Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Wednesday, December 7, 2016

Pertemuan Cinta

gambar dipinjam dari sini
Saya menjumpai lelaki itu, seperti biasa dia selalu mengembangkan senyumnya ketika berjumpa. Raut cerianya tak pernah hilang meski sedang diselimuti duka sekalipun. Saya mendekapnya erat. Pertemuan ini sudah saya nantikan selama lima tahun. Tak terhitung berapa banyak kerinduan yang saya pendam sendiri. Kesedihan membuat saya kehilangan banyak kata. Saya menemuinya tak berkata-kata. Saya hanya diam menikmati pertemuan ini, saya telusuri setiap lekuk di tubuhnya yang hadir membangun mimpi saya setiap malam selama lima tahun. Saya cermati dengan seksama barangkali ada sesuatu yang sudah hilang dan berpindah. Tak ada. Dia tetap lelaki saya sama seperti lima tahun yang lalu.

Diajaknya saya untuk mencobai beragam pengangan di kota yang menjadi tempatnya tinggal kini. Saya manut saja, kemanapun dia mengajak saya melangkah saya mau. Saya takut ditinggalkan lagi, saya takut kehilangan. Dia mencoba menerangkan kepada saya tentang es doger yang diseruputnya, dia bilang ini adalah minuman paling elit dan bercita rasa tinggi. Ah saya masysgul dengan pernyataannya. Kesukaannya mengindikasikan tentang usia yang sudah dia lewati. Saya mengangguk saja bukan pertanda setuju, tetapi karena saya tak ingin kehilangan dia lagi. Saya memperhatikan cara dia memakan es doger, cepat, kalap, lincah. Hanya butuh lima menit baginya untuk menghabiskan es doger tanpa es itu. Ya dia memesan es doger tanpa es, kebiasannya ini sudah saya hapal. Karena lelaki ini pengidap asam lambung.

Friday, December 19, 2014

Nyai Ontosoroh


      gambar dipinjam dari sini


Suara jangkrik mulai memecah malam, dedaunan gemerisik ditiup angin kemarau. Ada udara yang menerobos masuk dari celah-celah pintu dan jendela menjadikan suhu kamar ini dingin.

Nyai Ontosoroh mulai menggigil. Setiap malam diawalinya dengan tangisan kecil. Malam baginya adalah penyerahan tubuh pada sang empunya uang, yakni suaminya. Melacurkan diri, begitulah Ontosoroh menamainya. Malam baginya seperti serigala yang sedang mengendap-ngendap kelaparan. Sejak dia menjadi Nyai, kehidupan hanya sebuah siklus tanpa makna. Tembang-tembang Centhini yang pernah ia baca tentang senggama yang indah seolah menjadi uraian kata tanpa isi.

Gelap dan pekat malam membuat Ontosoroh mahir memainkan peran. Berbagai topeng dicobanya. Dia mulai belajar mengenakan topeng ketika menginjak remaja. Di lihatnya orang-orang sekelilingnya juga begitu. Sepupunya, Rukmini senang sekali memakai konde dan gincu yang tebal, Rukmini berjualan di pasar. Pinggulnya megal-megol setiap kali berjalan apalagi ditambah dengan siulan laki-laki. Jika sore tiba, Rukmini mengurut-ngurut mengolesi betisnya dengan minyak kelapa. Gaya berjalan yang dibuat-buatnya agar menarik hati laki-laki membuat Rukmini pegal-pegal seharian. Harinah, budenya selalu lembut pada tetangga, gelar bu lurah yang disandangnya membuat ia harus selalu menjadi dewa penyelamat untuk warganya. Tak jarang, sepanjang malam Inah menggerutu kepada suaminya Sarkim. “beras habis, uang juga habis, semuanya kuberikan untuk wargamu”. Kalau kau tak ikhlas kenapa kau berikan itu pada mereka, ujar Sarkim. Oalah...mas, kau tak paham rupanya, aku berbuat begitu agar posisimu sebagai lurah aman, tak diambil orang. Empat belas tahun usia Ontosoroh kala itu, dia manggut-manggut dari balik pintu. Mencoba belajar tentang kepalsuan.  

Tuesday, September 10, 2013

Negeri Tak Bernama



http://dannypopo.com/wp-content/uploads/2012/01/kundalini_practice.jpg
Aku tenggelam dalam negeri tak bernama. Di pulau-pulau yang hanya berpenghuni sedikit. Ada laut dengan pantainya yang indah. Senja yang selalu hadir tepat waktu dengan warna jingganya yang pekat. Angin yang bersahabat. Matahari yang tidak garang juga hujan yang datang sesekali. 

Ada beberapa kepiting di pantai yang biasanya akan kukejar. Rumah-rumah siput yang masih berpenghuni menjadi teman keseharianku.

Jauh dari dunia modernitas. Tidak ada polusi. Tidak ada bangunan menjulang tinggi. Yang terlihat adalah atap-atap rumah dari kayu. Rumah dari kayu. Jendela-jendela kaca yang besar. Pohon-pohon kelapa dan palem di samping rumah. Rumah tanpa pagar.

Aku dan beberapa orang yang memilih tinggal di negeri tak bernama ini melakukan rutinitas senin pagi. Beberapa dari kami menamakan dengan ekstrim bahwa kami penganut sekte senin pagi. Kumpulan orang-orang yang memasrahkan dirinya pada alam. Memaksimalkan isyarat dan pertanda, membaca pola, menganalisis situasi, mendengar lebih banyak, berbicara lebih sedikit.

Sunday, May 30, 2010

Isi Hati (si Jenonk)

sms yang kuterima siang itu, seperti petir yang menyambar kepalaku tepat. “sayang, aku akan menikahi wanita lain”, brukk.. pertahananku runtuh, otakku beku, teringat semua kenangan bersamanya selama hampir 3 bulan terakhir ini, ya semua bermula dari februari… dari seseorang yang bukan apa-apa lantas berubah kedudukan menjadi raja di singgasana hatiku.

aku memanggilmu mas, selayaknya hormatku kepadamu dalam ukuran masyarakat Jawa, aku tahu mas, aku bukan yang pertama dan terdahulu di hatimu, kamu hanya mengenalku di suatu siang di terminal bis, pertemuan yang tak pernah direncanakan, pertemuan yang menurutku tak pernah terduga, aku mengenalmu mas sebagai sosok lelaki yang kharismatik, kau kemudian menggantikan kududukan seseorang yang telah lama bercokol megah dalam hatiku, kau menggeser kedudukan aa perlahan, sangat pelan, kau tak pernah tergesa-gesa, tetapi pelanmu itu benar-benar menunjukkan jalan untukmu melewati celah sempit yang bermuara pada hatiku.

Friday, May 21, 2010

Petir Tanpa Hujan V

Minggu yang mendung, aku berlari kecil menuju st. hall, hp-ku bergetar lembut...drttt...drttt... “Na dimana, aku uda nyampe”, ku tanya petugas security... pak, argo gede uda dateng ya??ia mbak 10 menit yang lalu, kepalaku sibuk mencari-cari sosok yang kucari, mudah-mudahan aku masi hapal wajahnya. tiba-tiba, teriakan kencang seolah membangunkanku... “Naaaaaaaaaaa.... “tangannya melambai-lambai cepat mengalahkan gerak angin. kuhampiri tempat dia menungguku... “hei apa kabar, ucapku”, baik... makan yuks laper, wew... to the point banget nih... ya uda alhamdulilah ternyata rezeki makan siangku dikirimkan DIA lewatnya. Na, habis ini aku mau ke Dago, ikut gak?? ngapain?? kita makan-makan lah, tau tempat makan gak Na disana?? huuuuuuu, meneketehe, negaraku kan bukan disini, tapi di Jatinangor:D... hahhaha, ia dasar ndeso luh, biarin aku mencibir, memangnya mau makan apa?? ”hmmm...makanan sunda deh, katamu”, makan ikan peda bakar mau gak?? hahhahah, ideku yang kupikir cemerlang, cespleng otak lu Na... tapi kalo mau makan ikan peda bakar ngapain musti ke Bandung, dirumahku juga sering makan ikan peda:d... hahhaha, aku tergelak, ya sudah lah..ikut saja, ku ajak kau ke ”bancakan” deh, tempatnya sundanese banget, harganya murah meriah, dari mulai piring, gelas, tempat duduk, lampu petromaks itu dibuat tempo dulu banget, gak nyesel deh kalo makan di ”bancakan” ujarku menggebu, senggaknya gak keluar duit banyak, itu buat dompet mahasiswa kok, huh.. tau az luh Na, kalo aku lagi cekak... maklumlah mahasiswa. ini kubawa 2 novel untukmu, wow...kok Cuma 2??aku kan mintanya selusin??hahha..maruk lu Na, nanti deh kalo kesini lagi...hufffttt, itu artinya kapan-kapan dong, kamu kan kesininya sesuka hati, 3 bulan sekali, 5 bulan sekali, 9 bulan sekali, bahkan setahun sekali, kapan koleksi novelku akan nambah kalo gini caranya?? hahhaha, kamu tergelak hebat sambil mengacak-ngacak rambutku, ia nanti Na manis.... masih aza manja ya kamu, padahal rasanya uda hampir beberapa semester gak bertemu, masi gak berubah. lagu ”malaikat juga tahu-nya” dewi lestari yang saat itu lagi marak, tiba-tiba mengalun lembut, aku hapal itu ringtone Hpku, kulirik nama yang menelepon, wow.. ternyata Tuan agung, segera kuangkat ”Na, dimana??saya lagi di Bandung, di daerah Dago Pakar nih, lagi makan ikan peda bakar kesukaanmu, kamu masih di Jatinangor kan, segeralah kesini, saya tak lama disini, saya tunggu ya. tunggu... kamu sama siapa?? dengan orang yang sudah tak asing bagimu pastinya Na??? what?? sapa lagi itu... duh dunia benar-benar aneh... Na, jadi gak nih, kita makan ikan peda bakar, dimana tadi katamu??daerah dago Pakar ya?? hmmmm... gak jadi deh, kita makan di daerah Trunojoyo saja ya, ada tempat makan sunda juga bernama ”Sambara”. loh kenapa??? hmmm...gpp, haduh rasanya aku sudah tak bisa membayangkan bagaimana jadinya, kalo aku bertemu dengannya bersama denganmu...ikan pedanya gimana Na?? lain kali saja...ok, ucapku sambil melotot dan berujar ”nurut deh”. hmmm... to be continued or the end ya..??

Thursday, May 6, 2010

Petir Tanpa Hujan IV

“Na ini kukirimkan buku sesuai pesananmu, dan raket usang, tapi masi bagus kok untuk dipake, enteng banget, punya bapakku” I alwez love U bulan ke-4 tahun pertama kulipat surat itu, kucoba memainkan raket yang enteng, hatiku melambung tinggi membuncah refleks aku meloncat-meloncat girang. akh..dia memang tau apa yang kubutuhkan. tiba-tiba pintu terbuka tenyata teman kerjaku, dengan senyum lebar dia berujar “cie..yang dapet paket dari pacar, siapa namanya Na???” rese lo nanya-nanya mulu, diem ah bawel, (aku bingung harus menjawab apa), kenalin dong, gw kan mau tau selera cowok lo kayak apa???, sambil senyum kecut kujitak kepalanya, “gak sekarang sayanggggggg, gw ogah ngenalinnya ke lo”, uda ah jangan ganggu, eh bentar lagi duhur, gw solat dulu ya. giliran dia yang melongo, trus ni kerjaan gimana????lo yang nerusinnnn teriakku, sambil tak berusaha berbalik, kudengar suara timpukan sandal dipintu, hahhahhahhahahhah tawaku lepas. Lepas duhur, aku tergesa untuk membuka account YMku, akh..lagi-lagi sial, dunia modern membuat sensasi jarak tak lagi berarti, membuat semuanya serba gampang, padahal akan jauh lebih terasa kalo segala sesuatunya itu sulit, begitu OL, beughh..tak-tuk-tak-tuk, ada 5 orang menyapa, maklumlah selebritis pikirku, tapi hanya satu yang menarik, ID yang manis, ID yang mampu membuatku kayak orang gila, kubaca statusnya, “kangen…” hmmm…siapa yang dia kangenin???tak mungkin aku, sadar diri Na, INGET SADAR DIRI!!!, kubaca ID yang lainnya, ada yang berstatus “I Love U every breath I take”, beughhh…ternyata dia masi sangat mencintai mantannya, aku lebih tertarik untuk berchat dengan ID ini, ID yang manis kuacuhkan, aku tak mau menyapanya lebih dulu, menunggu disapa tentunya, lalu tiba-tiba… X : Naaaaaaaaaaaaaaa…. aku mau ke Bandung besok, ketemuan yuks, (ada serangan chat masuk tiba-tiba) me: what??what??ngapain lo ke Bandung?? X : ada kerjaan ketemuan yuks, Me : boleh dimana dan kapan?? X : jemput aku di st.hall tepat pukul 5 sore, Me : hah???gile, gak bisa gw masih kerja jam segitu X : yaelah Na, aturlah waktunya sebisa mungkin, aku punya oleh-oleh untukmu... Me : apaan??kalo selusin buku novel sih gw mau nemuin lo X : buset dah, gw Cuma bawa 2, ok...minggu jam 5 @st.hall ya Na...gw off Na.. Wait..wait, yah dia off, aku terenyak, dia ke Bandung??ngapain??dan OMG aku baru inget kalo hari minggu ada latihan buat persiapan Pekan Olahraga Kampus... wait..wait...wait...kukirim offline message, bentar lagi off. tapi tak urung juga aku melihat ID yang manis itu, masi dengan statusnya “kangen....”, gila kalo aku nunggu disapa bisa lumutan. ku off segera. rasanya hari ini cukup aku bermain hati to be continued

Saturday, April 24, 2010

Petir Tanpa Hujan III

sambil terus menyantap pisang goreng, kamu bertanya?memangnya cinta menurut kamu itu seperti apa sih Na???weits…sabar dear aku bukan pakar cinta, kalo menurutku sih cinta itu seperti pisang goreng yang kumakan ini, manis, legit, tapi kamu perlu air putih untuk menetralisirnya bukan??terlalu legit juga gak enak, berasa nempel terus ditenggorokan, lalu air putihnya itu apa Na??ucapmu, *garuk-garuk kepala*..hmm..air putih nya itu pengendalian emosi, segala sesuatunya itu jangan berlebihan, dan ingat cinta itu tak bisa dipaksa, ketika kamu sudah enek dengan kelegitan pisang goreng itu, jangan dipaksakan masuk mulut, bisa-bisa kamu mengeluarkannya kembali, mending tak usah dimakan. sesimple itu Na cinta menurutmu??katamu, pendeskripsian tadi itu bahkan terlalu sulit kataku. yuk ah, pisang gorengnya udah abis, mau kemana Na setelah ini??bisakah kita nonton??katamu, no..no..no…gak ada waktu untuk nonton, aku gak bisa, perutku butuh makan, dan aku harus kerja, berapa sih gajimu??aku bayar, asal temani aku nonton, *plok-plok-plok* keren kamu, tapi sayang aku gak tertarik kamu membayarku, bayar saja orang untuk menemanimu nonton. aku mampu membayarmu lebih dari yang kau dapatkan dari kerja itu Na, hanya minta 2 jam waktumu saja, kamu tak mau. bukan waktu yang tepat sekarang, nanti saja kalo aku luang, kapan luangmu Na??kamu bahkan menghabiskan semua waktu untuk aktifitasmu Na, bagianku kapan??ya sudah cari saja orang lain yang bisa memberikan waktunya untukmu??gampang kan, solusinya??kamu mendelik… Na..na…gimana caranya membalikkan hati dan pikiranmu, justru aku yang mustinya berkata seperti itu, bisakah kamu tak memanjakan perasaanmu, ingat kataku tadi segala sesuatu yang berlebih itu tak baik. kutinggalkan kamu yang terpaku diujung jalan, aku tak peduli kamu mau kemana, kulihat jam…oh…aku sudah telat 30 menit, segera ku dorong pintu didepanku, dan tiba-tiba aku disambut oleh sebuah paket besar teronggok dimeja kerjaku, kulihat alamat pengirimnya, oh…dia ternyata. kubuka paket itu segera kubaca surat didalamnya…deg. to be continued