

Pertemuan Cinta

gambar dipinjam dari sini
Saya menjumpai lelaki itu, seperti biasa dia selalu mengembangkan senyumnya ketika berjumpa. Raut cerianya tak pernah hilang meski sedang diselimuti duka sekalipun. Saya mendekapnya erat. Pertemuan ini sudah saya nantikan selama lima tahun. Tak terhitung berapa banyak kerinduan yang saya pendam sendiri. Kesedihan membuat saya kehilangan banyak kata. Saya menemuinya tak berkata-kata. Saya hanya diam menikmati pertemuan ini, saya telusuri setiap lekuk di tubuhnya yang hadir membangun mimpi saya setiap malam selama lima tahun. Saya cermati dengan seksama barangkali ada sesuatu yang sudah hilang dan berpindah. Tak ada. Dia tetap lelaki saya sama seperti lima tahun yang lalu.

Diajaknya saya untuk mencobai beragam pengangan di kota yang menjadi tempatnya tinggal kini. Saya manut saja, kemanapun dia mengajak saya melangkah saya mau. Saya takut ditinggalkan lagi, saya takut kehilangan. Dia mencoba menerangkan kepada saya tentang es doger yang diseruputnya, dia bilang ini adalah minuman paling elit dan bercita rasa tinggi. Ah saya masysgul dengan pernyataannya. Kesukaannya mengindikasikan tentang usia yang sudah dia lewati. Saya mengangguk saja bukan pertanda setuju, tetapi karena saya tak ingin kehilangan dia lagi. Saya memperhatikan cara dia memakan es doger, cepat, kalap, lincah. Hanya butuh lima menit baginya untuk menghabiskan es doger tanpa es itu. Ya dia memesan es doger tanpa es, kebiasannya ini sudah saya hapal. Karena lelaki ini pengidap asam lambung.

Thursday, September 15, 2016

Mereka tak pernah Menunda Pergi

Gambar dokumentasi pribadi,
"Perjalanan menuju timur" 24 Juni 2016, Tol Cipali
Dalam waktu dua minggu saya mendapat kabar duka dari dua orang teman. Seorang ibu yang ditinggalkan anaknya yang berusia 4 tahun, dan seorang anak yang ditinggalkan ibunya. Kehilangan selalu menyedihkan dan melahirkan beragam penyesalan. Penyesalan bisa berupa menyalahkan diri sendiri karena belum banyak hal yang bisa kita berikan pada mereka, ataupun juga tentang tingkah kita yang kadang menyakiti mereka.

Seringkali saya menyaksikan dari jauh tentang mereka yang sedang kehilangan. Ikut larut dalam kesedihan yang sedang mereka alami. Tak  berani mendekat, khawatir malah akan melemahkan mereka dengan beragam kata yang seringkali salah.

Teman saya yang ditinggalkan anaknya merasa ingin mati karena sudah tak ada lagi yang ia perjuangkan di dunia ini. Sambil menghisap rokok kuat-kuat ia bertutur dengan raut wajah yang sukar kutebak. Saya hanya bisa diam menyikapinya, tak ada kata yang bisa menabahkan jika seseorang sedang amat kehilangan.

Teman saya yang ditinggalkan ibunya menceritakan proses bagaimana ibunya tiada, jatuh di kamar mandi katanya, selang beberapa menit selepas mereka berdua tertawa di kamar tidur. Teman saya langsung membawa sang ibu ke UGD RS, di UGD seperti biasa selalu ada drama ekonomi. Apakah keluarga pasien yang sedang sekarat membawa uang atau tidak? Teman saya memaki-maki petugas UGD sambil menunjukkan dompetnya. Selamatkan ibu saya, saya mempunyai uang! Tindakan pun segera dilakukan, hanya satu kata kunci, uang!

Friday, July 15, 2016

Waktu Tak Pernah Meniada, Kamu yang Tiada

The Race Alone karya Ugo Untoro
Beauty is the first, the alone, the sole, the strange, the infinity 
Seringkali saya ditinggalkan, sesekali saya meninggalkan. Petang itu, ketika Bathara kala baru saja pamit kamu pun menyatakan pergi, tanpa meminta persetujuan. Kamu pergi tepat ketika kita baru saja menyudahi semua permainan hari ini. Separuh hari setiap hari kulewatkan denganmu. Permainan yang dilakukan di taman diiringi suara gaduh anak-anak kecil, dan seringkali kita dibekali oleh-oleh senyuman dari mulut-mulut kecil yang penuh dengan kata ketika permainan usai.

Tak ada yang bisa kulakukan selain membiarkanmu pergi. Gemuruh rasa panas di dada tak lagi jadi soal. Pengkhianatan, seringkali hadir justru ketika semua sedang baik-baik saja. Kamu pergi dengan alasan yang tak masuk akal, kamu terlihat rikuh memungut kata-kata yang mengada-ada. Wajahmu yang seringkali saya puja, sore itu berubah menjadi sosok yang tak pernah saya kenal. Matamu, hidungmu, bibirmu semua menjadi saksi bahwa kamu sedang berbohong.

Ketiadaan waktu, katamu. Waktu tak pernah meniada, kamu yang tiada.

Denarius. Saya memberimu sebutan pendek akhir-akhir ini. Akhirnya kutemukan alasan kamu tiada. Kamu terlihat menang dengan keputusan yang telah kamu buat, tanpa sedikitpun merasa menyesal apalagi bersalah. Kita semakin berbeda, dulu kita serupa. Orang menyangka bagai pinang dibelah dua. Kepalsuan memang tak akan bertahan lama.

Monday, July 4, 2016

Rosetta

Sebuah Resensi 

Rosetta film yang diperankan oleh Emilie Deguenne bercerita tentang perjuangan seorang perempuan berusia 18 tahun yang melakukan segala cara untuk mendapatkan pekerjaan. Adegan film ini diawali dengan Rosetta yang dipecat dari pekerjaannya, meronta, mengamuk dan memukul atasannya. Adegan heroik menjadi pembuka yang tidak terlalu manis tetapi mengundang penasaran. Saya mulai bertaruh dengan Rosetta, awalnya saya mengharapkan bahwa Rosetta akan membawa saya pada petualangan yang seru khas film-film Hollywood, ada pembuka yang manis, ada konflik yang membuat urat nadi mengencang di pertengahan film serta adegan penutup yang mapan. Tapi ternyata saya salah besar. Film berdurasi 90 menit hanya menampilkan adegan-adegan pengulangan tanpa ending yang jelas.

Kegigihan Rosetta untuk mendapatkan pekerjaan memaksanya melakukan berbagai cara termasuk menikam temannya sendiri Riquet yang diperankan oleh Fabrizio Rongione. Riquet menjadi pelayan di toko Waffle dan Rosetta dengan cara yang licik akhirnya menggantikan Riquet. Rosetta ingin mempunyai hidup yang normal, ibu yang sembuh dari kecanduannya akan alcohol, mempunyai pekerjaan yang mapan dan tempat tinggal yang layak. Dia selalu bercakap dengan dirinya sebelum tidur “Namamu Rosetta. Namaku Rosetta. Kamu mendapatkan pekerjaan. Aku mendapatkan pekerjaan. Kamu mempunyai teman. Aku mempunyai teman. Kamu memiliki hidup normal. Aku memiliki hidup normal. Kamu tidak akan jatuh dalam lubang. Aku tidak akan jatuh ke dalam lubang”. Semacam self doctrine, harapan agar hidupnya lebih baik keesokan harinya.

Like Father Like Son

Sebuah resensi



“Rumah adalah tempat di mana kita dibutuhkan” sebuah kalimat Dee Lestari yang pertama kali muncul di benak saya ketika Film Soshite Chichi ni Naru atau dalam bahasa Inggrisnya “Like father Like Son” selesai di putar di bioscoop Concordia, Selasa 10 Mei 2016. Film berdurasi 2 jam dibuat tahun 2013 yang disutradarai oleh Hirokazu Koreeda.  Soshite Chichi ni Naru memenangkan Jury Prize dan memenangkan pujian dari Juri Ekumenis, juga dinominasikan untuk Palme d'Or pada Festival Film Cannes 20131.

Sebuah film drama keluarga Jepang, berkisah tentang anak berusia 6 tahun yang tertukar di rumah sakit ketika bayi. Tema ini terdengar umum di telinga penikmat sinetron di Indonesia. Sinetron “Putri Yang Tertukar” bertema sama namun sangat berbeda dalam pengekspresiannya. Cerita bermula saat suster yang membantu proses persalinan dua bayi di hari yang sama, menukarkan Keita (Keita Ninomiya) dengan Ryusei (Shogen Hwang). Keita yang dirawat oleh pasangan Ryota (Masaharu Fukuyama) dan Midori (Machiko Ono) sebenarnya adalah anak dari  pasangan Yudai (Riri Furanki) dan Yukari (Yoko Maki).

Dua keluarga memiliki latar belakang yang berbeda. Ryota seorang arsitek dan sangat sibuk sehingga tidak punya waktu bermain dengan Keita. Yudai penjaga toko kelontong, bermain dengan anaknya sepanjang hari, seorang ayah yang hangat.Bagi Yudai kedekatan dengan anak sangat penting, karena waktu tidak akan terulang. kehangatan bisa lahir dari mana saja dari kesederhanaan dan tempat yang buruk sekalipun.

Friday, August 14, 2015

Merah Marun

Merah corak putih, seperti bendera merah putih yang dijahit lebih rapat namun ini warna benderanya terkena darah sang pahlawan atau mungkin darah pengantin di malam pertama jadi tepatnya merah marun.

Tudung lampu dengan sudut 600 membuat suasana ruangan menjadi temaram. Ruangan ini rupanya mengikuti kampanye mengurangi polusi cahaya. Ruangan ini tak berubah, masih sama persis sejak 3 tahun dulu kutinggalkan, kamar yang  tak berpenghuni, mestinya asisten rumah tangga mengganti sepreinya dengan warna putih saja sekalian. Ditutup. Tamat.

Koper tua dan besar itu masih teronggok di sana, di sudut kamar dekat pintu. Dulu kamu sengaja menyimpannya, katamu agar kita tak usah repot membawa banyak koper ketika bepergian. Kenyataannya kamu lupa membawa pergi kopermu. Kamu pergi terlalu terburu-buru, sehingga banyak barang yang tertinggal. Padahal hal ini sudah sering kuingatkan kepadamu, dulu. “periksa semua barangmu sebelum pergi jangan sampai ada yang ketinggalan, apalagi jika itu barang berharga misalnya hatimu” kataku mengingatkan.

Saturday, July 25, 2015

Panca

Lima. Seperti halnya panca indera, yang mempunya fungsi untuk melihat, mendengar, mencium, meraba dan merasa. Lima, kita telah melewatinya. Lima kejadian. Lambat-lambat pagi itu kamu mengucapkan mantra tentang waktu. ”Waktu sejatinya harus dituntun untuk mewujudkan keinginan kita, katamu”. Kata-katamu menggema pada langit-langit kamar. Hening, hanya ada suara lirih dari nafas yang sedang dilatih dan diajak bicara.

Penglihatan, mata adalah indera pertama yang mempunyai potensi besar sebagai pembohong. Bohong, karena tidak semua yang dilihat mata adalah kenyataan, bisa saja dibalik fisik yang sempurna tersimpan hati yang buas. Bisa saja, di balik deretan gelar tersimpan suatu karakter yang culas, bisa juga dibalik mobil mewah ada sosok yang terus menerus menyimpan rasa iri. 

Setelah puas oleh mata yang melihat fisik, maka kita pun sama-sama menugasi telinga untuk saling mendengar tentang kita, tentang mereka, tentang Tuhan, tentang waktu, tentang tempat, tentang peristiwa, tentang semesta. Headset menjadi saksi bahwa telah banyak aksara yang dititipkan pada pikir melalui telinga. Telinga kita terlatih untuk mendengarkan penjelasan, diskusi, argumentasi, tangisan, sanggahan, tudingan, makian, sangkaan. Telinga menghimpun letupan huruf setiap harinya.

Mata dan telinga kita telah aktif dan teruji, masing-masing dari kita telah tahu dan paham.

Friday, December 19, 2014

Surat yang Terlipat



Perpustakaan, selasa 31 juli 2012, sebelas lewat empat puluh sembilan


Apa kabar?
Lihat baru satu kalimat saja kutulis aku sudah tercekat, pertanda kamu memang bukan orang biasa untukku, apapun tentangmu aku berharap baik-baik saja, terdengar klise ya, tapi itu adalah ungkapan jujur yang paling sederhana.

Aku hanya ingin bercerita tentang beberapa hal yang pastinya tidak kamu ketahui belakangan ini.
kamu kemarin datang mengendap ke rumah kayuku ketika matahari telah tinggi, aku asyik bermain di taman belakang, sehingga tak kusadari bahwa kamu telah lama berdiri disana, dulu ini adalah rumahku, rumahmu juga, rumah kita, tapi entah belakangan hanya aku saja penghuninya, sejak aku tahu bahwa penghuninya hanya aku, aku tutup pintu depan  rapat-rapat aku lebih asyik bermain sendiri, diam yang berdimensi, menunggu waktu hingga bosan. Lalu kamu datang lagi, setelah bepergian begitu jauh, membawa banyak oleh-oleh, seperti dulu, rutinitas yang sering kamu lakukan. Tapi kali ini kepergianmu lain dari biasanya, aku ingat...ketika terakhir kali kamu meninggalkan rumah, aku menghadiahi pelukan untukmu, kecupan pada dahimu, aku melihat diriku pada riak matamu, matamu basah...akupun ia, saat itu kamu “sakit”, akupun “sakit”.

Bertahun-tahun denganmu membuatku terbiasa dengan rasa sakit, tapi sakit itu semakin menumbuhkan rasa cintaku padamu.

Sunday, July 20, 2014

The Lady "Aung San Suu Kyi"



Setiap ibu akan melahirkan anak terbaiknya. Aung San Suu Kyi lahir dari perut ibu pertiwi Burma 19 Juni 1945. 2 tahun setelah kelahirnya, Ayahnya Aung San pejuang kemerdekaan meninggal di bunuh oleh rival politiknya. Suu kecil tak paham tentang kondisi, yang dia tahu bahwa sang pendongeng ketika malam menjelang dia tidur sudah tak ada lagi.

Burma adalah negara yang tidak ramah. Dominasi pemerintahan militer yang menghasilkan berbagai kebijakan dan menomorsatukan keamanan dan ketertiban mewarnai perjalanan Burma sehingga Burma terperangkap dalam keterasingan. Kekerasan terhadap rakyat sipil yang dilakukan militer banyak terjadi. Kekerasan antaretnik yang tak pernah berhenti juga menambah deretan masalah Burma.

Suu yang saat itu tinggal di London bersama suami Michael Aris dan 2 anaknya memutuskan pulang ke Burma karena ibunya sakit. Selama itu pula di depan mata kepalanya Suu melihat ketidakadilan. Penderitaan rakyat, ketakutan dan arogansi militer yang makin menjadi.

Kedatangan Suu seperti kedatangan malaikat bagi rakyat Burma. Mereka menaruh harapan agar Junta militer bisa segera selesai. Mereka menginginkan demokrasi, pemerintahan yang baru. Suu menyepakati itu, rasa cinta kepada tanah air memaksanya untuk ikut bertanggung jawab terhadap tetesan darah yang tercecer pada rakyat sipil akibat kekerasan militer.

Suu mulai bergerak. Membangun harapan, memupuknya dan berharap bisa memanennya. Suu sudah bertekad tidak melawan dengan kekerasan, yang dia miliki hanya keberanian dan harapan. Bebas dari ketakutan itu yang digelorakan kepada rakyat Burma. Perjalanannya tak mulus. Pihak pemerintah merasa terancam segala cara dilakukannya agar Suu berhenti dan tidak mendapat dukungan. Mulai dari dilarang bertemu dengan suami dan anak-anaknya hingga sampai penahanan rumah dan bahkan ini terjadi setelah partai yang didirikan Aung San Suu Kyi Liga Nasional Demokrasi memenangkan pemilu hingga 80%.

Suaminya Michael Aris tak tinggal diam. Dia mengusahakan Suu agar mendapat Nobel Perdamaian dengan harapan ketika Suu mendapat Nober tersebut, dunia akan mengakuinya dan berbuat sesuatu terhadap Suu yang ketika itu menjadi tahanan rumah. Tahun 1991 Suu meraih Nobel Perdamaian tapi itu tak merubah apapun. Burma seperti terisolasi. Gelombang demokratisasi di dunia seperti tak pernah terdengar di dunia. Globalisasi yang melanda dunia juga tak pernah menyentuh Burma. Burma tetap arogan. Dan dunia pun tak bisa berbuat apa-apa.

Hari paling kelam bagi Suu mungkin ketika suaminya meninggal, hilangnya sang pendongkrak semangat. Sebagai tahanan rumah Suu pun tidak bisa melihatnya. Di sini saya benar-benar yakin bahwa Pemerintahan Burma tak bernurani. Dengan 21 tahun penahanan Suu dengan 15 tahunnya sebagai tahanan rumah dunia pantas mensejajarkan Suu dengan Mandela dan Gandhi.

Bagi saya Suu bukan hanya sekedar inspirasi, tapi dia seperti lentera yang tak pernah padam.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Rena Asyari @Na_Asyari 
Cibiru 20 Juli 2014

Tulisan ini lahir setelah saya mengikuti acara Ramadan in Asean 19 Juli 2014 di Museum Konperensi Asia Afrika. Untuk Komunitas LayarKita saya haturkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Thursday, June 12, 2014

'DROP' Ine dan Suara Perempuan


Malam menjadi berbeda kali ini. Taman Budaya Bandung menyuguhkan cerita. Seorang perempuan yang tengah tertidur menjadi pembuka acara, desah nafasnya yang teratur menjadi backsound panggung, kita menjadi salah satu di antara 250 orang penonton yang hadir. Tiba-tiba perempuan yang sedang tertidur itu mulai bermonolog dengan suara yang bergetar dan tertahan mengungkapkan kekecewaannya akan laki-laki yang dia cintai tapi tidak pantas untuk dicintai. Laki-laki yang pergi tanpa pesan.


Perempuan itu kita mengenalnya Sha Ine Febriyanti. Ine memainkan 8 karakter perempuan Yunani yang kecewa dengan laki-laki pasangannya, laki-laki yang meninggalkan mereka akibat perang Troya.

Ine tak sendiri, ditemani Anthony seorang pemain sirkus dan sebagai lawan monolog Ine. Monolog Ine di adopsi dari karya Ovid, penyair Romawi yang telah menghasilkan banyak karya. Ine mewakili perempuan yang banyak memendam rasa, lugas berbicara tentang kepedihan melalui suara, ekspresi dan gerak tubuh. Sedangkan Anthony dengan gesit memainkan tali yang telah tergantung. Pertunjukan pun menjadi klimaks ketika turun hujan buatan di atas panggung. Seketika Ine dan Anthony pun basah. Seperti sudah sifat hujan bahwa hujan sebagai media pengantar mencapai keheningan, maka dalam drama Drop pun, hujan tak hanya sebagai media tetapi menjadi bagian dari pelaku.

Thursday, January 2, 2014

Festival Indonesia Mengajar (tentang pengabdian yang seharusnya)



Kali ini saya mengawali pagi dihantarkan semangat, kaki saya menapak dengan ringan menelusuri pagi yang belum tiba, masih terbalut pekat saya bergegas menuju peron stasiun. Argo Parahyangan menguap, kantuknya belum reda tetapi tugas telah memaksa matanya membuka. Tiba giliran berangkat pada jam keberangkatan pertama. 

Perjalanan tiga jam saya lewati dengan praduga. Menebak-nebak apa yang akan saya lakukan di sana. Ya.. saya menuju Ancol mengikuti acara Festival Indonesia Mengajar.

Indonesia Mengajar adalah gerakan yang di gagas Anies Baswedan untuk mengirimkan para pengajar muda ke daerah-daerah terpencil di nusantara.

Sebagaimana halnya perhentian, Gambir selalu menyuguhkan harapan. Langkah-langkah kaki tergesa menjejak menjemput pagi dengan optimis. Pk. 08.00 kereta berhenti tepat waktu. Saya bergegas menuju parkiran, menunggu Wira temanku untuk segera melanjutkan perjalanan ke Ancol.



Friday, November 22, 2013

Surat Untuk Bapak



Bandung, 11 November 2012

Untuk Bapak,
Di suatu tempat di bumi.

Bapak, apa kabar?semoga selalu sehat, mugia Gusti Allah terus ngaping bapak.

Bapak, bulan ini sudah masuk musim penghujan, dimana-mana air, di bandung curah hujannya tinggi sekali, bagaimana di kota bapak?bagaimana di kota kita dulu? Bapak percaya kalau air bisa menenggelamkan kenangan, menghilangkan sebagian ingatan, dibawanya kenangan-kenangan yang tersimpan dengan arus lantas kenangan-kenangan itu akan tersangkut di got-got yang penuh sampah, di sungai yang juga penuh sampah, jarang sekali arus air langsung menuju muaranya. Tapi, bapak tidak usah khawatir, tentangmu kenangan itu selalu berada ditempatnya, tidak sedikitpun hilang.

Bapak, bunga-bunga flamboyan bermekaran, maka burung-burungpun menjadi lebih riuh kicaunya, lalu bunga-bunga itu akan jatuh dan mengotori pekarangan rumah kita dulu, bertaburan di teras rumah, menempel pada daun bunga melati, daun mangga... ya mangga yang kita tanam dua belas tahun lalu, dan sekarang berbuah banyak.

Musim peralihan disebut juga musim pesta fora nya nyamuk bapak, kala itu bapak selalu menenteng baygon pompa semprot, melongok kamar ukuran 3x3 itu dan menyemprotnya, itu seperti tugas rutin buat bapak, tanpa itu sepertinya bapak tak dapat gaji, bapak mulai menyemprot jam tujuh malam, lewat dari jam tujuh maka giliran nyamuk-nyamuk itu yang akan menyemprot bapak. Sepertinya, bapak juga sekarang tak pernah lagi menyemprot, sepertinya bapak yang sekarang sudah canggih juga.

Monday, May 20, 2013

Cinta dalam Sekeping Koin


Warna kuning keemasan dalam koin itu mengkilat seolah menyerap senja yang baru saja lengser, senja yang memudar perlahan mengundang ribuan burung walet membentuk barisan cantik di angkasa terbang menuju rumahnya, pemandangan yang mewah katamu. 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKmc4_SwYOjkVf_QR56fEkrXpKZqjyMsdStuYBIgf-JJF60s4htwpxDhKIsGj5LYQz7yTH90H8w4Sthutl-RaXYI0Z9y56BNj5aX5VwR6qYRKMvoO_rY_eu6HaupSS6DgLrYdR_AzhLYWq/s400/koin_emas.jpg

Lalu senja yang terserap dalam koin itu kamu bagi ke seluruh tubuhku, punggung, pundak, bahu, tangan, tanganmu begitu terlatih membagi senja. Kamu bilang, senja adalah kesederhanaan, warnanya tidak menyilaukan, tetapi meneduhkan. Bercerita tentang senja aku jadi ingat pada sepotong senja yang dikirimkan Sukab untuk Alina, senja yang dikerat Sukab dari langit, disisipkannya pada amplop, amplop di tutup rapat agar senja tak membaur. Ketika Alina membuka amplopnya maka senja pun memendar ke seluruh ruangan, rambut Alina menjadi kuning keemasan, senja yang terkerat pun tak marah, dia malah sumringah, sepotong badannya bisa membuat arti.

Thursday, April 25, 2013

Cinta


Aku memilih satu cinta, diantara banyaknya pilihan, cinta yang kutemukan tanpa sengaja diantara langkah-langkah saling mendahului para pejalan kaki sore itu, klakson mobil yang bersahut-sahutan sangat payah, membuat negeri yang kutinggali ini menjadi negeri yang beradab. 

Cinta yang masih mentah, aku sama sekali belum berpikir akan membentuknya seperti apa. Mungkin agar menjadi manis, akan kutambahi banyak madu dan gula, tapi aku tak mau membuatnya legit, seret di kerongkongan, aku berpikir ratusan kali untuk membuat citarasanya pas. 

Mungkin sebagian orang akan menganggapku bodoh atau bahkan gila, karena cinta yang kupilih terlalu biasa, mustinya aku mendapatkan yang istimewa kata mereka. Aku tersenyum kecut, aku telah memilih cinta itu, pilihan yang akan selalu kupertanggungjawaban hingga waktu lelah dengan sendirinya. 

Friday, November 2, 2012

Di Sudut Kota


Hampir dini hari tapi kita masih belum terpejam, sengaja menghirup angin malam sambil memperhatikan beragam aktivitas di pusat kota ini, penjual wedang ronde, es potong, mainan anak, semua memenuhi pandangan mata, ada rasa aneh yang tiba-tiba mampir ketika kita duduk berdekatan, membicarakan aktivitas seharian, membicarakan orang-orang terdekat, berdiskusi tentang ini dan itu, rasanya aku tak perlu melakukannya sambil menatapmu, cukup mendengarkan suaramu saja, itu sudah membuatku tersihir.

Jarang sekali aku bisa serius, biasanya aku menanggapi semua hal dengan bercanda ataupun berucap manja, malam ini aku memintamu untuk menemaniku tanpa mengucap dengan rengekan manja tapi lebih seperti permintaan orang dewasa.

Saturday, September 1, 2012

Apa kabar?


Lama kita tak bertemu, berganti musim, berpindah tempat...

Pertemuan kita selalu singkat, karena kamu selalu datang ketika matahari tepat di atas kepalamu, tidak sekalipun kamu datang kala sinar matahari sehasta bahuku, lalu kamu pulang, bila malam sudah terlalu pekat, aku hapal ritme itu, tidakkah ingin kamu tinggal lebih lama? Menyaksikan fajar berdua, mengulum malam dengan tubuh yang melekat?

Aku masih hapal senyummu, senyum ketika kuhardik karena kudapati kamu merokok di depanku, batang-batang rokok yang selalu kusembunyikan hingga akhirnya kamu menyerah mematikan ujung pilinan tembakau itu dengan paksa, sudah kukatakan berulang kali, bagaimana bibir kita akan berpagut jika kudapati bau nikotin menyengat dari mulutmu, atau ajari saja aku sekalian menjadi perokok, biar kita sama-sama saling menghisap, saling membaui aroma yang sama keluar dari mulut kita. Kamu dengan cepat menggeleng... aku menyerah, aku mengalah, aku tidak merokok setidaknya didepanmu katamu.

Wednesday, May 23, 2012

Khayal


Kaki-kaki kita telanjang kala itu, menurutku kita dalam usia ganjil, tapi katamu kita dalam usia genap, debat kusir yang tak kunjung selesai, ganjil dan genap yang tak pernah ada titik temu. 

Tanpa alas kaki, aku mengendap-ngendap dibelakangmu, melewati pematang sawah, gedung bertingkat, suara anak-anak, lapangan bola, dan terakhir kita berhenti pada pohon manga dan suara klakson mobil truk pengangkut pasir.

Tepat jam 2 siang, biasanya aku akan berjingkat ke belakang pintu kamarmu, bercumbu mesra dengan aroma ruangan berukuran 2x3 meter itu, kertas-kertas coretan, jurnal-jurnal ilmiah bahkan majalah playboy. Aku hirup kuat-kuat aromamu yang tertinggal di belakang pintu, aroma yang tak harum, tapi entahlah aku menyukainya, bau keringat yang khas, lalu kamu dengan nakalnya memamerkan deretan gigi yang tak begitu rapi, menebarkan aroma khasmu lebih banyak, sehingga aku terperangkap di dalamnya hingga tak bisa lepas. Dengan satu hentakan saja, aku ada dalam pelukanmu, pelukan yang liar lalu tiba-tiba menghangat, waktu membalikkan semuanya, konsep liar dan lembut berada pada jeda waktu yang tak lama. 

Sunday, March 25, 2012

Menyisakan punggung


Aku menunggumu hampir bosan, 2 jam dengan sinar matahari yang terik, beruntung aku berada diruangan berpendingin, dandanan yang hampir luntur, kepala yang terlalu pegal karena beberapa kali melonggok kearah jalan berharap ada mobil biru menurunkanmu di depan pintu itu. 

Telah kuhabiskan 2 gelas teh manis, 1 gelas jeruk panas, roti kukus juga pisang keju, perutku kembung, sementara kamu tak kunjung datang. Pintu itu membuka sekelebat aku melihat ransel yang biasa kamu kenakan, tulang punggungku tegak seketika, rahangku melemas untuk kemudian kuberikan senyum padamu.

“Lama?maaf jalanan macet ucapmu”, alasan yang sudah terlalu biasa, dan aku hanya manggut saja mendengarnya, ya..tak apa. Kamu tak punya kewajiban untuk datang tepat, seluruh waktu adalah milikmu, bukankah begitu, tanyaku?senyummu melebar, menjawil hidungku seperti biasanya.