Friday, March 6, 2026

Ayam

 4 Juni 2025

Sudah seminngu aku memelihara ayam. Seekor induk ayam dan anaknya yang baru menetas seminggu sebelumnya. Dy yang mempunyai ide awal, dibantu tante Eni dan Om Joko akhirnya ayam tetangga ini bisa tinggal bersama kami. Dy sangat antusias mempersiapkan diri kedatangan anggota keluarga baru dari mulai membuat kandang hingga belajar cara memeliharanya. 

Baru pertama kali dalam hidup aku menjadi dekat dengan ayam, tidak berjarak. Melihat induk ayam mengasuh sepenuh hati membuatku takjub. Ia mengajari cara makan dan minum, cara mencari makanan dengan mencakar-cakar tanah, cara bersembunyi dari dari panas dan hujan, hingga cara masuk dan keluar kandang. Diajak anaknya bermain seharian, diasuhnya terus tanpa lelah. 

Anak ayam juga tak bisa jauh dari ibunya. Ia sangat berganting. Selalu mengikuti kemanapun ibunya pergi. Kadang ia naik ke punggung ibunya, kadang membawa jauh makanan yang diberikan oleh ibunya. Khas setiap anak, nakal tapi lucu.

Jika hari mulai gelap, sekitar jam 17.00, induk ayam memandu anaknya untuk masuk ke tempat istirahat mereka. Tempat yang terlindung dari angin, hujan dan cahaya. Mereka akan tidur selama 10-12 jam. Jam 05.30 mereka membangunkan seisi rumah, menyambut hari baru. 


Ayam yang kupelihara jenis ayam kampung, ayam lokal daerah setempat. Warna badannya coklat, perawakannya sedang bahkan tergolong kecil. Makanan yang kuberikan padanya sisa limbah dapur, sayuran, biji-bijian, tempe, daging, ayam, cangkang telur, bayam, bunga dan daun telang, daun pepaya, pepaya dll. Aku menempatkan mereka di kandang kompos, kandang yang kudesain sebagai tempat berlindung, bermain sekaligus tempat pembuatan pupuk kompos. Beralas tanah dan dedaunan basah juga kering yang berfungsi menyerap bau kotoran mereka. Sampai saat ini aku masih belalar bagaimana merawat mereka dengan benar dan melimpahinya dengan kasih sayang. 

Kehadiran mereka membuat hidupku menjadi lebih seru, ramai, indah dan bermakna. Aku bisa duduk di dekat kandangnya berjam-jam hanya untuk mengamati tingkah mereka. Aku merasa nyaman melihat tingkah mereka. Hari-hariku semakin berwarna. Kehadiran ayam juga menarik perhatian kucing-kucing. Semuanya antusias untuk selalu ada di dekat kandang, menjagai mereka seperti satpam. 

Aku tidak menyangka akan mengalami dan menyaksikan hidup yang sepeti ini. Indah dan sederhana. Melalui ayam, aku jadi memperhatikan tanah tempat mereka mencakar-cakar. Di tanah yang mereka cakar ada banyak sekali kehidupan. Cacing, ulat, maggot, semut, hewan-hewan kecil yang selama ini luput dari perhatianku. Mereka penyeimbang kehidupan. Mereka ada bukan untuk kita, tapi bersama-sama menjadi bagian dari semesta ini. 

Terima kasih induk ayam dan bayi ayam yang lucu. Kehadiran kalian membawa suasana baru dań menambah kebahagiaan bagi rumah ini. Semoga kalian besar dań tumbuh dengan bahagia.  

No comments:

Post a Comment