Kamis 9 Maret 2017 lalu lintas Bandung tampak berbeda. Tak
ada transportasi publik yang beroperasi. Angkot mogok. Ini sudah kesekian
kalinya sejak hadirnya transportasi berbasis aplikasi online. Pemerintah Kota Bandung menghadirkan solusi untuk
mengangkut para penumpang. Mobil-mobil dinas yang berada di kelurahan, di
kantor kepolisian dan kantor dinas lainnya pun disulap menjadi kendaraan publik
yang mengangkut anak sekolah, ibu-ibu yang hendak ke pasar, para karyawan dan
mahasiswa.
Hari itu saya ingin menjadi bagian dari sejarah. Menyaksikan
kota tanpa angkot melewati jalan-jalan di Bandung yang mendadak lengang.
Tentunya saya menghindari titik demonstran berkumpul yakni Gedung Sate. Di mata
saya hari itu Bandung seperti kota modern, yang maju warganya, dan disiplin.
Tak terlihat kendaraan yang parkir sembarangan ataupun pengendara yang membuang
puntung rokok atau botol minum mineral ke jalan juga mobil yang melaju dengan
gaya zigzag.
Bertahun-tahun saya pengguna angkot, angkot menghadirkan
banyak kenangan. Kenangan naik angkot ketika ibu dan kakak saya dijambret di
daerah Ujung Berung jam dua siang bulan Desember tahun 2009. Gelang yang
dipakai di pergelangan tangan ibu pun raib seketika. Sejak saat itu ibu saya
trauma menaiki angkot. Atau ketika saya bersitegang dengan supir, gara-gara
supir angkot merokok dan asapnya memenuhi ruangan penumpang. Saya menegur
dengan sopan, dan supir angkot balas menghardik saya “naik taksi saja neng”,
jika sudah begitu biasanya saya langsung berhenti dan keluar. Belum lagi angkot
yang ngetem hingga beberapa jadwal yang sudah disusun pun gagal. Meski begitu
angkot menjadi satu-satunya pilihan berkendara.
Tetapi itu hanya sedikit cerita negatif dari banyaknya cerita
positif yang saya alami sebagai pengguna angkot. Tak jarang saya menyaksikan
angkot mau menaikkan penumpang yang cacat, supir turun tangan langsung untuk
menaikkan penumpang tersebut. Angkot pun menjadi kendaraan aliternatif yang
sering di charter untuk pindahan kostan atau menaikkan orang sakit, harganya
yang bersahabat sangat membantu kalangan ekonomi bawah. Angkot telah menjelma
menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan warga Bandung. Ke pasar, ke kampus,
ke mall, bahkan ke rumah pacar.
Ketika teknologi sudah tidak bisa lagi dibendung, maka
beragam pilihan pun hadir, termasuk pada transportasi publik. Dalam laman dephub.go.id, kebijakan menteri perhubungan
menyebutkan beberapa hal diantaranya: Pertama, sesuai UU 22 thn 2009, kendaraan
roda dua tidak dimaksudkan untuk angkutan publik. Kedua, realitas di masyarakat
menunjukkan adanya kesenjangan yang lebar antara kebutuhan transportasi publik
dan kemampuan menyediakan angkutan publik yang layak dan memadai. Ketiga,
kesenjangan itulah yang selama ini diisi oleh ojek, dan beberapa waktu terakhir
oleh layanan transportasi berbasis aplikasi seperti Gojek dan lainnya. Keempat,
atas dasar itu, ojek dan transportasi umum berbasis aplikasi dipersilakan tetap
beroperasi sebagai solusi sampai transportasi publik dapat terpenuhi dengan
layak.
Munculnya sistem transportasi publik berbasis aplikasi online
menyebabkan para penumpang beralih pilihan berkendara. Saya pun beralih pada
transportasi berbasis aplikasi online. Dengan
prinsip cepat, mudah, murah, ramah dan praktis rasanya tak ada alasan bagi saya
untuk tidak memanfaatkan transportasi berbasis aplikasi online. Seringkali saya melakukan wawancara dengan pengendara gojek
yang bahkan beberapa diantaranya ibu-ibu. Mereka mengaku sangat terbantu
perekonomiannya, mereka bergeliat dan mempunyai harapan baru. Mahasiswa yang
menyambi pengendara transportasi berbasis aplikasi online pun menurut saya
melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada tidak sama sekali.
Zaman berganti, mau tak mau sistem juga berganti dan cara hidup
pun harus bergeser. Pilihan-pilihan baru hadir untuk menggantikan yang lama.
Yang lama bukan berarti buruk, tetapi hanya perlu diperbaiki lagi agar menjadi
sesuatu yang sesuai dengan zaman. Saya yakin stakeholder pasti sudah memikirkan solusi bagi permasalahan
transportasi publik.
Sebagai penumpang dan warga Bandung, saya mempunyai harapan.
Bandung akan menjadi kota
modern dan kreatif bukan primitif. Mempertahankan
sesuatu hanya karena alasan ada lebih dulu saya pikir itu kurang bijak. Angkot sudah
seharusnya berbenah memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat. Seperti
tidak mengetem sembarangan, tidak membuang sampah di jalan, tidak merokok, dan
tidak menarik tarif seenaknya. Begitu juga dengan tranportasi berbasis aplikasi
online, masalah perijinan yang
digadang-gadang menjadi akar permasalahan baiknya segera diselesaikan agar
tidak lagi kucing-kucingan dan main teror sesama pencari nafkah sebagai
pengendara di kota Bandung. Pelayanan transportasi berbasis aplikasi online pun
harus lebih ditingkatkan lagi.
Sebagai kota yang maju, Bandung sudah selayaknya memberikan
tempat untuk berpendapat bagi siapapun yang merasa dirugikan, begitu juga
dengan supir angkot. Tetapi sangat tidak bijak jika keputusan akhir adalah
menyingkirkan transportasi berbasis aplikasi online. Penumpang sudah cerdas, mereka berhak untuk mendapatkan
pelayanan terbaik. Supir angkot yang mengeluh tentang perekonomiannya dan
menuduh transportasi berbasis aplikasi online sebagai biang dari merosotnya
pendapatan mereka harus intropeksi diri. Jangan melempar kesalahan pada
seseorang hanya karena kita sendiri tidak mampu melakukannya.
Berpindah bukan
berarti bubar. Bergeser bukan berarti menjadi musnah. Zaman hanya menyisakan
dua pilihan, ditaklukan atau menaklukan. Penumpang di
Bandung tentu rindu
transportasi publik yang nyaman dan cepat.
Mimpi sederhana saya agar kota kecil yang saya cintai bisa
menjadi seperti Jakarta dan kota besar lainnya. Pagi dan sore hari yang sibuk
dengan pemandangan hijau-hijau khas pengendara transportasi berbasis aplikasi
online. Mereka berjejer saling menunjukkan arah dan berbagi informasi dan
bersisian dengan angkot dan juga taksi.
Rumah Seratpena, 26 Maret 2017
No comments:
Post a Comment