Sebuah Resensi ditulis pada 18 Mei 2014
Sukarno, namanya
dikenal di nusantara. Tercatat dalam buku-buku sejarah sebagai proklamator,
pembaca naskah proklamasi. Icon sebagai proklamator lebih melekat daripada
pemikiran-pemikirannya, buku-buku sejarah bacaan wajib di sekolah tak pernah
memberitahu tentang kegelisahan yang menjadi ide-idenya. Pemikiran Sukarno di
berangus oleh zaman, orde baru mematikannya. Sejarah melupakannya.
Apa yang
terserak baiknya dikumpulkan. Surat-surat dari Endeh ini salah satu bukti dari
pemikiran-pemikiran Sukarno yang tersebar di banyak tempat. Bandung, Flores,
Bengkulu tempat dia diasingkan.
Islam agama yang
dianutnya, keresahannya akan islam membuat dia bertukar pesan kepada Tuan
Hasan, seorang guru persatuan Islam di Bandung. Agama yang dianutnya itu
dipelajarinya sendiri, ibunya yang seorang Bali dan ayahnya seorang Jawa tak
banyak mempengaruhi pemikiran Sukarno tentang Islam.
Surat-surat dari
Endeh ditulisnya sekitar tahun 1930an, saat itu ia diasingkan ke Endeh Flores.
Ia didampingi istrinya Inggit Garnasih, anaknya Ratna Djuami dan ibu mertuanya.
Seperti tercatat
dalam suratnya tertanggal 1 desember 1934, ia meminta kepada Tuan Hasan agar
dikirimkan buku-buku tentang pengajaran shalat, utusan Wahabi, Al-Muctar, Debat
Talqien, Al-Burhan Complete dan Al-Jawahir. Tuan Hasan pun menyanggupinya dan
mengirimkan buku-buku yang diminta Sukarno.
Hal ini terlihat
pada isi surat tertanggal 25 Januari 1935, Sukarno merasa sangat gembira. Kali
ini Sukarno meminta buku “Bukhari dan Muslim”. Sukarno ingin mempelajari lebih
rinci lagi tentang hadist, ini didasarkan pada kegelisahannya akan kondisi
islam. Dia menerangkan bahwa kekunoan islam, kemesuman islam, ketahayulan orang
islam berasal dari hadis-hadis yang lemah (dhaif) dan sayangnya hadis yang
lemah itu kadang lebih laku dari ayat-ayat Al-Quran.
Pada surat
tanggal 17 Juli 1935, Sukarno mengeluh bahwa di Endeh tidak ada yang bisa dia
tanyai, semuanya hanya bertaqlid saja, ada sedikit orang terpelajar di Endeh
tapi pengetahuannya tidak memuaskan. Sukarno berujar “bisakah satu masyarakat
menjadi hidup, menjadi bernyawa kalau masyarakat itu hanya dialaskan saja
kepada artikel ini dan artikel itu?masyarakat yang demikian akan segeralah
menjadi masyarakat mati, masyarakat bangkai, masyarakat yang bukan masyarakat”.
Begitu pula dengan dunia islam yang sekarang ini setengah mati, tiada ruh,
tiada nyawa, tiada api, karena umat islam sama sekali tenggelam di dalam “kitab
fiqih” itu, tidak terbang seperti burung garuda di atas udara-udaranya agama
yang hidup.
15 September
1935, Sukarno kembali mengirim surat kepada Tuan Hasan. Sukarno bercerita bahwa
dia mendapatkan hadiah beberapa brosur, isi brosur tersebut tentang kongres
Palestina. Menurutnya, kongres di Palestina tidak mampu menangkap “Center Need
of Islam”. Di Palestina orang tak bisa lepas dari “convensionalism” hal ini
membawa islam pada kemunduran. Di Palestina terlalu “carressing each other”
orang terlalu “menutup pantat satu sama lain”. Hal ini sesuai dengan gambaran
islam sekarang, islam kurang ruh yang nyata, kurang tenaga yang wujud, terlalu
“bedak membedaki satu sama lain”, terlalu membanggakan sesuatu negerti islam
yang ada sedikit berkemajuan. Orang islam biasanya sudah bangga kepada Mesir
dan Turki terlalu mengutamakan pulasan-pulasan yang sebenarnya tiada bertenaga.
Soekarnoo juga tidak sependapat dengan Tuan A.D Hasnie dan Moh. Ali yang menerangkan
bahwa demokrasi parlementer itu menyelamatkan dunia, padahal menurut Sukarno
ada cara pemerintahan yang lebih sempurna lagi yang juga bisa dicocokkan dengan
azas-azasnya islam.
Sukarno juga
mengungkapkan bahwa Flores merupakan “pulau missi”. Missi di Flores telah
mengkristenkan sebanyak 250.000 orang, mereka bekerja mati-matian, tapi berapa
orang yang bisa di mualafkan oleh Islam?Kita banyak mencela kaum missi, tapi
apa yang telah kita kerjakan untuk menyebarkan dan memperkokoh agama islam?
Bahwa missI mengembangkan roomskatholicisme
itu adalah hak mereka, yang tak boleh kita cela dan gerutui. Tapi “kita”,
kenapa “kita” malas, kenapa “kita” teledor, kenapa “kita” tak mau kerja?kalau
dipikirkan memang semua itu salah “kita” sendiri bukan orang lain. Pantas Islam
selamanya dihinakan orang! Tulisnya pada Tuan Hasan.
14 Desember
1936, Sukarno kembali menulis surat. Sukarno berpendapat bahwa taqlid merupakan
salah satu penyebab terbesar dari kemunduran islam sekarang ini. Tak heran di
mana genius dirantai, di mana akal pikiran diterungku, disitulah datang
kematian. Menurutnya kiai dan ulama kita tak ada sedikitpun “feeling” kepada
sejarah, mereka hanya punya minat pada “agama khusus” saja, terutama bagian
fiqih. Sejarah dan ilmu yang mempelajari kekuatan-kekuatan masyarakat yang
menyebabkan kemajuan atau kemunduran suatu bangsa sama sekali tak menarik untuk
mereka pelajari. Mereka hanya mengetahui tarikh islam saja dan inipun diambil
dari buku-buku tarikh islam yang kuno, yang tak dapat tahan dengan ilmu pengetahuan
modern. Bahwa dunia islam laksana bangkai yang hidup, semenjak ada anggapan
bahwa mustahil ada mujtahid yang bisa melebihi “imam yang empat”, jadi harus
mentaklid saja kepada tiap tiap kiai atau ulama dari suatu mazhab Imam yang
empat itu. Alangkah baiknya kalau kita punya pemuka agama melihat garis ke
bawahnya sejarah semenjak ada taqlid-taqlidan itu, dan tidak hanya mati-hidup,
bangun-tidur dengan kitab fiqih dan kitab parukunan saja. Begitulah tulisnya.
Islam harus
berani mengejar zaman. Itulah pemikirannya yang tertulis pada surat tertanggal
22 Pebruari 1936. “Bukan seratus tahun tapi seribu tahun Islam ketinggalan
zaman. Kalau islam tidak cukup mampu untuk mengejar ketertinggalan itu, maka
islam akan tetap hina dan mesum. Bahkan kembali kepada Islam-glory yang dulu
bukan kembali kepada zaman khalifah, tetapi lari kemuka, lari mengejar zaman.
Sekarang tahun 1936, dan bukan 700 atau 800 atau 900?Masyarakat bukan satu
gerobak yang boleh kita kembalikan semau-mau kita? Masyarakat minta maju, maju
ke depan, maju ke muka, maju ke tingkat yang kemudian dan tak mau disuruh
kembali. Alangkah baiknya, bahwa di dalam urusan dunia, kita boleh berqias,
boleh berbid’ah, boleh membuang cara-cara dulu, boleh mengambil cara-cara baru,
boleh beradio, boleh berkapal-udara, boleh berlistrik, boleh bermodern, boleh
berhyper-hyper modern. Perjuangan menghantam ortodoxie ke belakang, mengejar
zaman kemuka. Perjuangan inilah yang Kemal Ataturk maksudkan, tatkala ia
berkata bahwa Islam tidak menyuruh orang duduk termenung sehari-hari di dalam
mesjid memutarkan tasbih, tetapi islam adalah perjuangan. Islam is progress.
Islam itu kemajuan.
Kegelisahannya
akan Islam kembali ia utarakan dalam suratnya 22 April 1936 kepada Tuan Hasan.
Sukarno menyarankan kepada Tuan Hasan yang memiliki pesantren agar memasukkan
kurikulum islam science, tidak hanya al-quran dan hadis saja yang dipelajari.
Menurutnya kalau tak tahu biologi, ekonomi, tak tahu positif dan negatif, tak
tahu aksi reaksi, bagaimana orang bisa mengerti firmanNya “Kamu melihat dan
menyangka gunung-gunung itu barang keras, padahal semua itu berjalan selaku
awan, dan bahwa sesungguhnya langit-langit itu asal mulanya serupa zat yang
bersatu, lalu kami pecah-pecah dan kami jadikan segala barang yang hidup
daripada air” kalau tak mengerti sedikit astronomi? Danbagaimanakah
meriwayatkan tentang Iskandar Zulkarnaen kalau tidak mengetahui sedikit histori
dan arkheologi? Lihatlah blunder-blunder islam sebagai Sultan Iskandar atau
Raja Firaun yang satu atau perang badar yang membawa kematian ribuan manusia
hingga orang berenang di lautan darah, semua itu karena kurang penyelidikan
histori dan scintific feeling.
Ribuan orang
Eropa masuk islam karena mubaligh-mubaligh yang menghela mereka itu ialah
mubaligh-mubaligh yang modern dan scientific dan bukan mubaligh-mubaligh “ala
hadramaut” atau “kiai bersorban”. Jika islam di propagandakan dengan cara yang
masuk akal dan up to date, seluruh dunia akan sadar kepada kebenaran islam itu.
Apa sebabnya kaum terpelajar Indonesia umumnya tak senang Islam? Sebagian besar
karena Islam tak mau membarengi zaman, dan karena salahnya orang-orang yang
mempropagandakan Islam. Mereka kolot, mereka ortodox, mereka anti pengetahuan
dan memang tidak berpengetahuan, tahayul, jumud, menyuruh orang bertaqlid, menyuruh
orang percaya begitu saja. Bagi saya anti taqlidisme bukan saja kembali kepada
Al-quran dan hadis tetapi kembali kepada Al-quran dan hadis dengan kendaraan
ilmu pengetahuan.” Sukarno pun mengakhiri tulisannya.
12 Juli 1936,
Sukarno bercerita bahwa dia sedang menterjemahkan buku bahasa Inggris yang
mentarikhkan Ibnu Saud, buku biografi yang bagus, Sukarno ingin buku tersebut
di baca oleh orang Indonesia agar bisa mendapat inspirasi. Insipirasi bagi kaum
muslimim yang masih belum mengerti betul-betul perkataan Sunnah nabi yang
mengira bahwa Sunnah nabi saw itu hanya makan kurma di bulan puasa, celak mata
dan memakai sorban saja.
Kembali Sukarno
menulis surat pada Tuan Hassan, 18 Agustus 1936. Sukarno berujar bahwa rakyat
Indonesia terutama kaum intelegensia sudah mulai banyak yang senang membaca
buku-buku bahasa sendiri yang “matang”, yang “trought”. 95% perpustakaan
Indonesia hanya mempunyai buku-buku yang tipis saja, dan brosur-brosur. Betapa
pentingnya perpustakaan kita mempunyai buku-buku sendiri, bukan hanya buku
asing. Ideologi islam yang kita miliki bukan berarti kita harus mengkopi 100% kehidupan
pada zaman Rasulullah karena masyarakat itu barang yang tidak diam, hidup,
mengalir, dinamis, maju dan berevolusi. Kita terlalu royal dengan perkataan
kafir, gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap kafir, pantaloon,
dasi dan topi kafir, radio dan kedokteran kafir, pengetahuan barat kafir,
tulisan latin kafir, sendok dan garfu kafir, bergaul dengan bangsa yang bukan
islampun kafir. Padahal apa-apa yang kita namakan islam?bukan ruh islam yang
berkobar-kobar, bukan api islam yang menyala-nyala, bukan amal islam yang
mengagumkan tetapi dupa dan korma, jubah dan celak mata, jubah yang panjang dan
memegang tasbih yang selalu berputar. Inikah Islam?inikah agama Allah?
Islam is
progress. Progress berarti barang baru yang lebih sempurna, yang lebih tinggi
tingkatannya daripada barang yang terdahulu. Kreasi baru, bukan mengulangi
barang yang dulu, bukan mengkopi barang yang lama. Tidakkah zaman sendiri
membuat sistem-sistem baru yang cocok dengan keperluan zaman itu sendiri? Apa
yang kita catat dari kalam Allah dan sunnah rasul itu? bukan apinya, bukan
nyalanya, bukan flamennya, tetapi abunya, debunya, absesnya. Abunya berupa
celak mata dan sorban, abunya yang mencintai kemenyan dan tunggangan unta,
abunya yang bersifat islam mulut, abunya yang Cuma tahu baca al-fatihah dan
tahlil saja, dan bukan apinya yang menyala-nyala dari ujung zaman ke ujung
zaman yang lain. Tarikh islam yang kita baca tidak bisa menunjukkan dinamikal
law of progress yang menjadi nyawanya dan tenaganya zaman-zaman yang
digambarkan, tidak bisa mengasih falsafah sejarah, dan hanya memuji dan
mengeramatkan pahwalan-pahlawannya saja. Sudah waktunya kita wajib memberantas
faham-faham yang mengkafirkan segala kemajuan dan kecerdasan itu, tulisnya
kepada Tuan Hasan.
Pemikiran-pemikiran
modern Sukarno tentang Islam tergambar jelas pada tulisan-tulisannya.
Kegundahannya akan Islam yang kolot pada tahun 1930-an kala itu, relevan dengan
situasi Islam sekarang.Kira-kira 80 tahun sudah lewat, dan Soekarno telah
mempunyai pemikiran yang terbuka tentang Islam, Islam yang rahmatan lil alamin,
islam yang pembaharuan tanpa menghilangkan esensi islam yang sesungguhnya,
menjadikan Islam sebagai penerang dunia. Bukan sekedar menduniakan islam.
Sumber: Tulisan Soekarno dalam buku Islam Sontoloyo:Pikiran-pikiran tentang Pembaharuan Pemikiran Islam.
Sega Arsy : Bandung, 2010.

No comments:
Post a Comment