Wednesday, December 16, 2009
Roda
Selalu Kembali Pulang
aku tumbuh semakin dewasa dirawat oleh pemilikku sepenuh cintanya, dari aku belum punya sayap yang kokoh sampai sekarang aku sudah bisa terbang…
aku diajarinnya cara terbang, ketika aku lelah aku dimanjakannya, aku dipeluknya penuh cinta, aku menikmati kehangatan yang dia berikan untukku, aku menjadi makhluk paling beruntung.
ketika telah tumbuh sayapku, pemilikku mulai rela melepasku terbang, awalnya aku tak berani terbang terlalu jauh dan tinggi, sesekali hanya terbang rendah dan berkeliling lalu aku pulang kembali ke peraduannya. aku semakin tumbuh, jadi makhluk yang dewasa, mandiri dan punya mimpi, sesekali aku juga kabur untuk terbang sebentar, pemilikku tak pernah tau itu, tapi aku cukup sadar diri, ketika waktu dan cuaca sudah tak lagi bersahabat aku bergegas pulang.
suatu ketika pemilikku semakin ketat mengawasiku, dia berpikir aku sering terbang tanpa sepengatahuannya, dia mengurungku, dia menerapkan aturan yang rumit untukku, dia bilang terbang terlalu tinggi tak bagus buatku, dia juga bilang dunia luar kejam, tak pantas untuk seekor burung lugu sepertiku, aku diam..hanya diam...semuanya terekam jelas diingatanku, kata-katanya yang pedas, semakin menguatkanku..tetapi ketika hati dan logika ini saling bertentangan, ketika emosi dan keegoan aku tentang mimpi seekor burung yang punya sayap untuk bisa terbang lebih bebas, lebih tinggi dan lebih jauh dari bumi dan hampir menyentuh langit mencuat ke permukaan, aku tak peduli ketika pemilikku berseru, berteriak-teriak dari bawah menyuruhku pulang, aku tak peduli ketika hujan membantingku, ketika panas membakarku, ketika angin memporak-porandakan keseimbanganku, aku hanya ingin terbang menyentuh langit, aku hanya ingin memenuhi hasratku untuk terbang, tak usah berteriak memanggilku untuk pulang, aku ingat jalan pulang, aku tau rutenya, aku pasti pulang, bukankah selama ini pula aku selalu pulang padamu….aku pasti pulang padamu, karena ku tau kau pemilikku yang sesungguhnya, tanpamu aku tak akan bisa terbang sejauh ini….jangan khawatir aku pasti pulang, bagaimanapun juga aku hanya mahkluk lemah yang berdiri dengan kedua kakipun aku tak mampu tanpa adanya kasih sayangmu.
maafkan aku untuk setiap kejadian yang membuatmu luka
with Love
“Na
Surat
Setiap hari aku melakukan rutinitas, entahlah ini kebiasaanku..menulis surat disaat subuh, menulisnya sepenuh hati dengan cinta dan senyum yang merekah, kebahagiaan yang merambat dari hati memberikan efek yang cerah pada wajah, lalu tak menunggu lama aku berlari kehalaman, masih gelap, masi terdengar suara adzan subuh ketika aku menaruhnya pada kotak surat depan rumah.
perlu waktu untuk menunggu hingga pak pos mengambil suratnya, bisa saja tepat waktu atau seringkali terlambat, aku cukup puas..dan bahagia ketika pak pos mengangkat kotak suratku dan mengambil amplop berwarna berpita putih, selalu seperti itu setiap hari.
lalu dimulai dari subuh aku menunggu, menunggu pak pos mengantarkan surat balasan untukku, sebentar-sebentar kutengok kotak suratku..hhhh..kosong, entahlah apakah suratku tak sampai atau belum sampai, atau sang penerima lagi enggan membalasnya, atau sang penerima lagi mempunyai urusan yang lebih penting daripada membalas suratku..
biasanya aku hanya perlu menunggu sebentar hingga pak pos mengantar surat balasan…segera setelah aku mendengar deru motor dan kotak surat dibuka…aku berlari keluar halaman menuju kotak suratku..hatiku selalu deg-degan…ah.ya…ini balasannya…dengan melihat amplopnya saja aku sudah tau, tanpa perlu aku membaca isinya, bagiku isinya tak penting, sekedar surat balasan ada itu sudah lebih cukup buatku, membuatku senang.
rutinitas seperti ini tak pernah membuatku bosan, hingga tak terasa waktu menggiringku, aku menikmati ini, meski tak urung pula aku dibuatnya cemas, sampai berhari – hari aku tak dapat surat balasan, mondar-mandir menghampiri kotak surat membuatku sampai hapal berapa jejak langkah kaki yang kuperlukan, pak pos tak luput dari makian, kotak surat pun menjadi pelampiasanku. ah..sering pula aku dibuatnya begini, aku tau ada sesuatu yang terjadi jika kondisinya seperti ini, aku tak menyalahkan kotak surat dan pak pos, tapi aku menyalahkan diriku sendiri kenapa aku lemah, sehingga aku hanya bisa menunggu surat balasan datang….akh..terkadang aku ingin berbuat lebih.
aku menikmati rutinitas ini, dan aku tak mau menghentikan ini, ketika jemariku bermain di tuts keyboard inipun aku sedang menulis surat padanya. aku tak sanggup jika kau sudah tak mampu dan tak mau membalasnya, yang kuperlukan disetiap hari hanya surat balasan, agar aku tau kalo kamu selalu baik-baik saja.
kamar, sendiri, dan mengingatnya
15 des 21.35
with Love
“Na
Wednesday, December 9, 2009
November
Hujan sore ini membuat udara rumahku menjadi dingin, tapi aku bahagia..aku suka hujan, sangat suka hujan, suka dengan aroma tanah basah, suka dengan bunyi air yang kadang diselingi suara angin...
memandangi hujan tak pernah membuatku bosan, ditemani lagu "selir hatinya-dewa" yang lagi booming, entah kenapa rasanya ringan banget.
Tiba-tiba tanganku tergerak untuk mengklik salah satu lagu ditumpukan file-file laguku
suara berat sedikit serak terdengar diantara petikan gitarnya...
`Andromeda`
Lihat dirimu
Tak Pernahkah kau sadari
Begitu tegar menjalani semua
Pedih dan Keluh
Tak Bisa Menghentikanmu
Terus Melangkah
Menyusuri hidup
Sungguh Kau membuatku ingin
Menemanimu setiap waktu
Tersenyumlah...
Lepaskanlah...
Karena kau memang tak pantas tuk bersedih
Biarkan semua seperti adanya...
Aku hanya ingin engkau tenang
Selamanya....
mendengarnya membuatku tersenyum, ingat saat itu, ingat dulu...kau masih sama
November selalu sama, Jatinangor-malam dan hujan...
dari sudut kecil kamarku, ingatanku melayang pada 10 tahun lalu...
bagiku dengan hanya mengingatnya pun sudah cukup.
by
Na
memandangi hujan tak pernah membuatku bosan, ditemani lagu "selir hatinya-dewa" yang lagi booming, entah kenapa rasanya ringan banget.
Tiba-tiba tanganku tergerak untuk mengklik salah satu lagu ditumpukan file-file laguku
suara berat sedikit serak terdengar diantara petikan gitarnya...
`Andromeda`
Lihat dirimu
Tak Pernahkah kau sadari
Begitu tegar menjalani semua
Pedih dan Keluh
Tak Bisa Menghentikanmu
Terus Melangkah
Menyusuri hidup
Sungguh Kau membuatku ingin
Menemanimu setiap waktu
Tersenyumlah...
Lepaskanlah...
Karena kau memang tak pantas tuk bersedih
Biarkan semua seperti adanya...
Aku hanya ingin engkau tenang
Selamanya....
mendengarnya membuatku tersenyum, ingat saat itu, ingat dulu...kau masih sama
November selalu sama, Jatinangor-malam dan hujan...
dari sudut kecil kamarku, ingatanku melayang pada 10 tahun lalu...
bagiku dengan hanya mengingatnya pun sudah cukup.
by
Na
Subscribe to:
Posts (Atom)