Tuesday, May 12, 2015

Sebuah Perayaan



Saya pernah mengalami malam-malam yang mengerikan. Tubuh saya di lumat habis oleh binatang buas, kuku-kuku hitamnya mencengkram tangan dan kaki saya. Dengusan yang keluar dari hidungnya sungguh membuat saya muak. Saat itu saya seringkali berdoa bahwa kematian telah dekat, tapi ternyata sepertinya saya mencintai hidup lebih besar daripada saya mendamba kematian. 

Binatang buas itu tak segan-segan membunuh mangsanya, gigi-giginya yang tajam dia pakai untuk mengunyah tanpa sisa daging santapannya. Seringkali saya mengecohnya dengan menyuguhkan musik-musik pencipta kedamaian. Rileksasi music, itu judul aplikasi yang saya download dari smartphone, berharap music bisa menenggelamkan segala hal dan kepenatan, atau juga barangkali menenggalamkan rembulan agar lebih cepat pulang.

Pada pagi yang masih ranum, saya mendapati binatang buas itu tertunduk lesu. Gigi tajamnya menguning, matanya sayu, kulitnya kusam, impoten, begitu saya menamainya. Saya dekati dia perlahan sambil berjaga-jaga membawa cemeti dan parang. Dia tak bereaksi. Lalu saya ayunkan cambuk berkali-kali pada badannya, dia merintih kesakitan. Saya seperti kurang waras, saya terus cambuki dia sambil mengucapkan sumpah serapah, saya menangis hebat. Menangisi duka yang berkepanjangan selama ini, menangisi malam-malam yang telah di rampas dengan paksa, menangisi tubuh saya yang telah ditindihnya setiap malam.

Thursday, May 7, 2015

Perjalanan nikmatilah, selayaknya hidup!



Pesona Kota Tua akan membius para pengunjungnya, kecuali memang ketika Kota Tua menjadi tempat menyedihkan seperti berpisahnya dengan mantan pacar. Kota Lama Semarang, Daerah Cagar budaya Braga Bandung, dan Kota Tua Jakarta, bagi saya ketiganya memancarkan pesona yang sama. Eksotis.

Kota Lama Semarang agak kurang terawat, kita digiring pada bangunan-bangunan lama yang sekarat, melepuh dindingnya, pemandangan yang menyedihkan. Keperkasaan bangunan Belanda hilang ditelan usia, harga dirinya luluh lantak, pada akhirnya bangunan-bangunan saksi sejarah itu harus merelakan dirinya disetubuhi oleh tinta, cat dan tulisan-tulisan tak masuk akal. Memang ada beberapa bangunan yang masih difungsikan tapi kecantikannya pudar, seperti laki-laki yang ditinggal istrinya selingkuh.