Suara daun, gemerisik angin, gelapnya cahaya menjadi
pengantar suara-suara yang kita ucapkan hingga menggaung di angkasa. Langit
menjadi atap kita sekaligus telinga yang tak bosan mendengar percakapan kita.
Kamu hadir tiba-tiba bersama surat imajiner yang dengan
sengaja dikirimkan penjaga langit untukku. Aku merabamu dengan hati-hati,
memperlakukanmu seolah kamu adalah barang pecah belah, menyentuhmu penuh rasa.
Kamu hanya diam menikmati sentuhanku yang kutahu itu adalah sentuhan pertama
yang kamu rasakan.
Kulitmu halus menyerupai kulitku, seluruh tubuhmu ku sentuh
untuk meyakinkan bahwa kita serupa. Kamu menikmatinya, hingga tanpa terasa kamu
pun mengikuti apa yang kulakukan. Kita saling menyentuh mengenali bentuk tubuh
dan menamainya sesuka hati.
Hanya dengan isyarat, kita telah sama-sama mengerti bahwa
kita tak beda. Kita merebahkan diri menatap kerlip cahaya di langit. Penjaga
langit terlihat sedang menyapa kita, lalu dia berbisik ke telingaku,
“kutitipkan Adam padamu, Hawa”
Sejak saat itu kita selalu bersama, kukenalkan banyak hal
kepadamu. Aku mengenalkan nada, aku mengajarimu berkata, aku membuat sketsa,
kita melompat bersama, kita namai pohon-pohon dengan buahnya yang
bergelantungan, kau namai itu Khuldi, katamu itu titipan nama dari penjaga
langit.
Akupun tak mau kalah. Aku menamai sebuah pohon dengan nama
beringin kembar. Beringin mempunyai banyak daun kamu suka berteduh di bawahnya,
di bawah beringin kita mengukir kisah. Kamu bercerita tentang kehidupan langit
yang penuh dengan kesempurnaan, sungai-sungai dengan airnya yang jernih
mengalir tanpa ujung, buah-buahan segala rupa dengan rasanya yang legit, semua
kenikmatan ada di langit katamu.
Lantas kenapa kamu turun ke bumi jika semua kenikmatan ada
di Langit? Kataku.
“Aku diam-diam
memperhatikanmu dari dulu, perempuan dengan alis mata yang mempesona, dua
tonjolan di dadamu yang terlihat ranum dan mata yang menyiratkan banyak hal
membuatku tergoda, tanpa kamu sadari, kamu pendarkan cahaya ke langit. Aku
meminta penjaga langit untuk mengantarkanku menemuimu. Awalnya penjaga langit
menolak, dia bersikeras bahwa langit dan bumi diciptakan terpisah, bumi hanya
untuk kaum lemah sedangkan langit untuk raja dan bangsawan. Aku bersikeras,
akhirnya penjaga langit mengalah. Tetapi dia harus membuat laporan kepada
penguasa langit, akhirnya kami bersepakat mengarang cerita, bahwa Aku telah
melanggar aturan sehingga layak dijatuhkan ke bumi dan yang membuat aku
melanggar aturan adalah Hawa, perempuan cantik di bumi.
Cerita tentang
keburukanmu sebagai perempuan penggoda harus kukarang sedemikian rupa agar
namaku tetap baik dan penguasa langit tak marah. Seluruh penghuni langit
mengutukmu Hawa, dan mereka menyebarkan keburukanmu melalui cerita ke anak
cucunya. Hingga cerita itu menjadi hikayat ribuan tahun lalu yang dipercaya
sampai kini.
Aku meminta maaf
padamu Hawa, kukorbankan namamu demi kehormatanku. Dirimu tak pernah bersalah,
akulah yang mengarang cerita bohong”.
Aku menarik nafas lebih dalam dari biasanya, biarlah ku
telan bulat-bulat hikayat yang salah itu hingga kini. Akulah tokoh utama dalam
sejarah ribuan tahun lalu. Sejarah yang bisa menjadi memori kolektif karena
bisa mempersatukan mereka yang percaya dan bangga olehnya.
Namaku Hawa.
_______________________________________________________________________________
Ket : Tulisan ini menceritakan ulang cerita tulisan Okky Madasari dengan judul "Perempuan Pertama" yang dimuat di Jurnal Perempuan no 77, Mei - Juni 2013. "Perempuan Pertama" bisa dibaca di sini
suka banget sama yg ini
ReplyDeleteilla sekarang pembaca settia aksara-aksara ibu
suka banget sama yg ini
ReplyDeleteilla sekarang pembaca settia aksara-aksara ibu
Wah terima kasih banyak Illa
ReplyDelete