Monday, April 3, 2017

Angkot dan Sebuah Harapan : Catatan Seorang Penumpang

Kamis 9 Maret 2017 lalu lintas Bandung tampak berbeda. Tak ada transportasi publik yang beroperasi. Angkot mogok. Ini sudah kesekian kalinya sejak hadirnya transportasi berbasis aplikasi online. Pemerintah Kota Bandung menghadirkan solusi untuk mengangkut para penumpang. Mobil-mobil dinas yang berada di kelurahan, di kantor kepolisian dan kantor dinas lainnya pun disulap menjadi kendaraan publik yang mengangkut anak sekolah, ibu-ibu yang hendak ke pasar, para karyawan dan mahasiswa.

Hari itu saya ingin menjadi bagian dari sejarah. Menyaksikan kota tanpa angkot melewati jalan-jalan di Bandung yang mendadak lengang. Tentunya saya menghindari titik demonstran berkumpul yakni Gedung Sate. Di mata saya hari itu Bandung seperti kota modern, yang maju warganya, dan disiplin. Tak terlihat kendaraan yang parkir sembarangan ataupun pengendara yang membuang puntung rokok atau botol minum mineral ke jalan juga mobil yang melaju dengan gaya zigzag.

Bertahun-tahun saya pengguna angkot, angkot menghadirkan banyak kenangan. Kenangan naik angkot ketika ibu dan kakak saya dijambret di daerah Ujung Berung jam dua siang bulan Desember tahun 2009. Gelang yang dipakai di pergelangan tangan ibu pun raib seketika. Sejak saat itu ibu saya trauma menaiki angkot. Atau ketika saya bersitegang dengan supir, gara-gara supir angkot merokok dan asapnya memenuhi ruangan penumpang. Saya menegur dengan sopan, dan supir angkot balas menghardik saya “naik taksi saja neng”, jika sudah begitu biasanya saya langsung berhenti dan keluar. Belum lagi angkot yang ngetem hingga beberapa jadwal yang sudah disusun pun gagal. Meski begitu angkot menjadi satu-satunya pilihan berkendara.


Tetapi itu hanya sedikit cerita negatif dari banyaknya cerita positif yang saya alami sebagai pengguna angkot. Tak jarang saya menyaksikan angkot mau menaikkan penumpang yang cacat, supir turun tangan langsung untuk menaikkan penumpang tersebut. Angkot pun menjadi kendaraan aliternatif yang sering di charter untuk pindahan kostan atau menaikkan orang sakit, harganya yang bersahabat sangat membantu kalangan ekonomi bawah. Angkot telah menjelma menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan warga Bandung. Ke pasar, ke kampus, ke mall, bahkan ke rumah pacar.

Ketika teknologi sudah tidak bisa lagi dibendung, maka beragam pilihan pun hadir, termasuk pada transportasi publik. Dalam laman dephub.go.id, kebijakan menteri perhubungan menyebutkan beberapa hal diantaranya: Pertama, sesuai UU 22 thn 2009, kendaraan roda dua tidak dimaksudkan untuk angkutan publik. Kedua, realitas di masyarakat menunjukkan adanya kesenjangan yang lebar antara kebutuhan transportasi publik dan kemampuan menyediakan angkutan publik yang layak dan memadai. Ketiga, kesenjangan itulah yang selama ini diisi oleh ojek, dan beberapa waktu terakhir oleh layanan transportasi berbasis aplikasi seperti Gojek dan lainnya. Keempat, atas dasar itu, ojek dan transportasi umum berbasis aplikasi dipersilakan tetap beroperasi sebagai solusi sampai transportasi publik dapat terpenuhi dengan layak.

Munculnya sistem transportasi publik berbasis aplikasi online menyebabkan para penumpang beralih pilihan berkendara. Saya pun beralih pada transportasi berbasis aplikasi online. Dengan prinsip cepat, mudah, murah, ramah dan praktis rasanya tak ada alasan bagi saya untuk tidak memanfaatkan transportasi berbasis aplikasi online. Seringkali saya melakukan wawancara dengan pengendara gojek yang bahkan beberapa diantaranya ibu-ibu. Mereka mengaku sangat terbantu perekonomiannya, mereka bergeliat dan mempunyai harapan baru. Mahasiswa yang menyambi pengendara transportasi berbasis aplikasi online pun menurut saya melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada tidak sama sekali.

Zaman berganti, mau tak mau sistem juga berganti dan cara hidup pun harus bergeser. Pilihan-pilihan baru hadir untuk menggantikan yang lama. Yang lama bukan berarti buruk, tetapi hanya perlu diperbaiki lagi agar menjadi sesuatu yang sesuai dengan zaman. Saya yakin stakeholder pasti sudah memikirkan solusi bagi permasalahan transportasi publik.

Sebagai penumpang dan warga Bandung, saya mempunyai harapan. Bandung akan menjadi kota 
modern dan kreatif bukan primitif. Mempertahankan sesuatu hanya karena alasan ada lebih dulu saya pikir itu kurang bijak. Angkot sudah seharusnya berbenah memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat. Seperti tidak mengetem sembarangan, tidak membuang sampah di jalan, tidak merokok, dan tidak menarik tarif seenaknya. Begitu juga dengan tranportasi berbasis aplikasi online, masalah perijinan yang digadang-gadang menjadi akar permasalahan baiknya segera diselesaikan agar tidak lagi kucing-kucingan dan main teror sesama pencari nafkah sebagai pengendara di kota Bandung. Pelayanan transportasi berbasis aplikasi online pun harus lebih ditingkatkan lagi.

Sebagai kota yang maju, Bandung sudah selayaknya memberikan tempat untuk berpendapat bagi siapapun yang merasa dirugikan, begitu juga dengan supir angkot. Tetapi sangat tidak bijak jika keputusan akhir adalah menyingkirkan transportasi berbasis aplikasi online. Penumpang sudah cerdas, mereka berhak untuk mendapatkan pelayanan terbaik. Supir angkot yang mengeluh tentang perekonomiannya dan menuduh transportasi berbasis aplikasi online sebagai biang dari merosotnya pendapatan mereka harus intropeksi diri. Jangan melempar kesalahan pada seseorang hanya karena kita sendiri tidak mampu melakukannya. 

Berpindah bukan berarti bubar. Bergeser bukan berarti menjadi musnah. Zaman hanya menyisakan dua pilihan, ditaklukan atau menaklukan. Penumpang di 
Bandung tentu rindu transportasi publik yang nyaman dan cepat.
Mimpi sederhana saya agar kota kecil yang saya cintai bisa menjadi seperti Jakarta dan kota besar lainnya. Pagi dan sore hari yang sibuk dengan pemandangan hijau-hijau khas pengendara transportasi berbasis aplikasi online. Mereka berjejer saling menunjukkan arah dan berbagi informasi dan bersisian dengan angkot dan juga taksi. 




 Rumah Seratpena, 26 Maret 2017





No comments:

Post a Comment