Showing posts with label essay. Show all posts
Showing posts with label essay. Show all posts

Monday, April 3, 2017

Angkot dan Sebuah Harapan : Catatan Seorang Penumpang

Kamis 9 Maret 2017 lalu lintas Bandung tampak berbeda. Tak ada transportasi publik yang beroperasi. Angkot mogok. Ini sudah kesekian kalinya sejak hadirnya transportasi berbasis aplikasi online. Pemerintah Kota Bandung menghadirkan solusi untuk mengangkut para penumpang. Mobil-mobil dinas yang berada di kelurahan, di kantor kepolisian dan kantor dinas lainnya pun disulap menjadi kendaraan publik yang mengangkut anak sekolah, ibu-ibu yang hendak ke pasar, para karyawan dan mahasiswa.

Hari itu saya ingin menjadi bagian dari sejarah. Menyaksikan kota tanpa angkot melewati jalan-jalan di Bandung yang mendadak lengang. Tentunya saya menghindari titik demonstran berkumpul yakni Gedung Sate. Di mata saya hari itu Bandung seperti kota modern, yang maju warganya, dan disiplin. Tak terlihat kendaraan yang parkir sembarangan ataupun pengendara yang membuang puntung rokok atau botol minum mineral ke jalan juga mobil yang melaju dengan gaya zigzag.

Bertahun-tahun saya pengguna angkot, angkot menghadirkan banyak kenangan. Kenangan naik angkot ketika ibu dan kakak saya dijambret di daerah Ujung Berung jam dua siang bulan Desember tahun 2009. Gelang yang dipakai di pergelangan tangan ibu pun raib seketika. Sejak saat itu ibu saya trauma menaiki angkot. Atau ketika saya bersitegang dengan supir, gara-gara supir angkot merokok dan asapnya memenuhi ruangan penumpang. Saya menegur dengan sopan, dan supir angkot balas menghardik saya “naik taksi saja neng”, jika sudah begitu biasanya saya langsung berhenti dan keluar. Belum lagi angkot yang ngetem hingga beberapa jadwal yang sudah disusun pun gagal. Meski begitu angkot menjadi satu-satunya pilihan berkendara.

Thursday, September 15, 2016

Mereka tak pernah Menunda Pergi

Gambar dokumentasi pribadi,
"Perjalanan menuju timur" 24 Juni 2016, Tol Cipali
Dalam waktu dua minggu saya mendapat kabar duka dari dua orang teman. Seorang ibu yang ditinggalkan anaknya yang berusia 4 tahun, dan seorang anak yang ditinggalkan ibunya. Kehilangan selalu menyedihkan dan melahirkan beragam penyesalan. Penyesalan bisa berupa menyalahkan diri sendiri karena belum banyak hal yang bisa kita berikan pada mereka, ataupun juga tentang tingkah kita yang kadang menyakiti mereka.

Seringkali saya menyaksikan dari jauh tentang mereka yang sedang kehilangan. Ikut larut dalam kesedihan yang sedang mereka alami. Tak  berani mendekat, khawatir malah akan melemahkan mereka dengan beragam kata yang seringkali salah.

Teman saya yang ditinggalkan anaknya merasa ingin mati karena sudah tak ada lagi yang ia perjuangkan di dunia ini. Sambil menghisap rokok kuat-kuat ia bertutur dengan raut wajah yang sukar kutebak. Saya hanya bisa diam menyikapinya, tak ada kata yang bisa menabahkan jika seseorang sedang amat kehilangan.

Teman saya yang ditinggalkan ibunya menceritakan proses bagaimana ibunya tiada, jatuh di kamar mandi katanya, selang beberapa menit selepas mereka berdua tertawa di kamar tidur. Teman saya langsung membawa sang ibu ke UGD RS, di UGD seperti biasa selalu ada drama ekonomi. Apakah keluarga pasien yang sedang sekarat membawa uang atau tidak? Teman saya memaki-maki petugas UGD sambil menunjukkan dompetnya. Selamatkan ibu saya, saya mempunyai uang! Tindakan pun segera dilakukan, hanya satu kata kunci, uang!

Sunday, July 20, 2014

The Lady "Aung San Suu Kyi"



Setiap ibu akan melahirkan anak terbaiknya. Aung San Suu Kyi lahir dari perut ibu pertiwi Burma 19 Juni 1945. 2 tahun setelah kelahirnya, Ayahnya Aung San pejuang kemerdekaan meninggal di bunuh oleh rival politiknya. Suu kecil tak paham tentang kondisi, yang dia tahu bahwa sang pendongeng ketika malam menjelang dia tidur sudah tak ada lagi.

Burma adalah negara yang tidak ramah. Dominasi pemerintahan militer yang menghasilkan berbagai kebijakan dan menomorsatukan keamanan dan ketertiban mewarnai perjalanan Burma sehingga Burma terperangkap dalam keterasingan. Kekerasan terhadap rakyat sipil yang dilakukan militer banyak terjadi. Kekerasan antaretnik yang tak pernah berhenti juga menambah deretan masalah Burma.

Suu yang saat itu tinggal di London bersama suami Michael Aris dan 2 anaknya memutuskan pulang ke Burma karena ibunya sakit. Selama itu pula di depan mata kepalanya Suu melihat ketidakadilan. Penderitaan rakyat, ketakutan dan arogansi militer yang makin menjadi.

Kedatangan Suu seperti kedatangan malaikat bagi rakyat Burma. Mereka menaruh harapan agar Junta militer bisa segera selesai. Mereka menginginkan demokrasi, pemerintahan yang baru. Suu menyepakati itu, rasa cinta kepada tanah air memaksanya untuk ikut bertanggung jawab terhadap tetesan darah yang tercecer pada rakyat sipil akibat kekerasan militer.

Suu mulai bergerak. Membangun harapan, memupuknya dan berharap bisa memanennya. Suu sudah bertekad tidak melawan dengan kekerasan, yang dia miliki hanya keberanian dan harapan. Bebas dari ketakutan itu yang digelorakan kepada rakyat Burma. Perjalanannya tak mulus. Pihak pemerintah merasa terancam segala cara dilakukannya agar Suu berhenti dan tidak mendapat dukungan. Mulai dari dilarang bertemu dengan suami dan anak-anaknya hingga sampai penahanan rumah dan bahkan ini terjadi setelah partai yang didirikan Aung San Suu Kyi Liga Nasional Demokrasi memenangkan pemilu hingga 80%.

Suaminya Michael Aris tak tinggal diam. Dia mengusahakan Suu agar mendapat Nobel Perdamaian dengan harapan ketika Suu mendapat Nober tersebut, dunia akan mengakuinya dan berbuat sesuatu terhadap Suu yang ketika itu menjadi tahanan rumah. Tahun 1991 Suu meraih Nobel Perdamaian tapi itu tak merubah apapun. Burma seperti terisolasi. Gelombang demokratisasi di dunia seperti tak pernah terdengar di dunia. Globalisasi yang melanda dunia juga tak pernah menyentuh Burma. Burma tetap arogan. Dan dunia pun tak bisa berbuat apa-apa.

Hari paling kelam bagi Suu mungkin ketika suaminya meninggal, hilangnya sang pendongkrak semangat. Sebagai tahanan rumah Suu pun tidak bisa melihatnya. Di sini saya benar-benar yakin bahwa Pemerintahan Burma tak bernurani. Dengan 21 tahun penahanan Suu dengan 15 tahunnya sebagai tahanan rumah dunia pantas mensejajarkan Suu dengan Mandela dan Gandhi.

Bagi saya Suu bukan hanya sekedar inspirasi, tapi dia seperti lentera yang tak pernah padam.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Rena Asyari @Na_Asyari 
Cibiru 20 Juli 2014

Tulisan ini lahir setelah saya mengikuti acara Ramadan in Asean 19 Juli 2014 di Museum Konperensi Asia Afrika. Untuk Komunitas LayarKita saya haturkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Thursday, June 12, 2014

Sukarno dan Pemikirannya Tentang Islam


Sebuah Resensi ditulis pada 18 Mei 2014


Sukarno, namanya dikenal di nusantara. Tercatat dalam buku-buku sejarah sebagai proklamator, pembaca naskah proklamasi. Icon sebagai proklamator lebih melekat daripada pemikiran-pemikirannya, buku-buku sejarah bacaan wajib di sekolah tak pernah memberitahu tentang kegelisahan yang menjadi ide-idenya. Pemikiran Sukarno di berangus oleh zaman, orde baru mematikannya. Sejarah melupakannya.
Apa yang terserak baiknya dikumpulkan. Surat-surat dari Endeh ini salah satu bukti dari pemikiran-pemikiran Sukarno yang tersebar di banyak tempat. Bandung, Flores, Bengkulu tempat dia diasingkan.

Islam agama yang dianutnya, keresahannya akan islam membuat dia bertukar pesan kepada Tuan Hasan, seorang guru persatuan Islam di Bandung. Agama yang dianutnya itu dipelajarinya sendiri, ibunya yang seorang Bali dan ayahnya seorang Jawa tak banyak mempengaruhi pemikiran Sukarno tentang Islam.
Surat-surat dari Endeh ditulisnya sekitar tahun 1930an, saat itu ia diasingkan ke Endeh Flores. Ia didampingi istrinya Inggit Garnasih, anaknya Ratna Djuami dan ibu mertuanya.

Seperti tercatat dalam suratnya tertanggal 1 desember 1934, ia meminta kepada Tuan Hasan agar dikirimkan buku-buku tentang pengajaran shalat, utusan Wahabi, Al-Muctar, Debat Talqien, Al-Burhan Complete dan Al-Jawahir. Tuan Hasan pun menyanggupinya dan mengirimkan buku-buku yang diminta Sukarno.
Hal ini terlihat pada isi surat tertanggal 25 Januari 1935, Sukarno merasa sangat gembira. Kali ini Sukarno meminta buku “Bukhari dan Muslim”. Sukarno ingin mempelajari lebih rinci lagi tentang hadist, ini didasarkan pada kegelisahannya akan kondisi islam. Dia menerangkan bahwa kekunoan islam, kemesuman islam, ketahayulan orang islam berasal dari hadis-hadis yang lemah (dhaif) dan sayangnya hadis yang lemah itu kadang lebih laku dari ayat-ayat Al-Quran.

Monday, May 5, 2014

SIDHARTA GAUTAMA

Sebuah Resensi : Buddha, karya Karen Amstrong penerbit Bentang, tahun terbit 2003



Sidharta Gautama, begitulah namanya dikenal. Lahir di abad ke-6 sebelum masehi. Kegelisahannya akan hidup menggiringnya untuk mengembara, 29 tahun usianya waktu itu. Malam yang hening dan dingin menjadi pengiring langkahnya ketika meninggalkan Kapilawastu, istana tempat ayahnya Suddodana bertahta.

Kegelisahan pertamanya tentang hidup muncul ketika dia pergi bersama ayahnya melihat orang-orang berduyun dan berbahagia. Bunga-bunga bermekaran dan pepohonan yang memperlihatkan daun yang cerah. Lalu dia menepi di bawah pohon, dia melihat burung mematuk cacing tanah, seorang petani memukul lembunya, dan elang menukik ke arah burung. Dia berpikir bagaimana mungkin orang lain berbahagia sedangkan di situ juga ada penderitaan. Usianya 7 tahun kala itu. Gautama kecil mulai membawa kegelisahan pertamanya dalam hidup, mengapa manusia harus sakit, menderita, sedih, menua dan mati? Baginya hidup bagaikan sebuah samsara yang tak berujung yang selalu berputar dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya.

Gautama melahirkan filsafat perenial yaitu segala sesuatu yang kita alami ditiru dari contoh yang sempurna dari surga.  

Gautama mencari kondisi yang ideal, jika manusia hidup dalam penderitaan sengsara, maka ia pasti akan menemukan kebahagian dengan mencarinya sendiri tanpa minta bantuan Tuhan. Gautama mulai mencari nibbana. Nibbana merupakan pencapaian spiritual tertinggi, puncak pencerahan. Karena setelah nibbana ada masa parinibbana yaitu masa setelah meninggal. Nibbana adalah kondisi dimana manusia tidak mengalami sedih, tidak menua, tidak sakit, tidak lahir, tidak mati. Nibbana (nirvana) yang dimaksud tidak sama dengan yang sudah sering digambarkan mengenai surga. Nibbana tidak ada tanah maupun air, cahaya maupun api, tak ada ruang dan jumlah tak terhingga, bukan akal yang tak terhingga dan juga kehampaan sempurna merupakan gabungan matahari dan bulan. Nibbana merupakan unsur ketiga dari kesunyataan mulia yaitu tanpa roda, tidak sadar, penyatuan, tak terganggu tanpa penderitaan dan kedamaian. Nibbana juga merupakan kebaikan manusia dan dewa yang tertinggi, kedamaian dan tempat yang sangat tentram.

Thursday, January 2, 2014

Mandela Penyulut Semangat di Awal Tahun




Awal tahun selalu menyuguhkan harapan. Beragam cara orang-orang menyambut harapan itu, ada yang menikmatinya dengan pesta, arak-arakan, ingar bingar, dan banyak yang memilih dengan mendekati kesunyian, berharap kekudusan akan mendekatkan kita pada sang Pencipta.

Akhir tahun ini aku berkesempatan menonton film Soekarno, tokoh bangsa yang besar. Entah berapa lama lagi aku harus menunggu sosok Soekarno berikutnya, pemahaman dan pemikiran beliau yang besar mengantarnya menjadi tokoh yang diingat zaman.

Akhir tahun juga menyuguhkan banyak acara untuk dipilih. Aku memilih menghabiskannya di Museum Konperensi Asia Afrika, menghadiri gelaran Tribute to Mandela “Langkah menuju kebebasan”. 5 Desember lalu kita kehilangan Bapak Bangsa, Mandela. Dunia mengenal namanya, gaung kematiannya menelusup dalam rongga dada tak hanya bangsa Afrika, tapi beragam bangsa yang berbeda.

Festival Indonesia Mengajar (tentang pengabdian yang seharusnya)



Kali ini saya mengawali pagi dihantarkan semangat, kaki saya menapak dengan ringan menelusuri pagi yang belum tiba, masih terbalut pekat saya bergegas menuju peron stasiun. Argo Parahyangan menguap, kantuknya belum reda tetapi tugas telah memaksa matanya membuka. Tiba giliran berangkat pada jam keberangkatan pertama. 

Perjalanan tiga jam saya lewati dengan praduga. Menebak-nebak apa yang akan saya lakukan di sana. Ya.. saya menuju Ancol mengikuti acara Festival Indonesia Mengajar.

Indonesia Mengajar adalah gerakan yang di gagas Anies Baswedan untuk mengirimkan para pengajar muda ke daerah-daerah terpencil di nusantara.

Sebagaimana halnya perhentian, Gambir selalu menyuguhkan harapan. Langkah-langkah kaki tergesa menjejak menjemput pagi dengan optimis. Pk. 08.00 kereta berhenti tepat waktu. Saya bergegas menuju parkiran, menunggu Wira temanku untuk segera melanjutkan perjalanan ke Ancol.



Friday, November 22, 2013

Hawa



Suara daun, gemerisik angin, gelapnya cahaya menjadi pengantar suara-suara yang kita ucapkan hingga menggaung di angkasa. Langit menjadi atap kita sekaligus telinga yang tak bosan mendengar percakapan kita.

Kamu hadir tiba-tiba bersama surat imajiner yang dengan sengaja dikirimkan penjaga langit untukku. Aku merabamu dengan hati-hati, memperlakukanmu seolah kamu adalah barang pecah belah, menyentuhmu penuh rasa. Kamu hanya diam menikmati sentuhanku yang kutahu itu adalah sentuhan pertama yang kamu rasakan.

Kulitmu halus menyerupai kulitku, seluruh tubuhmu ku sentuh untuk meyakinkan bahwa kita serupa. Kamu menikmatinya, hingga tanpa terasa kamu pun mengikuti apa yang kulakukan. Kita saling menyentuh mengenali bentuk tubuh dan menamainya sesuka hati.

Thursday, August 29, 2013

Perjalanan Rasa : Pagoda Avalokitesvara



Hari masih pagi ketika kali pertama aku menjejakkan kaki di sini. Suara gesekan daun dari Pohon Bodhi terdengar riuh. Aroma mentari yang masih hangat masuk melalui pori-pori kulit. Kulihat beberapa burung pada ranting-ranting kecil dengan cicitnya yang cerewet menyapa pagi. 


Pagoda Avalokitesvara, begitu namanya. Cantik. Tempat ibadah umat Budha ini terletak di daerah Ungaran Semarang. Ada banyak rasa yang mampir. Kaget, senang, deg-degan, juga sedikit rasa takut. Aku mulai mengambil gambar. Ada 7 tingkatan yang menjulang ke atas. Aku mulai memasuki pelataran. Patung Budha berwarna kuning keemasan di bawah pohon Bodhi menjadi pusat pandangan mata. 2500 tahun lalu sang Budha Gautama bertapa di bawah Pohon Bodhi. Tahun 1955 cangkokan asli dari pohon Bodhinya Gautama ini ditanam di pelataran. 


Aku melihat kertas-kertas merah dengan huruf cina tergantung di ranting-rantingnya. kertas-kertas merah itu berisi permohonan dan harapan. 

Friday, August 2, 2013

Perempuan itu bernama Inggit



Kaki kecilnya berjalan menyusuri jalan tak beraspal sepanjang 5 km di bawah sengatan matahari. Badannya kurus kecil, dibalik stagennya ada buku yang sengaja disembunyikan untuk suaminya. Puasanya selama satu minggu berbuah hasil, badannya mengurus sedikit. Dengan mudah buku itu masuk ke dalam stagennya tanpa harus mengundang kecurigaan dari sipir penjara. Kuncup bibirnya merekah ketika satu langkah lagi dia tiba pada pintu penjara. Matanya berbinar menyiratkan kerinduan yang hampir surut jika saja waktu besuknya diundur.  Bertemu dengan Kusno itu adalah hal yang selalu dinantikannya. Kusno adalah belahan jiwa yang tengah larut dalam duka. Gelora perjuangan yang menggelegak dalam tubuh suaminya itu yang menyebabkan keadaanya kini. Kusno harus berada dalam sel berukuran 1x1 meter kecil dan lembab, hingga tidurpun harus dilakukannya tanpa posisi terlentang.
Dari penjara Banceuy Kusno dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Jaraknya makin jauh dari rumah, tapi demi sebuah kerinduan Inggit masih setia mengunjungi suaminya. Tak jarang Inggit pun berkirim surat cinta yang digulung dalam lintingan rokok untuk mengungkapkan kerinduannya. Dari Sukamiskinlah sejarah terlahir, pidato pledoi Soekarno yang terkenal dengan nama “Indonesia Menggugat”

Esensi Ramadhan untuk Bocah



Magrib hampir tiba. Seiring senja yang hendak larut, burung pun terbang rapi menuju sarangnya. Teriakan bocah di pekarangan masjid terdengar gaduh sekali. Keriangan mereka memuncak. Ekpresi yang tak tergambarkan ketika muadzin mulai melapalkan adzan.

Mereka berhamburan keluar dari lingkaran permainan. Bebelotan, boy-boyan, engklek, ucing sumput, gatrik, sapintrong dan berbagai jenis mainan anak sunda lainnya. Pekarangan Masjid ketika sore disulap menjadi taman bermain kanak-kanak tak berbayar. Mereka tak lagi peduli dengan siapa yang menang dan kalah. Berlarian menuju kantin depan masjid. Bagi mereka seteguk air limun lima ratus menjadi puncak kebahagian di hari itu.

Kantin abah penuh dengan bocah. Soun dan sambelnya, kurupuk, gorengan, urab, lotek menjadi menu istimewa ketika magrib hampir tiba. Tangan-tangan kecil berlomba membeli makanan, abah melayani dengan penuh senyum. “Allahumma laka sumtu wabika amantu...”, ujarnya dalam hati. Denting sendok segera beradu pada semangkuk kolak pisang. Keriaan yang tergambar pada wajah bocah seolah melengkapi pahala puasa hari ini. Mulut bocah-bocah itu penuh dengan makanan, setelah makanan kecil habis merekapun berlarian pulang untuk segera menandaskan apa yang tersisa di meja makan.

Wednesday, July 3, 2013

Simpati Untuk Sampang dan Bapak Presiden

Pagi ini ada gurat-gurat kecemasan dari tiap-tiap wajah bocah, perempuan-perempuan dan lelaki.  Mulut kami tak berhenti mengucapkan doa dan takbir. Pikiran kami melulu pada Tuhan dan kekasihNya. Tangan dan kaki kami berkeringat dingin dipenuhi dengan pikiran buruk yang sebenarnya tidak ingin kami pikirkan. Beberapa kilometer dari tempat kami berada, sekelompok orang sedang meluapkan kebencian melalui aksara. Kata-kata “mereka sesat” selalu disebutkan dan segera diamini oleh sekelompok massa yang kebanyakan masih sangat muda.

Masih terbayang di ingatan kami bagaimana pengusiran itu bermula 9 bulan lalu. Ketika rumah dan barang-barang kami habis dibakar massa, hanya karena kami berbeda. Bukan yang pertama kalinya dan sepertinya ini tidak jadi yang terakhir. Pengusiran dengan cara yang sama. Alasan relokasi yang berulang, sampai kami merasa bosan. Ya kami minoritas, meskipun mungkin banyak kesamaan antara kita.

Luka itu kembali menganga. Belum sembuh rasanya ketika kami harus kembali mengingat. Ketika itu mereka berjalan cepat ke arah kami, mengacung-acungkan senjata tajam dan berteriak “Allahu akbar”. Merangsek bergerak maju ke arah kami, mendobrak pintu, memecahkan kaca  dan menumpahkan bensin. Sebatang korek api pun menjadi tonggak pencerita sejarah. Asap-asap hitam segera mengangkasa, menitipkan cerita pada pohon-pohon dan atap-atap rumah yang dilaluinya, sebagai pertanda bahwa hari itu pernah ada. Rengekan bayi, tangisan perempuan, jerit ketakutan menghasilkan memar dan lumuran darah di kening para lelaki. Kami pergi dengan mobil pick up dan truk-truk yang sudah disediakan negara oleh kami. Kami harus merelakan rumah dan tanah yang kami beli dengan uang sendiri untuk tidak lagi kami tinggali. Kami pergi karena terusir dari rumah kami sendiri.



Tuesday, May 14, 2013

Ketika Kuantitas mendefinisikan Kenormalan

http://haritsaja.files.wordpress.com/2011/12/bodoh_dan_bingung1.jpg

Saya menulis, karena saya sudah terlalu gerah dengan suara-suara yang lantang meneriakkan kenormalan, dimasyarakat kita yang masih menganut sistem “keturunan” dan “konservatif”, sesuatu baru dianggap normal jika berjumlah banyak. Jika jumlahnya sedikit maka dia adalah abnormal.

Contoh, ketika perempuan menikah di usia 20 – 25 tahun maka dia dianggap normal, lebih dari usia diatas, suara-suara miring makin terdengar nyaring. Memang saya setuju bukan tanpa alasan kebanyakan orang menyuarakan agar menikah di rentang usia tersebut, masa produktif wanita yang terbatas adalah faktor utama kenapa menikah seperti sebuah perlombaan, berlomba-lomba memproduksi keturunan sebelum masa produksi habis.

Menikah bukan lagi upacara sakral, tapi sebuah upacara yang terburu-buru. Alasan pernikahan pun menjadi beragam, dari mulai ingin meningkatkan status sosial, ingin punya anak, takut tidak ada jodoh lagi, menghindari omongan kerabat dan tetangga, sampai status klasik yaitu ingin melegalkan cinta.

Definisi pernikahan di indonesia menurut UU no 1 tahun 1974 adalah “ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Definisi ini menurut saya terlalu sempit, dan terbatas. Yang kemudian tergambar oleh pasutri adalah terburu-buru membuat keturunan, tanpa menikmati arti ikatan tersebut. Dalam Undang-undang tersebut seolah dibenarkan jika pernikahan dengan paksaan, pernikahan dengan yang belum matang pun sepertinya dibolehkan, yang jelas disana hanya berdasarkan gender, ada pria ada wanita maka boleh menikah.

Sunday, April 21, 2013

Kartini


Ini tanggal 21 april, sebagian besar orang mengenalnya dengan hari kartini, pahlawan nasional ke-23, dan pahlawan perempuan ke-3 setelah Dewi Sartika dan Cut Mutia. Pada tanggal tersebut Kartini hadir di setiap sudut kota, di Taman Kanak-kanak, instansi-instansi pemerintah, sanggul dan kebaya menjadi ciri tentangnya. 

Buah pemikiran Kartini dewasa ini dipersempit sebatas penanda sanggul dan kebaya. Padahal yang dilakukan Kartini lebih dari sebuah pergerakan perang fisik, jika Cut Nyak Dien dan Keumala Hayati menjadi sosok yang muncul gemilang pada masanya karena melawan penjajah dengan perang, maka Kartini cukup berperang dengan pena-nya mendobrak sistem feodalisme pada masa itu. Kehampaan Kartini akan hidupnya jelas tergambar dari tulisan-tulisannya, jika saja Kartini diberi waktu hidup lebih lama mungkin saja pemikirannya tidak sebatas pemikiran tapi dia menikmati buah pikirannya itu, atau bisa saja sebaliknya, setelah pernikahannya dengan seorang bupati mungkin dia akan menjadi ibu rumah tangga biasa, sesuai sistem yang berlaku saat itu, dimana peran seorang istri sama halnya dengan budak.

Tuesday, August 7, 2012

Rama, Sinta dan Rahwana


Membaca ulang kisah klasik cerita ramayana, yang diambil dari kitab Mahabarata yang dikemas dan dituturkan secara apik juga indah oleh Sindhunata pada bukunya Anak Bajang Menggiring Angin, membuatku lebih banyak tahu dan belajar.

Siapa yang tidak mengenal Kisah cinta Rama – Sinta – Rahwana ini? Rama dan Sinta adalah icon untuk orang-orang yang berpasangan, tampan dan cantik, tutur kata dan tingkah lakunya baik, keduanya dari keluarga baik-baik, keduanya juga sama-sama keturunan ksatria, tetapi apakah mesti selalu begitukah konsep berpasangan?lalu bagaimana dengan kisah anak-anak Adam diawal-awal masa penciptannya Allah menyuruh untuk yang tampan berpasangan dengan yang jelek, Qabil yang tampan menikahi adiknya Labuda yang jelek, juga Iqlima yang cantik menikahi habil yang buruk rupa?


Monday, February 27, 2012

Festival Bambu Nusantara

Beberapa pekan lalu aku menyempatkan diri untuk datang ke festival bambu nusantara ke – 5 yang di gelar di sabuga ITB, meski tak tahu banyak tentang apa yang akan aku temui di sana. Di pintu masuk aku di sambut oleh suara angklung elektrik, tak perlu pemain hanya instrument angklung yang telah di program hingga bisa menghasilkan suara angklung yang khas.

Ada 2 panggung di sayap kiri dan kanan gedung, dan tentu saja panggung utama di dalam ruangan. aku berjalan sendiri menikmati berbagai macam alat-alat musik dari bambu, aku menuju panggung kiri menanti dengan sabar pertunjukan yang akan di mulai 15 menit lagi.

Sunday, January 1, 2012

Malam Pergantian Tahun



Malam ini gegap gempita. Tiap-tiap (sebagian) yang berdenyut di bumi merasakan euphoria. Setiap mata kita menyapu langit dari barat ke timur, lalu utara hingga selatan, bertebaran percikan-percikan api yang indah.

Suara guruh gemuruh petasan membangkitkan semua gendang telinga. Balita dan batita yang sedang lelap terbangun dan menangis kencang, berimbas kepada ibunya yang mau tak mau harus bekerja keras meninabobokan lagi. Kebanyakan orang rela berdesak-desakan, menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk larut dalam euphoria itu, tapi banyak juga yang apatis, merasa itu hanya perbuatan merugi, tak ada manfaatnya, dan merekapun menutup mata sebelum bel berpukul 12 kali.

Untuk kali ini aku masuk dalam golongan apatis. Aku tak suka ingar bingar, benci keramaian, benci asap rokok, tak suka dengan lengkingan terompet, suara teriakan orang, klakson kendaraan, angin malam. Jadi lebih baik menonton acara televisi dan tidur tepat jam 11 malam pada pergantian tahun kali ini.

Bodohkah orang-orang sepertiku??