Sunday, January 1, 2012

Malam Pergantian Tahun



Malam ini gegap gempita. Tiap-tiap (sebagian) yang berdenyut di bumi merasakan euphoria. Setiap mata kita menyapu langit dari barat ke timur, lalu utara hingga selatan, bertebaran percikan-percikan api yang indah.

Suara guruh gemuruh petasan membangkitkan semua gendang telinga. Balita dan batita yang sedang lelap terbangun dan menangis kencang, berimbas kepada ibunya yang mau tak mau harus bekerja keras meninabobokan lagi. Kebanyakan orang rela berdesak-desakan, menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk larut dalam euphoria itu, tapi banyak juga yang apatis, merasa itu hanya perbuatan merugi, tak ada manfaatnya, dan merekapun menutup mata sebelum bel berpukul 12 kali.

Untuk kali ini aku masuk dalam golongan apatis. Aku tak suka ingar bingar, benci keramaian, benci asap rokok, tak suka dengan lengkingan terompet, suara teriakan orang, klakson kendaraan, angin malam. Jadi lebih baik menonton acara televisi dan tidur tepat jam 11 malam pada pergantian tahun kali ini.

Bodohkah orang-orang sepertiku??


Kupikir tidak, seperti kata “pak endy kurniawan” di account twitternya, “party modern, bakar petasan, bakar jagung, bakar ayam/kambing, dan bakar juga pahala sholat subuh karena tidur terlalu larut hingga kesiangan”. Kurang lebih seperti itu.

Tahun baru, lebih tepatnya haruskah dirayakan?atau dimaknai?

Ya mungkin wajar dirayakan untuk keberhasilan-keberhasilan yang telah di capai selama setahun penuh, untuk kerja keras yang memakan habis seluruh waktu, hingga tak ada salahnya sedikit bersuka cita, dalih mereka.

Memang tidak ada yang salah, kebahagian dan kecerian adalah hak setiap insan, dan mereka berhak memilih cara seperti apa yang bisa mendatangkan bahagia itu.

Aku cukup bahagia, ketika pulang mengajar tepat di tanggal 31 desember 2011, jam 21.30 malam, menyaksikan anggota keluargaku menonton televisi, mengobrol banyak, hingga semuanya berpamitan untuk tidur sebelum jam 23.00, tak ada bakar jagung, tak ada pesta kembang api. Tapi semua dari kami cukup tahu bahwa esok kalender telah berganti angka.

Huru hara selalu mendatangkan 2 sisi, baik dan buruk, kebahagian yang dibawa pulang dengan senyum sumringah, atau bisa jadi petaka, selalu saja ada kejadian buruk, perkelahian, penusukan (seperti menimpa pada seorang briptu di Jawa Timur)… akhh..ya, kenapa harus ada korban??

Dan tanggal 1 januari adalah bencana untuk para petugas kebersihan, jutaan ton sampah di produksi pada malam tahun baru, petugas kebersihan sudah siaga dari subuh untuk membersihkan sisa-sisa sampah orang yang berpesta semalam, sampai disini aku miris, kenapa lagi-lagi harus orang-orang “kecil” yang menanggung akibat ulah orang-orang berduit?

Jujur saja, aku pernah sekali merayakan perayaan tahun baru seperti muda-mudi dan lainnya di denyut kota Bandung, tahun 2005. Aku bergerak dari arah Setiabudi jam 11 malam, bersama ke-3 temanku. Angkot yang kunaiki hanya berhenti di jalan Siliwangi, alasannya macet, hingga tak bergerak. Akhirnya kami memutuskan jalan kaki, rute yang ditempuh masih jauh, ada sekitar 3-4 km. Menyusuri sepanjang dago lalu Dipati ukur dan berakhir di Gasibu. Rasanya ingin menangis, belum mata yang mengantuk sangat, aku kali itu mengutuk usul temanku yang mengajak bertahun-baru-an. Tepat pukul 12 malam pesta kembang api dan petasan dimulai, bukannya kunikmati tapi aku malah bergidik dengan suara bombastis itu, jam 1 malam pesta usai, dan penderitaan pun masih berlanjut, angkot yang membawaku pulang tak kunjung datang, akhirnya kami berjalan kaki, dan sampai kostan jam 3, itukah pesta??itu sih sengsara.

Dari kejadian 5 tahun lalu itu, cukup membuatku yakin bahwa ingar bingar, keramaian, huru hara, party, hanya akan membawa penderitaan, dan aku tak mau mengulanginya.

Kalau sudah begini aku jadi kangen dengan Tahun Baru Muharram, tahun baru umat islam. Tak ada pesta, tak ada huru hara, tak ada petaka. Sebagian muslim malah merayakannya dengan berpuasa, dan sungguh itu sangat damai.

No comments:

Post a Comment