Friday, March 6, 2026

Segala-galanya Ambyar - Mark Manson

 1 April 2024

Ini hari ke-20 berpuasa, suara hujan terdengar nyaring menyibak keheningan siang ini. Saya membaca kembali “Segala-galanya Akan Ambar” milik Mark Manson. Sebelumnya saya pernah membaca buku ini namun tidak selesai, karena melelahkan. Analogi-analoginya, bahkan lelucon yang dibuat Mark bagiku terlalu berat. 

Setelah membaca buku Eckhart Tolle yang berjudul “The Power of Now-Perjalanan Menuju Pencerahan Spiritual”, saya jadi mempunyai perspektif yang berbeda pada setiap buku, khususnya buku mengenai spiritualitas. Saya diajak mengenal kesadaran dan diri sendiri. Bahkan sekarang, saya dapat menikmati membaca terjemahan Al-Quran, memahami isinya dengan lebih terang. Pemahaman baru tentang kesadaran meniadakan ketakutan dan meluaskan pamahaman tentang teks-teks Al-Quran yang berisi penuh petunjuk tentang hidup dan kehidupan. 

“Segala-galanya Ambyar” mula-mula bercerita tentang Pilecky sosok heroik dari Polania yang punya keberanian luar biasa untuk menyelamatkan tahanan-tahanan Nazi di Auszwich. Meskipun upayanya tidak berhasil namun perbuatannya yang “gila” tersebut dapat menjadi lucutan bagi setiap yang hidup untuk tidak pernah takut menghadapi kematian karena setidaknya telah melakukan sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Pilecky gembira menghadapi hukuman matinya. 

Dalam paragraf berikutnya, Mark ingin memberitahukan bahwa sebenarnya manusia tidaklah penting, manusia hanyalah debu kosmis di semesta ini. Seringkali manusia terjebak dalam Ilusi pikirannya yang membuat ia harus mewujudkan ilusi-ilusi tersebut dalam keseharian. Biasanya wujud dari ilusi pikiran itu akan dimanifestasikan melalui eksistensinya, karena eksistensi adalah ego manusia yang sangat purba. Eksistensi ini menjadi sumber masalah dan penderitaan bagi kehidupan mereka sendiri. Jika mengingat bahwa manusia hanyalah debu kosmis maka tidak ada makna apapun dalam eksistensi manusia.


Menurut Mark, semesta yang maha ini tidak peduli dengan pencapaian-pencapaian yang manusia alami. Misalnya berhasil masuk universitas favorit, menduduki jabatan tinggi, berpenghasilan besar, bahkan operasi gigi yang kita lakukan atau pengobatan yang sedang dijalani oleh ibu kita. Semesta tak peduli dengan itu semua. Ia tetap berjalan dan hidup tanpa terpengaruh dengan eksistensi manusia. Yang peduli dengan kejadian-kejadian di atas hanyalah kita, manusia yang selalu merasa butuh menganggap penting hal-hal tersebut. Ini dilakukan untuk menghindari sebuah kebenaran yang menggelisahkan, yang menyakitkan, yang tidak bisa dihindari oleh hampir seluruh dari kita. Kebenaran tersebut seperti kematian, kehancuran, kebangkrutan, kegagalan.

Manusia menganggap penting kejadian hanya agar mereka mempunyai harapan. Padahal sebenarnya diri sejati mereka tahu tentang ketidakperluan memiliki harapan karena kehidupan bekerja secara alami, dengan rumus yang pasti. 

Karena segala-galanya akan ambyar jadi untuk apa melakukan sesuatu? Tanya Mark. Dalam kebenaran, ketiadaan harapan adalah keniscayaan. Jika manusia bisa meniadakan harapan maka ia akan mencapai kebahagiaan. Namun yang terjadi malah sebaliknya, memerangkap diri dalam harapan agar bisa terus hidup demi esok yang lebih baik. Dengan menggenggam harapan berarti kita selalu membohongi diri sendiri.

Bagi manusia yang mendamba harapan maka ketiadaan harapan adalah petaka, sumber yang akan menyebabkan penderitaan. Kecemasan, ketakutan, depresi, kegilaan yang sudah dibangun beribu-ribu tahun ini membuat manusia jatuh ke lubang yang sama. Hidup hanya menjadi sebuah repetisi. Sumber kegilaan manusia yang tergila-gila pada harapan adalah pikiran. Pikiran selalu bekerja, cepat dan keras, tanpa sadar memanipulasi manusia agar lupa dengan kebenaran. 

Mark mencontohkan manipulasi pikiran. Kita selalu ingin membuktikan pada seseorang bahkan pada orang yang sudah meninggal bahwa kita tumbuh menjadi sosok sukses. Jika disadari segala yang kita lakukan tidak terhubung dengan mereka, itu semua hanya asumsi dan ilusi pikiran. Pikiran tidak hanya memaksa kita untuk menanamkan harapan tapi juga memberi makna pada setiap hal. Jika dikaitkan dengan kebenaran, makna dan harapan itu hanya diada-adakan saja. 

Manusia membutuhkan harapan untuk menguatkan dirinya. Jika kembali pada penjelasan Eckhart Tolle hal ini terjadi karena manusia sudah terlalu jauh dari diri sejatinya hingga ia kehilangan arah. Ini terjadi karena manusia membangun keberjarakan dari diri sejatinya. Membangun megah istana di luar diri, tanpa sadar diri sejatinya sangat keropos, dingin, gelap, suram. Mereka yang berhasil membangun kemegahan itu nampak gemilang namun sesungguhnya itu adalah bangunan yang sangat rapuh.

Ketika di hadapkan pada kebenaran semesta, manusia cenderung ketakutan hingga akhirnya mencari pegangan pada agama. Agama setidaknya adalah produk yang memenuhi ekpektasi mereka, produk yang penuh dengan harapan.

Sebenarnya ketika kita ketahui tentang kebenaran mąką menghadirkan harapan-harapan yang lestari juga tak apa. Harapan yang berdasar pada akal sehat dan kenyataan. Harapan yang sejalan dengan kebenaran.

Hari ini dunia berada pada tingkat kemajuan tertinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun kemajuan ini tidak membuat manusia optimis bahkan banyak yang depresi, putus asa hingga mengakhiri hidup. Mengapa hal ini bisa terjadi? 

Di tengah kemajuan teknologi dan peradaban seharusnya manusia bisa hidup aman dan nyaman. Tingkat kematian rendah, barang mudah didapatkan, keamanan terjaga (minim peering). Dengan harapan yang terus dipupuk ternyata tidak mampu membuat manusia ada di level menikmati hidup, mengapa?

Membangun dan merawat harapan menurut Mark setidaknya harus punya tiga hal: kesadaran akan kendali, kepercayaan akan nilai sesuatu, dan sebuah komunitas. Kendali, nilai dan komunitas.

Sebuah asumsi klasik yang perçaya bahwa akal kita dapat memegang kendali hidup secara penuh dan bahwa kita harus melatih emosi kita agar hidup berjalan sesuai harapan. Kenyataannya tidak seperti itu, hidup tidak akan berjalan baik kalau hanya menggunakan akal tanpa melibatkan emosi. Meskipun seringkali emosi adalah biang masalah yang menyebabkan penyesalan atau penderitaan, namun tanpa hadirnya emosi, akal saja ternyata tidak bisa menjalankan perannya untuk mengendalikan hidup. Keduanya harus berjalan beriringan di satu area yang dinamakan kesadaran. 

Kesadaran ini natural sekali, karena kebanyakan orang tidak sanggup mencapai titik ini. Orang-orang yang punya tujuan hidup tentang pemuasan diri menggunakan asumsi-asumsi yang hanya menguntungkan diri sendiri yang menyebabkan prinsip dan keyakinan hilang. 

Ketidakssanggupan manusia untuk mencapai titik kesadaran itu juga dikarenakan ketergantungan mereka pada apapun, narsisme dan ketertekanan. Orang-orang seperti ini sangat mudah dimanipulasi oleh siapapun atau oleh kelompok apapun. Orang-orang ini hanya ingin bersenang-senang mengejar kekuasaan bahkan dengan teori keintelektualitasannya mereka memperbolehkan kekerasan, pelecehan, mereka mengejar kebencian karena kebencian memberikan kepuasan dan keyakinan diri ekstra.

Orang-orang yang tidak mencapai kesadaran akan mengingat sesuatu yang di luar dirinya. Target tersebut akan membuat ia merasa secara moral lebih unggul, lantas ia akan menghancurkan orang lain dan menaklukan dunia di luar dirinya agar hatinya puas. Sekali ia terperosok maka susah untuk membawa ia ke permukaan. Ketidaksadaran akan membuat membuat seseorang berada di sindrom stockholm (tidak mampu lagi membayargkan adanya kehidupan lain), membuatnya tidak memiliki indentitas lagi karena disetir oleh emosi. 

Pembacaan buku Mark belum tuntas, tapi saya sudah mendapat spirit tentang keharusan untuk memaknai ulang kehidupan. Hidup seharusnya rangkaian peristiwa yang membahagiakan karena terlahir saja sudah keajaiban, namun makna hidup menjadi sangat dangkal bahkan ingin segera diakhiri karena menjadi serentetan duka tak berkesudahan. 

Eckhart Tolle dan Mark menjembatani umat manusia yang ingin mengubah persepsi tentang hidup yang seluruhnya hanya tentang menikmati semua yang ada di semesta ini.  


1 comment:

  1. Trims sudah berbagi tulisan keren ini kakak Rena.

    ReplyDelete