Cinta itu kesepakatan, bukan sepihak apalagi diam.
Cinta itu tindakan, bukan hanya ragam kata.
Cinta yang tak mau melakukan apapun, itu adalah cinta yang paling lemah.
Dan cinta yang paling lemah adalah kesia-siaan jika memaksa dipertahankan.
Kita tak hidup pada jaman Sisifus yang melakukan kesalahan lantas dihukum.
Kamu bebas melakukan apapun, memilih, lalu mencampakkan ataupun sebaliknya, tak akan ada yang
menghukum kecuali dirimu sendiri.
Cinta yang benar tak hanya butuh ketenangan, apalagi menggenang. Ia perlu bergemuruh, karena gemuruhlah
yang melahirkan rindu juga anak-anak kasih lainnya.Gemuruhlah yang melahirkan kepedulian, juga
ketidakterimaan. Pendeknya, gemuruhlah yang melahirkan kehidupan.
Menjalani hidup dengan gemuruh tentu tak tenang. Tapi memilih cinta yang diam artinya memilih kesengsaraan.
Penderitaan yang sengaja dipelihara, lantas karena terbiasa penderitaan pun memjadi candu. Ini bukan sekali
dua terjadi, peradaban dibangun atas dasar candu pada siksaan.
Diantara sedikitnya kesenangan yang ditawarkan adalah masih tersisanya sebuah pilihan.
Berjalan dengan gemuruh, debur ombak dan menerjang badai untuk sampai di pulau berikutnya, atau hanya
diam, menunggu kesempatan. Kesempatan yang kerap kali tak mau mampir karena terlampau sungkan dirinya
tak pernah diminta untuk hadir.
Hidup itu pilihan. Pepatah ini basi!
Tak ada keterpaksaan, semuanya kesediaan. Begitu juga dengan ketidakbahagiaan, dan kesakitan. Mereka hadir
sebagai jawaban atas pilihan yang sudah kita sepakati. Tak ada orang lain mengambil peran. Hanya diri.
Kamu adalah pilihan
Kamu adalah kesempatan, tawaran.
Dulu aku tak perlu berpikir dua kali untuk mengambil tawaran tersebut.
Cukup sekali saja. Aku suka angka satu. Juga enggan untuk jadi yang kedua.
No comments:
Post a Comment