Magrib hampir tiba. Seiring senja yang hendak larut, burung
pun terbang rapi menuju sarangnya. Teriakan bocah di pekarangan masjid
terdengar gaduh sekali. Keriangan mereka memuncak. Ekpresi yang tak
tergambarkan ketika muadzin mulai melapalkan adzan.
Mereka berhamburan keluar dari lingkaran permainan. Bebelotan, boy-boyan, engklek, ucing sumput,
gatrik, sapintrong dan berbagai jenis mainan anak sunda lainnya. Pekarangan
Masjid ketika sore disulap menjadi taman bermain kanak-kanak tak berbayar.
Mereka tak lagi peduli dengan siapa yang menang dan kalah. Berlarian menuju
kantin depan masjid. Bagi mereka seteguk air limun lima ratus menjadi puncak
kebahagian di hari itu.
Kantin abah penuh dengan bocah. Soun dan sambelnya, kurupuk,
gorengan, urab, lotek menjadi menu istimewa ketika magrib hampir tiba.
Tangan-tangan kecil berlomba membeli makanan, abah melayani dengan penuh
senyum. “Allahumma laka sumtu wabika amantu...”, ujarnya dalam hati. Denting
sendok segera beradu pada semangkuk kolak pisang. Keriaan yang tergambar pada
wajah bocah seolah melengkapi pahala puasa hari ini. Mulut bocah-bocah itu
penuh dengan makanan, setelah makanan kecil habis merekapun berlarian pulang
untuk segera menandaskan apa yang tersisa di meja makan.
Ramadhan selalu menjadi hadiah untuk bocah, seolah ramadhan
hanya milik anak kecil. Acara sahur, berbuka dan tarawih menjadi rutinitas yang
menjungkirbalikkan aktifitas mereka. Tarawih adalah satu-satunya ibadah solat yang
penuh pemakluman. Jamaah sholat dengan tawa derai bocah yang asyik bermain di
pekarangan. Lantunan amin diiringi bunyi petasan. Ucapan allahu akbar disertai
suara sendal swallow ukuran nomor 6 yang bergesekan dengan aspal akibat pemakai
sendal sedang berkejar-kejaran dengan temannya. Mereka bermain ninja-ninjaan
dengan sarung. Tepat ketika imam mengucapkan salam ucapan ciatttt pun
terdengar. Tendangan ala ninja merobohkan musuhnya.
Lalu bocah-bocah perempuan tak kalah hebohnya. Asyik
bergosip tentang si dia yang masih ingusan. Memamerkan tempat pensil barunya
tatkala imam takbir untuk rakaat kedua. Ada juga yang sibuk membolak-balik buku
ramadhan yang wajib diisi. Lalu membicarakan baju bedug yang belum juga
dibelikan oleh ibunya.
Ibu yang berada disampingnya hanya mengucap sssshhh. Tak
memarahi apalagi mengusir. Mungkin beliau juga sedang ingat puluhan tahun lalu
ketika dirinya masih bocah.
Bulan hampir mengantuk, imam masjid telah melapalkan niat.
Tarawih telah usai. Tapi tak ada tanda-tanda bocah laki-laki itu akan segera
mengakhiri permainan. Bulan pun tak jadi tidur. Gelak tawa mereka seketika
membangunkannya. Sinarnya menyala terang. Sepertinya bulan pun memberi bonus
untuk ramadhan, purnama penuh satu bulan. Tak ada bulan setengah apalagi sabit.
Detik pun beranjak. Tapi debu-debu di pekarangan masjid masih
berterbangan. Sendal-sendal kecil bermerek swallow itu masih saja bergesekan
dengan aspal. Peluh membanjiri mereka. Dalam tawanya terbayang baju lebaran
yang akan di dapatnya juga uang seribuan yang masih bagus. Tidak lecek seperti
di dompetnya kini.
Orang-orang dewasa memaknai ramadhan sebagai penambah
pahala. Penguat iman. Pengendali hawa nafsu. Di mata bocah. Ramadhan adalah
perayaan tentang kebebasannya menjadi bocah. Mereka menjadi apa yang mereka
inginkan. Bahkan waktu pun enggan membatasi. Tak ada lagi istilah jam malam.
Malam untuk bermain dan siang untuk tidur tak lagi menjadi soal. Mata-mata
kecil mereka akan terbuka ketika hidungnya mencium aroma masakan yang dibuat
ibunya. Mereka beranjak dari tempat tidur. Mengendus-endus tanpa ampun. Lalu
mereka akan segera teringat kembali pada teman-temannya. Yang ada dibenaknya
hanya permainan, dan sendal siapa kali ini yang akan disembunyikannya.
Ramadhan sudah memasuki hari ke-20. Wajah-wajah mereka masih
saja bergembira. Bayangan tarawih yang akan segera usai terganti dengan
banyaknya uang yang akan mereka dapatkan ketika hari dimana seluruh piring
berisi ketupat tiba.
Bocah adalah simbol kebebasan
yang sebebas-bebasnya. Masa menjadi diri sendiri. Tak takut akan apapun dan
siapapun. Yang ditakuti hanya jeweran ibu ketika main hingga larut, sampai lupa
pulang ke rumah.
Ilustrasi : ramadhan tahun 1996. Ketika penulis menjadi
salah satu bocah perempuan yang sibuk berbicara tentang si dia yang masih
ingusan.
No comments:
Post a Comment