Wednesday, December 16, 2009

Roda

salah satu karibku bilang hidup itu seperti roda yang berputar tetapi sayang putarannya tak bisa kebelakang mutlak selalu kedepan. hmmm…mengingat itu aku jadi melamun andai roda kehidupan bisa berputar aku ingin mengesetnya pada tahun 2004, yups..tahun 2004, tahun dimana aku melepaskan seragam putih abuku, tahun dimana aku mulai melepaskan pita ikatan rambut yang selalu aku gunakan tiap hari, tahun dimana aku masi tinggal bersama mereka utuh, tahun dimana aku harus mengunjungi Bogor, mengingat Bogor aku ingat IPB, andai saja waktu itu aku tak menjadi cewek super manja yang merengek menangis untuk pulang lagi ke rumah dan tetap melanjutkan asrama TPB ku di Bogor..mengingat Bogor selalu membuatku tersenyum kecut, Bogor membuktikan kecintaan orangtuaku terhadapku, mereka sabar menghadapi anaknya yang keras kepala. atau aku mengesetnya pada tahun 2005, tidak tahun ini kelam untukku, tahun-tahun pertamaku menginjakkan kaki di Jatinangor, sendiri, tanpa dukungan siapapun, hanya segelintir orang yang mendoakanku dan itu tak membantu banyak, aku tak mau kembali tahun ini, aku takut aku tak akan sanggup lagi menjalaninya….tidak bukan tahun 2005 yang aku mau, atau tahun 2006, tidak tahun ini menciptakan langit yang berwarna gelap untukku, semuanya gelap, bahkan tak ada cahaya sedikitpun, aku berada pada ambang batas terendah kepercayaan diriku, minder yang gak tertolong, menjadi manusia yang tak banyak bicara, diam, bukan karena aku sombong, bahkan karena aku tak mampu untuk bercerita banyak, tawa dan candaan tak membantu, karena tahun 2006 menciptakan sebongkah luka dihatiku yang ketika kutengok lukanya masi ada dan tetep sama sekarang, tidak aku tak mau mengingatnya, bahkan aku mau tidak ada bulan September 2006, tak ada warna lain kecuali hitam. Lalu aku menoleh 2007, sudah ada sedikit senyuman, tahun ini aku mengingatnya, ingat ketika aku banyak menghabiskan waktu berakhir pekan dengan menonton cd film, atau nongkrong seharian di warnet Imago, atau berkeliling kota kembang hunting DVD, ataupun bercengkrama dengan penjaga rental DVD karena seringnya aku dan karibku menyewa DVD, atau belanja ayam ke Jatos lalu memasaknya, aku menikmati tahun 2007 ini, sangat menikmatinya…hmmm…boleh juga tahun ini aku ulangi. kemudian melihat tahun 2008, aku tidak mau…tahun ini bencana untukku, waktu mencengkramku kuat, hidup mengajarkanku untuk gak bergantung sama orang lain, bergelut dengan waktu dari hari ke hari selama setahun menjalani rutinitas aktivitas dari pagi hari sampe dini hari, aku lelah pada tahun ini, lelah juga pada keadaan yang selalu tak berpihak padaku, aku menjadi makhluk apatis, dingin, gak berperasaan, bukan salahku, hidup yang mengajarkanku begitu, aku kehilangan seseorang pada tahun ini, ada yang mengambilnya dari sisiku, dan aku benci itu hingga detik ini aku menulisnya, hatiku mendidih mengingatnya, sungguh aku membenci Juli di tahun ini. atau tahun 2009 ini, ya aku melewatinya penuh perasaan, KKN, skripsi semuanya menyita perhatianku hingga aku berada pada level aku merasa bukan diriku, terbersit suatu keinginan menjadi orang lain, aku menjadi orang yang berbeda, selalu ingin lebih, selalu berteriak, selalu mengeluh dan tak pernah bersyukur, tahun ini aku menyelesaikan studiku, 4 tahun sudah waktu yang kuhabiskan disini dikota kecil jatinangor, perlahan aku mencerna semuanya, sebelum tahun ini berakhir aku hanya ingin Tuhan memberikanku kesempatan untukku lebih dekat denganNya, aku ingin bulan terakhir tahun ini ku habiskan banyak waktu denganNya, aku ingin melengkapi tahun ini dengan segala kebaikan dan kebahagiaan. Dari semua tahun selalu ada bulan yang aku benci, aku benci awal semester dan akhir tahun, sungguh aku benci, setiap awal semester menguras pikiranku, tak ada yang bisa menolong, cape dengan mencari kos-kosan baru, cape dengan harus selalu mengurus ini dan itu untuk akademikku air mata ini tak membantu banyak hanya membuatku lelah,.. Lepas dari semuanya, aku ingin mengulangi…dari tahun 2004, aku ingin menikmati setiap detiknya maukah KAU mengajakku berkeliling ulang kemasa itu meski hanya mimpi, sekali saja ijinkan aku untuk menjejakkan kaki dirumahku, dirumah kita, saat masi ada mereka…saat masih utuh…saat aku merasakan jiwa ini penuh, saat aku memiliki rasa percaya diri yang luar biasa, saat aku tak perlu merasa minder, saat aku masi sangat bangga dengannya, saat aku masi bisa sangat manja dengan mereka, saat aku memiliki dunia dengan banyak warna, aku kangen masa itu, terlebih aku kangen berada disampingnya… sendiri, kamar, mengingat masa lalu tanpa rokok dan kopi (karena aku bukan pecandu rokok dan penikmat kopi)

Selalu Kembali Pulang

aku tumbuh semakin dewasa dirawat oleh pemilikku sepenuh cintanya, dari aku belum punya sayap yang kokoh sampai sekarang aku sudah bisa terbang… aku diajarinnya cara terbang, ketika aku lelah aku dimanjakannya, aku dipeluknya penuh cinta, aku menikmati kehangatan yang dia berikan untukku, aku menjadi makhluk paling beruntung. ketika telah tumbuh sayapku, pemilikku mulai rela melepasku terbang, awalnya aku tak berani terbang terlalu jauh dan tinggi, sesekali hanya terbang rendah dan berkeliling lalu aku pulang kembali ke peraduannya. aku semakin tumbuh, jadi makhluk yang dewasa, mandiri dan punya mimpi, sesekali aku juga kabur untuk terbang sebentar, pemilikku tak pernah tau itu, tapi aku cukup sadar diri, ketika waktu dan cuaca sudah tak lagi bersahabat aku bergegas pulang. suatu ketika pemilikku semakin ketat mengawasiku, dia berpikir aku sering terbang tanpa sepengatahuannya, dia mengurungku, dia menerapkan aturan yang rumit untukku, dia bilang terbang terlalu tinggi tak bagus buatku, dia juga bilang dunia luar kejam, tak pantas untuk seekor burung lugu sepertiku, aku diam..hanya diam...semuanya terekam jelas diingatanku, kata-katanya yang pedas, semakin menguatkanku..tetapi ketika hati dan logika ini saling bertentangan, ketika emosi dan keegoan aku tentang mimpi seekor burung yang punya sayap untuk bisa terbang lebih bebas, lebih tinggi dan lebih jauh dari bumi dan hampir menyentuh langit mencuat ke permukaan, aku tak peduli ketika pemilikku berseru, berteriak-teriak dari bawah menyuruhku pulang, aku tak peduli ketika hujan membantingku, ketika panas membakarku, ketika angin memporak-porandakan keseimbanganku, aku hanya ingin terbang menyentuh langit, aku hanya ingin memenuhi hasratku untuk terbang, tak usah berteriak memanggilku untuk pulang, aku ingat jalan pulang, aku tau rutenya, aku pasti pulang, bukankah selama ini pula aku selalu pulang padamu….aku pasti pulang padamu, karena ku tau kau pemilikku yang sesungguhnya, tanpamu aku tak akan bisa terbang sejauh ini….jangan khawatir aku pasti pulang, bagaimanapun juga aku hanya mahkluk lemah yang berdiri dengan kedua kakipun aku tak mampu tanpa adanya kasih sayangmu. maafkan aku untuk setiap kejadian yang membuatmu luka with Love “Na

Surat

Setiap hari aku melakukan rutinitas, entahlah ini kebiasaanku..menulis surat disaat subuh, menulisnya sepenuh hati dengan cinta dan senyum yang merekah, kebahagiaan yang merambat dari hati memberikan efek yang cerah pada wajah, lalu tak menunggu lama aku berlari kehalaman, masih gelap, masi terdengar suara adzan subuh ketika aku menaruhnya pada kotak surat depan rumah. perlu waktu untuk menunggu hingga pak pos mengambil suratnya, bisa saja tepat waktu atau seringkali terlambat, aku cukup puas..dan bahagia ketika pak pos mengangkat kotak suratku dan mengambil amplop berwarna berpita putih, selalu seperti itu setiap hari. lalu dimulai dari subuh aku menunggu, menunggu pak pos mengantarkan surat balasan untukku, sebentar-sebentar kutengok kotak suratku..hhhh..kosong, entahlah apakah suratku tak sampai atau belum sampai, atau sang penerima lagi enggan membalasnya, atau sang penerima lagi mempunyai urusan yang lebih penting daripada membalas suratku.. biasanya aku hanya perlu menunggu sebentar hingga pak pos mengantar surat balasan…segera setelah aku mendengar deru motor dan kotak surat dibuka…aku berlari keluar halaman menuju kotak suratku..hatiku selalu deg-degan…ah.ya…ini balasannya…dengan melihat amplopnya saja aku sudah tau, tanpa perlu aku membaca isinya, bagiku isinya tak penting, sekedar surat balasan ada itu sudah lebih cukup buatku, membuatku senang. rutinitas seperti ini tak pernah membuatku bosan, hingga tak terasa waktu menggiringku, aku menikmati ini, meski tak urung pula aku dibuatnya cemas, sampai berhari – hari aku tak dapat surat balasan, mondar-mandir menghampiri kotak surat membuatku sampai hapal berapa jejak langkah kaki yang kuperlukan, pak pos tak luput dari makian, kotak surat pun menjadi pelampiasanku. ah..sering pula aku dibuatnya begini, aku tau ada sesuatu yang terjadi jika kondisinya seperti ini, aku tak menyalahkan kotak surat dan pak pos, tapi aku menyalahkan diriku sendiri kenapa aku lemah, sehingga aku hanya bisa menunggu surat balasan datang….akh..terkadang aku ingin berbuat lebih. aku menikmati rutinitas ini, dan aku tak mau menghentikan ini, ketika jemariku bermain di tuts keyboard inipun aku sedang menulis surat padanya. aku tak sanggup jika kau sudah tak mampu dan tak mau membalasnya, yang kuperlukan disetiap hari hanya surat balasan, agar aku tau kalo kamu selalu baik-baik saja. kamar, sendiri, dan mengingatnya 15 des 21.35 with Love “Na

Wednesday, December 9, 2009

November

Hujan sore ini membuat udara rumahku menjadi dingin, tapi aku bahagia..aku suka hujan, sangat suka hujan, suka dengan aroma tanah basah, suka dengan bunyi air yang kadang diselingi suara angin...
memandangi hujan tak pernah membuatku bosan, ditemani lagu "selir hatinya-dewa" yang lagi booming, entah kenapa rasanya ringan banget.
Tiba-tiba tanganku tergerak untuk mengklik salah satu lagu ditumpukan file-file laguku
suara berat sedikit serak terdengar diantara petikan gitarnya...

`Andromeda`
Lihat dirimu
Tak Pernahkah kau sadari
Begitu tegar menjalani semua
Pedih dan Keluh
Tak Bisa Menghentikanmu
Terus Melangkah
Menyusuri hidup
Sungguh Kau membuatku ingin
Menemanimu setiap waktu
Tersenyumlah...
Lepaskanlah...
Karena kau memang tak pantas tuk bersedih
Biarkan semua seperti adanya...
Aku hanya ingin engkau tenang
Selamanya....


mendengarnya membuatku tersenyum, ingat saat itu, ingat dulu...kau masih sama
November selalu sama, Jatinangor-malam dan hujan...

dari sudut kecil kamarku, ingatanku melayang pada 10 tahun lalu...
bagiku dengan hanya mengingatnya pun sudah cukup.

by
Na