Friday, August 2, 2013

Esensi Ramadhan untuk Bocah



Magrib hampir tiba. Seiring senja yang hendak larut, burung pun terbang rapi menuju sarangnya. Teriakan bocah di pekarangan masjid terdengar gaduh sekali. Keriangan mereka memuncak. Ekpresi yang tak tergambarkan ketika muadzin mulai melapalkan adzan.

Mereka berhamburan keluar dari lingkaran permainan. Bebelotan, boy-boyan, engklek, ucing sumput, gatrik, sapintrong dan berbagai jenis mainan anak sunda lainnya. Pekarangan Masjid ketika sore disulap menjadi taman bermain kanak-kanak tak berbayar. Mereka tak lagi peduli dengan siapa yang menang dan kalah. Berlarian menuju kantin depan masjid. Bagi mereka seteguk air limun lima ratus menjadi puncak kebahagian di hari itu.

Kantin abah penuh dengan bocah. Soun dan sambelnya, kurupuk, gorengan, urab, lotek menjadi menu istimewa ketika magrib hampir tiba. Tangan-tangan kecil berlomba membeli makanan, abah melayani dengan penuh senyum. “Allahumma laka sumtu wabika amantu...”, ujarnya dalam hati. Denting sendok segera beradu pada semangkuk kolak pisang. Keriaan yang tergambar pada wajah bocah seolah melengkapi pahala puasa hari ini. Mulut bocah-bocah itu penuh dengan makanan, setelah makanan kecil habis merekapun berlarian pulang untuk segera menandaskan apa yang tersisa di meja makan.

Ramadhan selalu menjadi hadiah untuk bocah, seolah ramadhan hanya milik anak kecil. Acara sahur, berbuka dan tarawih menjadi rutinitas yang menjungkirbalikkan aktifitas mereka. Tarawih adalah satu-satunya ibadah solat yang penuh pemakluman. Jamaah sholat dengan tawa derai bocah yang asyik bermain di pekarangan. Lantunan amin diiringi bunyi petasan. Ucapan allahu akbar disertai suara sendal swallow ukuran nomor 6 yang bergesekan dengan aspal akibat pemakai sendal sedang berkejar-kejaran dengan temannya. Mereka bermain ninja-ninjaan dengan sarung. Tepat ketika imam mengucapkan salam ucapan ciatttt pun terdengar. Tendangan ala ninja merobohkan musuhnya.


Lalu bocah-bocah perempuan tak kalah hebohnya. Asyik bergosip tentang si dia yang masih ingusan. Memamerkan tempat pensil barunya tatkala imam takbir untuk rakaat kedua. Ada juga yang sibuk membolak-balik buku ramadhan yang wajib diisi. Lalu membicarakan baju bedug yang belum juga dibelikan oleh ibunya.

Ibu yang berada disampingnya hanya mengucap sssshhh. Tak memarahi apalagi mengusir. Mungkin beliau juga sedang ingat puluhan tahun lalu ketika dirinya masih bocah.

Bulan hampir mengantuk, imam masjid telah melapalkan niat. Tarawih telah usai. Tapi tak ada tanda-tanda bocah laki-laki itu akan segera mengakhiri permainan. Bulan pun tak jadi tidur. Gelak tawa mereka seketika membangunkannya. Sinarnya menyala terang. Sepertinya bulan pun memberi bonus untuk ramadhan, purnama penuh satu bulan. Tak ada bulan setengah apalagi sabit.

Detik pun beranjak. Tapi debu-debu di pekarangan masjid masih berterbangan. Sendal-sendal kecil bermerek swallow itu masih saja bergesekan dengan aspal. Peluh membanjiri mereka. Dalam tawanya terbayang baju lebaran yang akan di dapatnya juga uang seribuan yang masih bagus. Tidak lecek seperti di dompetnya kini.

Orang-orang dewasa memaknai ramadhan sebagai penambah pahala. Penguat iman. Pengendali hawa nafsu. Di mata bocah. Ramadhan adalah perayaan tentang kebebasannya menjadi bocah. Mereka menjadi apa yang mereka inginkan. Bahkan waktu pun enggan membatasi. Tak ada lagi istilah jam malam. Malam untuk bermain dan siang untuk tidur tak lagi menjadi soal. Mata-mata kecil mereka akan terbuka ketika hidungnya mencium aroma masakan yang dibuat ibunya. Mereka beranjak dari tempat tidur. Mengendus-endus tanpa ampun. Lalu mereka akan segera teringat kembali pada teman-temannya. Yang ada dibenaknya hanya permainan, dan sendal siapa kali ini yang akan disembunyikannya.

Ramadhan sudah memasuki hari ke-20. Wajah-wajah mereka masih saja bergembira. Bayangan tarawih yang akan segera usai terganti dengan banyaknya uang yang akan mereka dapatkan ketika hari dimana seluruh piring berisi ketupat tiba.

Bocah adalah simbol kebebasan yang sebebas-bebasnya. Masa menjadi diri sendiri. Tak takut akan apapun dan siapapun. Yang ditakuti hanya jeweran ibu ketika main hingga larut, sampai lupa pulang ke rumah.




Ilustrasi : ramadhan tahun 1996. Ketika penulis menjadi salah satu bocah perempuan yang sibuk berbicara tentang si dia yang masih ingusan.

No comments:

Post a Comment