Sunday, April 21, 2013

Kartini


Ini tanggal 21 april, sebagian besar orang mengenalnya dengan hari kartini, pahlawan nasional ke-23, dan pahlawan perempuan ke-3 setelah Dewi Sartika dan Cut Mutia. Pada tanggal tersebut Kartini hadir di setiap sudut kota, di Taman Kanak-kanak, instansi-instansi pemerintah, sanggul dan kebaya menjadi ciri tentangnya. 

Buah pemikiran Kartini dewasa ini dipersempit sebatas penanda sanggul dan kebaya. Padahal yang dilakukan Kartini lebih dari sebuah pergerakan perang fisik, jika Cut Nyak Dien dan Keumala Hayati menjadi sosok yang muncul gemilang pada masanya karena melawan penjajah dengan perang, maka Kartini cukup berperang dengan pena-nya mendobrak sistem feodalisme pada masa itu. Kehampaan Kartini akan hidupnya jelas tergambar dari tulisan-tulisannya, jika saja Kartini diberi waktu hidup lebih lama mungkin saja pemikirannya tidak sebatas pemikiran tapi dia menikmati buah pikirannya itu, atau bisa saja sebaliknya, setelah pernikahannya dengan seorang bupati mungkin dia akan menjadi ibu rumah tangga biasa, sesuai sistem yang berlaku saat itu, dimana peran seorang istri sama halnya dengan budak.

Kartini, seorang perempuan Jawa yang sangat mencintai ayahnya, demi ayahnya dia rela melakukan apapun, termasuk dipoligami sesuatu yang tidak diinginkannya. Jika saja kita peka dan lebih jeli melihat potret Kartini, sosok kegetiran muncul dari raut wajahnya, dia memendam sesuatu yang tidak bisa dimuntahkan dengan gamblang. Semangatnya hanya bisa muncul melalui tulisan, betapa menderitanya Kartini saat itu. Tetapi kini, perayaan hari Kartini dilakukan dengan sumringah, gelak tawa, karnaval anak-anak kecil lalu mereka berlenggak lenggok di panggung fashion show memuaskan hasrat orang tuanya, dan ibu-ibu pejabat mulai berpidato tentang Raden Ajeng Kartini dan pemikirannya, emansipasi yang diusungnya yang menyebabkan ibu pejabat itu bisa berpidato pidato-pidato yang terdengar seperti pepesan kosong. Sudah melenceng sekali dengan apa yang diinginkan oleh Kartini.

Kartini, terpenjara oleh tembok-tembok feodalisme Jawa, gelar Raden Ajeng tak bisa membantunya keluar dari feodalisme, hingga mau tak mau dia harus menyerah pada siklus hidup, pada sistem yang dibuat leluhurnya sendiri, tidak bersekolah, dipingit lalu menikah dan dipoligami. 

Hal yang luar biasa dari Kartini, ketika teman-teman seusianya mempersiapkan diri untuk di peristri, dia mempersiapkan masa depan generasi keturunannya dengan menuangkan buah pemikiran yang gilang gemilang. 

sosok Kartini jelas tergambar dalam buku Pramoedya yang berjudul “panggil aku Kartini saja”, Maka kita panggil saja dia “Kartini” , tanpa embel-embel “ibu”, atau bahkan “ibu kita”.

Ya.. panggil dia “Kartini” saja.  




No comments:

Post a Comment