Kaki
kecilnya berjalan menyusuri jalan tak beraspal sepanjang 5 km di bawah sengatan
matahari. Badannya kurus kecil, dibalik stagennya ada buku yang sengaja
disembunyikan untuk suaminya. Puasanya selama satu minggu berbuah hasil,
badannya mengurus sedikit. Dengan mudah buku itu masuk ke dalam stagennya tanpa
harus mengundang kecurigaan dari sipir penjara. Kuncup bibirnya merekah ketika
satu langkah lagi dia tiba pada pintu penjara. Matanya berbinar menyiratkan
kerinduan yang hampir surut jika saja waktu besuknya diundur. Bertemu dengan Kusno itu adalah hal yang
selalu dinantikannya. Kusno adalah belahan jiwa yang tengah larut dalam duka. Gelora
perjuangan yang menggelegak dalam tubuh suaminya itu yang menyebabkan keadaanya
kini. Kusno harus berada dalam sel berukuran 1x1 meter kecil dan lembab, hingga
tidurpun harus dilakukannya tanpa posisi terlentang.
Dari
penjara Banceuy Kusno dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Jaraknya makin jauh
dari rumah, tapi demi sebuah kerinduan Inggit masih setia mengunjungi suaminya.
Tak jarang Inggit pun berkirim surat cinta yang digulung dalam lintingan rokok
untuk mengungkapkan kerinduannya. Dari Sukamiskinlah sejarah terlahir, pidato
pledoi Soekarno yang terkenal dengan nama “Indonesia Menggugat”
Dengan
memproduksi rokok, bedak juga entrok,
Inggit mewujudkan kasihnya kepada Kusno. Membiayai segala perjuangannya
mencapai kemerdekaan. Banceuy, Sukamiskin, Ende Flores dan Bengkulu pada
tempat-tempat itulah Inggit mengukir sejarah, menancapkan namanya lekat-lekat
sehingga penduduk setempat sudah menganggapnya seperti keluarga.
Hampir
20 tahun Inggit menaburkan cinta pada setiap langkah kaki Kusno. Cinta yang
tidak sederhana. Cinta yang dititipkan pada sel-sel penjara, daun-daun
pepohonan jalanan yang selalu dilewatinya ketika akan membesuk Kunso. Juga pada
setiap senyum dan sapa penduduk Ende dan Bengkulu. Inggit seolah terlupa bahwa
cinta bisa berhenti hanya karena sebuah alasan.
Inggit
akhirnya pulang ketika semua sudah selesai. Dia kembali mengingat kata-kata
Kusno “Aku tidak bermaksud
menyingkirkanmu. Merupakan keinginanku untuk menetapkanmu dalam kedudukan
paling atas dan engkau tetap sebagai istri pertama. Mengambil istri kedua untuk
mendapatkan keturunan”.
Inggit
terkenang akan perjuangannya untuk mempertahankan cinta dengan Kusno. Sanusi, suaminya
kala itu dengan berat hati melepas Inggit.
Dan
kini Inggitpun kembali kepada rumah suaminya yang dulu. Dengan hati yang remuk.
Inggit
lalu melipat surat cerai yang ditandatangani dirinya dan Kusno. Melipatnya
dengan harapan semua sakit atas Kusno bisa segera pergi, meski dirinya tahu
melipat kenangan tidaklah mudah.
Inggit
masih mempunyai harapan tentang langit Indonesia yang akan dipenuhi
bendera-bendera merah putih. Bangsa yang
telah ia sumbang dengan materinya. Bangsa yang ikut ia besarkan.
Keterangan
: entrok adalah bahasa Jawa untuk BH/Bra
gambar diambil di rumah bersejarah "Inggit Garnasih" Jl. Ciateul Bandung
gambar diambil di rumah bersejarah "Inggit Garnasih" Jl. Ciateul Bandung
Sumber
: Kuantar Kau ke Gerbang karya Ramadhan K.H

No comments:
Post a Comment