Monday, February 27, 2012

Festival Bambu Nusantara

Beberapa pekan lalu aku menyempatkan diri untuk datang ke festival bambu nusantara ke – 5 yang di gelar di sabuga ITB, meski tak tahu banyak tentang apa yang akan aku temui di sana. Di pintu masuk aku di sambut oleh suara angklung elektrik, tak perlu pemain hanya instrument angklung yang telah di program hingga bisa menghasilkan suara angklung yang khas.

Ada 2 panggung di sayap kiri dan kanan gedung, dan tentu saja panggung utama di dalam ruangan. aku berjalan sendiri menikmati berbagai macam alat-alat musik dari bambu, aku menuju panggung kiri menanti dengan sabar pertunjukan yang akan di mulai 15 menit lagi.


15 menit sudah, dan naiklah 6 orang berwajah asing, memakai kebaya dan sanggul menempati tempat orchestra kecil-kecilan sesuai dengan keahliannya, mereka adalah ibu-ibu berkebangsaan jepang usia berkisar 35-50 tahun, dengan percaya diri mulai memainkan orchestra angklung, aku bergetar rasanya mendengarkan suara music yang berasal dari bambu itu, alat music asli dari tanah sunda yang sekarang telah diakui oleh UNESCO pada tahun 2010 sebagai warisan budaya nasional.

Ibu-ibu berkebangsaan Jepang memainkan beberapa lagu diantaranya lagu sunda, bubuy bulan, mojang priangan, dan bukan itu saja ternyata mereka mahir memainkan lagu-lagu pop Indonesia. aku terharu, sebagai orang sunda asli aku tidak bisa memainkan alat music tersebut, tetapi mereka orang asing mahir sekali memainkannya. aku jadi teringat pada saung angklung udjo, tempat diadakannya pertunjukan angklung setiap sore hari, 3x aku menyaksikan pertunjukan tersebut dan hampir 80% yang berkunjung kesana adalah orang asing, dan hampir 4x aku mampir kesana sekedar melihat aktivitas pada pagi hari, lagi-lagi aku tercengang, ada sekelompok penari yang sedang menari jaipong dan tari merak yang semuanya adalah orang asing berkebangsaan Belanda, Swedia dan Prancis.

aku sendiri mulai mempertanyakan apakah teman-teman sebaya yang tinggal di Bandung tahu bahwa ada tempat unjuk seni (saung angklung udjo) yang luar biasa seperti ini?ketika beberapa kali aku iseng bertanya kepada mereka, mereka serempak menjawab “tidak tahu” dan tidak ada ketertarikan untuk sekedar melihat. Lain halnya ketika aku mengajak mereka ke trans studio, semua berlomba mengacungkan tangan untuk melihat Yamaha roller coaster beraksi.

Beranjak ke panggung sayap kanan, aku juga di suguhkan permainan angklung oleh siswa-siswi sekolah menengah pertama, mereka tampak senang, membuat penonton tersenyum dan menikmati permainan mereka mungkin menjadi kebanggaan tersendiri, aku bersyukur bahwa ternyata generasi muda memaksimalkan dan membudayakan warisan leluluhur itu, tapi kemudian aku berpikir lagi, ini adalah di Bandung, kota besar dengan segala fasilitas lengkap dan memadai wajar jika semuanya maksimal, lalu bagaimana dengan daerah-daerah sunda lainnya, apakah mereka juga membudayakan warisan leluhur itu?aku berharap semoga saja begitu, karena bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai budayanya sendiri?



(gambar dokumentasi pribadi)

No comments:

Post a Comment