Buah pemikiran Kartini dewasa ini dipersempit sebatas
penanda sanggul dan kebaya. Padahal yang dilakukan Kartini lebih dari sebuah
pergerakan perang fisik, jika Cut Nyak Dien dan Keumala Hayati menjadi sosok yang
muncul gemilang pada masanya karena melawan penjajah dengan perang, maka Kartini
cukup berperang dengan pena-nya mendobrak sistem feodalisme pada masa itu.
Kehampaan Kartini akan hidupnya jelas tergambar dari tulisan-tulisannya, jika
saja Kartini diberi waktu hidup lebih lama mungkin saja pemikirannya tidak
sebatas pemikiran tapi dia menikmati buah pikirannya itu, atau bisa saja
sebaliknya, setelah pernikahannya dengan seorang bupati mungkin dia akan
menjadi ibu rumah tangga biasa, sesuai sistem yang berlaku saat itu, dimana
peran seorang istri sama halnya dengan budak.
Kartini, seorang perempuan Jawa yang sangat mencintai
ayahnya, demi ayahnya dia rela melakukan apapun, termasuk dipoligami sesuatu
yang tidak diinginkannya. Jika saja kita peka dan lebih jeli melihat potret
Kartini, sosok kegetiran muncul dari raut wajahnya, dia memendam sesuatu yang
tidak bisa dimuntahkan dengan gamblang. Semangatnya hanya bisa muncul melalui
tulisan, betapa menderitanya Kartini saat itu. Tetapi kini, perayaan hari
Kartini dilakukan dengan sumringah, gelak tawa, karnaval anak-anak kecil lalu
mereka berlenggak lenggok di panggung fashion show memuaskan hasrat orang
tuanya, dan ibu-ibu pejabat mulai berpidato tentang Raden Ajeng Kartini dan
pemikirannya, emansipasi yang diusungnya yang menyebabkan ibu pejabat itu bisa
berpidato pidato-pidato yang terdengar seperti pepesan kosong. Sudah melenceng
sekali dengan apa yang diinginkan oleh Kartini.
Kartini, terpenjara oleh tembok-tembok feodalisme Jawa,
gelar Raden Ajeng tak bisa membantunya keluar dari feodalisme, hingga mau tak
mau dia harus menyerah pada siklus hidup, pada sistem yang dibuat leluhurnya
sendiri, tidak bersekolah, dipingit lalu menikah dan dipoligami.
Hal yang luar biasa dari Kartini, ketika teman-teman
seusianya mempersiapkan diri untuk di peristri, dia mempersiapkan masa depan
generasi keturunannya dengan menuangkan buah pemikiran yang gilang gemilang.
sosok Kartini jelas tergambar dalam buku Pramoedya yang
berjudul “panggil aku Kartini saja”, Maka kita panggil saja dia “Kartini” ,
tanpa embel-embel “ibu”, atau bahkan “ibu kita”.
Ya.. panggil dia “Kartini” saja.
No comments:
Post a Comment