Saya pernah mengalami malam-malam yang mengerikan. Tubuh
saya di lumat habis oleh binatang buas, kuku-kuku hitamnya mencengkram tangan
dan kaki saya. Dengusan yang keluar dari hidungnya sungguh membuat saya muak.
Saat itu saya seringkali berdoa bahwa kematian telah dekat, tapi ternyata
sepertinya saya mencintai hidup lebih besar daripada saya mendamba kematian.
Binatang buas itu tak segan-segan membunuh mangsanya,
gigi-giginya yang tajam dia pakai untuk mengunyah tanpa sisa daging
santapannya. Seringkali saya mengecohnya dengan menyuguhkan musik-musik
pencipta kedamaian. Rileksasi music, itu judul aplikasi yang saya download dari
smartphone, berharap music bisa menenggelamkan segala hal dan kepenatan, atau
juga barangkali menenggalamkan rembulan agar lebih cepat pulang.
Pada pagi yang masih ranum, saya mendapati binatang buas itu
tertunduk lesu. Gigi tajamnya menguning, matanya sayu, kulitnya kusam, impoten,
begitu saya menamainya. Saya dekati dia perlahan sambil berjaga-jaga membawa
cemeti dan parang. Dia tak bereaksi. Lalu saya ayunkan cambuk berkali-kali pada
badannya, dia merintih kesakitan. Saya seperti kurang waras, saya terus cambuki
dia sambil mengucapkan sumpah serapah, saya menangis hebat. Menangisi duka yang
berkepanjangan selama ini, menangisi malam-malam yang telah di rampas dengan
paksa, menangisi tubuh saya yang telah ditindihnya setiap malam.