Aku memilih satu cinta, diantara banyaknya pilihan, cinta
yang kutemukan tanpa sengaja diantara langkah-langkah saling mendahului para
pejalan kaki sore itu, klakson mobil yang bersahut-sahutan sangat payah,
membuat negeri yang kutinggali ini menjadi negeri yang beradab.
Cinta yang masih mentah, aku sama sekali belum berpikir akan
membentuknya seperti apa. Mungkin agar menjadi manis, akan kutambahi banyak
madu dan gula, tapi aku tak mau membuatnya legit, seret di kerongkongan, aku
berpikir ratusan kali untuk membuat citarasanya pas.
Mungkin sebagian orang akan menganggapku bodoh atau bahkan
gila, karena cinta yang kupilih terlalu biasa, mustinya aku mendapatkan yang
istimewa kata mereka. Aku tersenyum kecut, aku telah memilih cinta itu, pilihan
yang akan selalu kupertanggungjawaban hingga waktu lelah dengan sendirinya.
Aku biarkan cinta itu mengalami pergerakan, naik turun, fluktuatif, kadang bergerak statis, kadang juga dinamis, kuikuti saja alurnya, aku menikmatinya, setiap detik.
Tanpa memiliki cinta aku tak akan pernah bahagia, dicintai
saja ternyata tak cukup.
Pada setiap perjalanan dengan cinta yang kupilih, aku akan
mengingatkanmu, bagaimana aku pernah meminjam telingamu untuk terus kubisikkan
hal-hal yang tak pernah kamu dengar sebelumnya, bermanja dan melantunkan
melodi, atau berteriak cerewet.
Di matamu aku pernah mengerling sempurna, membuat senyuman
dan kamu menelanjangiku tanpa ampun dengan bola matamu yang bening.
Di kepalamu, aku seringkali bertualang di sana, berjalan
diantara jutaan syaraf yang saling berhubungan, menengok apa yang sedang kamu
pikirkan, ternyata namaku mengambil tempat paling banyak dalam ruang memorimu,
aku tersenyum... dan aku puas.
Pada jemarimu selalu kutitipkan genggaman, genggaman yang
menyembuhkan, genggaman yang menguatkan, tanpa perlu banyak bicara, jemari kita
bahkan sudah hapal menerjemahkan rasa.
Pada setiap langkahmu... aku abadikan itu melalui kamera,
agar semua terekam dengan sempurna, kemana saja kita pernah melangkah.
Ya cinta itu adalah kamu... karena hanya padamu telah
kutitipkan semua hal.
Seperti adonan kue yang akan menjadi kalis jika
terus-terusan di bentuk oleh tangan.
Seperti itu aku mencintaimu, hingga membentuknya menjadi
sempurna.
No comments:
Post a Comment