Friday, August 2, 2013

Perempuan itu bernama Inggit



Kaki kecilnya berjalan menyusuri jalan tak beraspal sepanjang 5 km di bawah sengatan matahari. Badannya kurus kecil, dibalik stagennya ada buku yang sengaja disembunyikan untuk suaminya. Puasanya selama satu minggu berbuah hasil, badannya mengurus sedikit. Dengan mudah buku itu masuk ke dalam stagennya tanpa harus mengundang kecurigaan dari sipir penjara. Kuncup bibirnya merekah ketika satu langkah lagi dia tiba pada pintu penjara. Matanya berbinar menyiratkan kerinduan yang hampir surut jika saja waktu besuknya diundur.  Bertemu dengan Kusno itu adalah hal yang selalu dinantikannya. Kusno adalah belahan jiwa yang tengah larut dalam duka. Gelora perjuangan yang menggelegak dalam tubuh suaminya itu yang menyebabkan keadaanya kini. Kusno harus berada dalam sel berukuran 1x1 meter kecil dan lembab, hingga tidurpun harus dilakukannya tanpa posisi terlentang.
Dari penjara Banceuy Kusno dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Jaraknya makin jauh dari rumah, tapi demi sebuah kerinduan Inggit masih setia mengunjungi suaminya. Tak jarang Inggit pun berkirim surat cinta yang digulung dalam lintingan rokok untuk mengungkapkan kerinduannya. Dari Sukamiskinlah sejarah terlahir, pidato pledoi Soekarno yang terkenal dengan nama “Indonesia Menggugat”

Dengan memproduksi rokok, bedak juga entrok, Inggit mewujudkan kasihnya kepada Kusno. Membiayai segala perjuangannya mencapai kemerdekaan. Banceuy, Sukamiskin, Ende Flores dan Bengkulu pada tempat-tempat itulah Inggit mengukir sejarah, menancapkan namanya lekat-lekat sehingga penduduk setempat sudah menganggapnya seperti keluarga.

Hampir 20 tahun Inggit menaburkan cinta pada setiap langkah kaki Kusno. Cinta yang tidak sederhana. Cinta yang dititipkan pada sel-sel penjara, daun-daun pepohonan jalanan yang selalu dilewatinya ketika akan membesuk Kunso. Juga pada setiap senyum dan sapa penduduk Ende dan Bengkulu. Inggit seolah terlupa bahwa cinta bisa berhenti hanya karena sebuah alasan.

Inggit akhirnya pulang ketika semua sudah selesai. Dia kembali mengingat kata-kata Kusno “Aku tidak bermaksud menyingkirkanmu. Merupakan keinginanku untuk menetapkanmu dalam kedudukan paling atas dan engkau tetap sebagai istri pertama. Mengambil istri kedua untuk mendapatkan keturunan”.

Inggit terkenang akan perjuangannya untuk mempertahankan cinta dengan Kusno. Sanusi, suaminya kala itu dengan berat hati melepas Inggit.

Dan kini Inggitpun kembali kepada rumah suaminya yang dulu. Dengan hati yang remuk.

Inggit lalu melipat surat cerai yang ditandatangani dirinya dan Kusno. Melipatnya dengan harapan semua sakit atas Kusno bisa segera pergi, meski dirinya tahu melipat kenangan tidaklah mudah.
Inggit masih mempunyai harapan tentang langit Indonesia yang akan dipenuhi bendera-bendera merah putih. Bangsa yang  telah ia sumbang dengan materinya.  Bangsa yang ikut ia besarkan. 




Keterangan : entrok adalah bahasa Jawa untuk BH/Bra
gambar diambil di rumah bersejarah "Inggit Garnasih" Jl. Ciateul Bandung
Sumber : Kuantar Kau ke Gerbang karya Ramadhan K.H
 

No comments:

Post a Comment