Kaki-kaki kita telanjang kala itu, menurutku kita dalam usia
ganjil, tapi katamu kita dalam usia genap, debat kusir yang tak kunjung
selesai, ganjil dan genap yang tak pernah ada titik temu.
Tanpa alas kaki, aku mengendap-ngendap dibelakangmu,
melewati pematang sawah, gedung bertingkat, suara anak-anak, lapangan bola, dan
terakhir kita berhenti pada pohon manga dan suara klakson mobil truk pengangkut
pasir.
Tepat jam 2 siang, biasanya aku akan berjingkat ke belakang
pintu kamarmu, bercumbu mesra dengan aroma ruangan berukuran 2x3 meter itu,
kertas-kertas coretan, jurnal-jurnal ilmiah bahkan majalah playboy. Aku hirup
kuat-kuat aromamu yang tertinggal di belakang pintu, aroma yang tak harum, tapi
entahlah aku menyukainya, bau keringat yang khas, lalu kamu dengan nakalnya
memamerkan deretan gigi yang tak begitu rapi, menebarkan aroma khasmu lebih
banyak, sehingga aku terperangkap di dalamnya hingga tak bisa lepas. Dengan satu
hentakan saja, aku ada dalam pelukanmu, pelukan yang liar lalu tiba-tiba
menghangat, waktu membalikkan semuanya, konsep liar dan lembut berada pada jeda
waktu yang tak lama.
Kita berada pada eros, yang menurut beberapa orang itu adalah konsep terendah dalam cinta, karena berprinsipkan nafsu, tapi aku tidak membuatnya rendah, eros tidak serta merta selalu rendah, tergantung bagaimana cara kita menempatkannya, bukankah begitu?tanyaku, padamu. Dan kamu dengan anggukan dan gelengan mencoba memahami bahwa definisi-definisi itu sangat tidak penting ketika hidungmu berjarak satu jari dari hidungku. Nafasmu memburu… dan aku kalah, berada di balik pintu dengan kunci yang kamu pegang membuatku seperti buronan yang tertangkap, tak bisa mengelak, tidak selangkahpun. Adapun tanganmu yang tidak kokok seolah mencengkram lenganku kuat, padahal yang kamu lakukan hanya memegang, tapi entahlah khayalanku siang ini terlalu tinggi tentangmu.
Ada coretan tinta printer di hidungmu, katamu… lalu kamu
bersusah payah menghilangkan jejaknya, baru aku bernafas lega, kamu yang tak
berjarak ternyata hanya berniat mengilangkan jejak hitam itu?akh.. sial,
padahal tahukah kamu?pikiranku sudah mengangkasa, terlalu tinggi, hingga bahkan
aku tak siap untuk jatuh.
Dibelakang pintu itu tak pernah ada apa-apa, yang tertinggal
hanya khayalanku tentangmu.
Jurnal-jurnal ilmiah dan kertas yang tercecer di seluruh
sudut ruangmu, seringkali memberitahukanku satu hal, bahwa mimpiku tentangmu terlalu tinggi.
Bau keringatmu itu… menempel pada hidungku, tak mau pergi. Meski
aku telah mencoba melupakannya bertahun-tahun lalu.
No comments:
Post a Comment