Friday, March 6, 2026

Intermitten Fasting dan Jalan Pagi

18 September 2025

Ini hari ke-8 aku menjalani puasa Intermitten Fasting (IF),  sebuah pola hidup yang sedang popular belakangan ini. IF yaitu berpuasa tanpa memasukkan makanan tapi boleh meminum minuman yang minim kalori. Air putih dan teh herbal tanpa gula. Aku memutuskan IF karena merasa badanku sudah tidak nyaman. Bukan hanya bentuk badań yang terasa tidak pas (baju dań celana sudah agak tidak muat) tapi perutku selalu terasa penuh, dań keluhan asam urat yang dialami setahun ini. 

Aku melaksanakan IF jendela 6. Jadi 18 jam berpuasa dan makan hanya 6 jam saja. Waktu makan kuatur hanya di waktu pk. 12.00 - 18.00, dan aku langsung melakukan OMAD, One Meal A Day. Yaitu konsep makan yang hanya makan berat dalam sehari satu kali saja (rencananya ini akan kulakukan 2-3 minggu). Cara ini disinyalir selain menyehatkan agar memberikan banyak ruang untuk organ-organ di perut kita bersih juga menyebabkan defisit kalori yang berujung pada menurunnya berat badan dengan lebih cepat. 

Hari pertama hingga hari ke-5 kujalani dengan biasa. Tak ada lapar ataupun keluhan sakit lainnya. Ternyata tubuhku mampu melakukannya. Ketidaksukaanku pada minuman manis sangat berguna hingga aku tidak mengalami “sakau gula”  (suatu istilah untuk kondisi menginginkan gula, karena terbiasa mengkonsumsi gula harían dalam batas normal). “Sakau gula” biasanya menyebabkan pusing, keliyengan, perut keroncongan, mata berkunang-kunang ketika berpuasa.


Pada hari ke-6 aku memutuskan puasa lebih jauh yaitu puasa 36 jam (baik dilakukan untuk detox tubuh minimal 1 bulan sekali). Aku baru mengetahui tentang manfaat puasa 36, 48 dan 72 jam, yang disinyalir bisa menyembuhkan segala macam penyakit bahkan autoimun dan cancer. Banyak sekali informasi tentang manfaat long fasting ini.  Ketika berpuasa minimal 24 jam, kondisi autophagi akan tercapai, yaitu terbentuknya sel-sel baru yang menggantikan sel-sel rusak di tubuh. Jadi tubuh seperti me-reset ulang, semacam cara mendetox tubuh, menurunkan inflamasi, serta peremajaan sel. Jadi jika dilakukan dengan konsisten kondisi tubuh ideal, sehat akan mudah terwujud dengan IF ini. Yoshinori Ohsumi memenangkan nobel prize dalam bidang psikologi atau pengobatan pada tahun 2016 atas penemuannya tentang mekanisme autofagi ini.  

Karena ini adalah pertama kalinya aku berpuasa panjang selama 36 jam hanya minum saja, maka aku sedikit antusias. Bagi tubuhku ternyata kondisi 24 jam berpuasa mudah tercapai, berlalu dengan baik tanpa ada keluhan sakit lainnya. Di jam ke 25, mentalku mulai terganggu, aku sibuk memikirkan waktu berbuka esok hari, akan makan apa dan sudah terbayang bagaimana rasanya. Hahaha…lucu juga ternyata pikiran ini hanya dipenuhi dengan makanan. Aku merasa puasa berdampak pada pikiran. Pikiran jadi tidak terlalu liar, tidak memikirkan banyak hal, jadi bisa fokus, sayangnya pada kasusku semua pikiran diambil alih untuk memikirkan makanan. Betapa rentannya aku terhadap makanan ternyata, aku jadi menyadari tiada kebutuhan manusia yang paling essential selain makanan. Semua hal menjadi tidak penting, menunggu waktu berlalu untuk segera makan besök. Kondisi ini sangat dimungkinkan karena aku belum terbiasa, dań masih sangat tergantung dengan makanan. 

Aku puasa 36 jam dari pk. 16.00 tanggal 16 september hingga berbuka di 2 hari kemudian 18 september pk. 06.00 hampir 40 jam berpuasa. Ketika tiba waktunya berbuka aku sempat bingung, apakah sekarang berbuka atau kulanjutkan karena ini masih terlalu pagi untuk makan. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk mendengarkan tubuhku yang mulai mual di jam 05.00, 1 jam sebelum buka. Aku khawatir akan menyebabkan kondisi yang lebih parah, namun sebenarnya itu adalah efek samping yang sering terjadi, karena tubuh sedang proses penyesuaian diri. Banyak juga yang sembuh dari maag dan gerd justru dengan puasa.

Akhirnya aku berbuka dengan sebutir telur. Aku memasukkan protein karena kalau makanan yang manis aku khawatir terjadi lonjakan gula daráh, karena transisi dari perut kosong puluhan jam ke adanya asupan makanan pertama kali. Satu jam kemudian aku mulai memakan buah-buahan yang mengandung mineral, gula dan lemak. 

36 jam berpuasa, aku tak menyangka tubuhku ternyata sangat bersemangat dan pikiran sangat jernih. Mood ku sangat bagus, kondisi mentalku sangat sehat. Katanya, ini juga efek dari puasa durasi lama, sehat fisik dan mental. Awalnya tak percaya, tapi setelah kujalani ternyata aku merasakannya. Kemudian aku baru makan besar di jam 12.00. Dan entah kenapa rasanya aku sangat gembira. Semenjak IF aku merasakan perubahan dalam caraku makan, rasanya lebih mindfull. Setiap suapan aku mengunyahnya pelan dan merasa terharu. Aku punya waktu untuk berterima kasih pada semua hal yang membuat makanan itu ada hingga terhidang di depanku. Untuk matahari, air, angin, hujan dan tanah yang sudah menyuburkan tanaman. Untuk petani, pedagang bahkan kurir pengantar makanan yang membuat semuanya menjadi hadir begitu saja dihadapanku.  Rasanya makan menjadi lebih pelan, tenang dan damai.

Selain IF, aku juga punya kebiasaan baru yang sudah kulakukan sekitar tiga minggu ini, yaitu jalan kaki di pagi hari sekitar 3.5 - 5 km atau kurang lebih 6000-8000 langkah yang bișa dilakukan 30 menit - 1 jam. 

Aku sangat gembira karena bisa melihat pemandangan. Rumah-rumah penduduk, sawah , matahari, langit, segala macam hewan juga bertemu warga melemparkan sensum ataupun menyapa warga. Hati ini rasanya penuh. Biasanya jika tidak menyusuri gang Melikan, Klaruwan, dań Jaten, aku hanya akan mengelilingi 10-13 keliling lapangan bola desa Klaruwan. Lapangannya bersih, rumputnya hijau, banyak pohon besar dengan bunganya yang cantik-cantik. 

Aku merasa hidupku sangat istimewa. Aku punya waktu luang di pagi hari, dan juga punya kesempatan untuk memberi perhatian pada tubuhku. Dengan jalan pagi, aku menyaksikan kebesaran dan kehadiranNya. Ada banyak sekali kelimpahan di sekitar kita. 

Sehat, syukur dan hati yang dipenuhi cinta itu adalah efek langsung yang kurasakan ketika menjalani akifitas jalan kaki dan intermitten fasting. Ini bukan hanya sebuah aktifitas, ini adalah sebuah experiment.  


  

No comments:

Post a Comment