Pagi
ini ada gurat-gurat kecemasan dari tiap-tiap wajah bocah, perempuan-perempuan
dan lelaki. Mulut kami tak berhenti mengucapkan doa dan takbir.
Pikiran kami melulu pada Tuhan dan kekasihNya. Tangan dan kaki kami berkeringat
dingin dipenuhi dengan pikiran buruk yang sebenarnya tidak ingin kami
pikirkan. Beberapa kilometer dari tempat kami berada, sekelompok orang
sedang meluapkan kebencian melalui aksara. Kata-kata “mereka sesat” selalu
disebutkan dan segera diamini oleh sekelompok massa yang kebanyakan masih
sangat muda.
Masih
terbayang di ingatan kami bagaimana pengusiran itu bermula 9 bulan lalu. Ketika
rumah dan barang-barang kami habis dibakar massa, hanya karena kami berbeda.
Bukan yang pertama kalinya dan sepertinya ini tidak jadi yang terakhir.
Pengusiran dengan cara yang sama. Alasan relokasi yang berulang, sampai kami
merasa bosan. Ya kami minoritas, meskipun mungkin banyak kesamaan antara
kita.
Luka
itu kembali menganga. Belum sembuh rasanya ketika kami harus kembali mengingat.
Ketika itu mereka berjalan cepat ke arah kami, mengacung-acungkan senjata tajam
dan berteriak “Allahu akbar”. Merangsek bergerak maju ke arah kami,
mendobrak pintu, memecahkan kaca dan menumpahkan bensin. Sebatang
korek api pun menjadi tonggak pencerita sejarah. Asap-asap hitam segera
mengangkasa, menitipkan cerita pada pohon-pohon dan atap-atap rumah yang
dilaluinya, sebagai pertanda bahwa hari itu pernah ada. Rengekan bayi, tangisan
perempuan, jerit ketakutan menghasilkan memar dan lumuran darah di
kening para lelaki. Kami pergi dengan mobil pick up dan
truk-truk yang sudah disediakan negara oleh kami. Kami harus merelakan rumah
dan tanah yang kami beli dengan uang sendiri untuk tidak lagi kami tinggali.
Kami pergi karena terusir dari rumah kami sendiri.
Dan hari ini, setelah 9 bulan tinggal bersama dalam sebuah ruangan besar. Beraktifitas dalam satu ruangan dengan ratusan kepala keluarga. Kami dihadapkan pada pagi yang sulit, pagi kali ini tak menghadirkan suasana fajar yang khidmat namun hati yang berdebar merusak keheningan.
Agama
yang kami yakini adalah rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta
alam. Kami semua menyebut Tuhan kami dengan nama Allah, bukan yang lainnya.
Lantas disematkan kata “kafir” terhadap kami? Mengapa harus berlomba
menjadi Tuhan. Merasa berhak mengadili sesamanya. Hati kami menjerit. Tak
ada perlindungan dari negara yang kami tinggali.
Negara dengan presiden yang baru saja menerima penghargaan tentang
toleransinya dalam beragama.
Anak-anak
kami harus kembali menanggalkan cita-citanya. Sekolah yang berpindah-pindah
membuat mereka tak lagi mempunyai harapan. Perempuan-perempuan kami berwajah
kuyu, air mata menetes lagi menangisi hal yang sama, barang-barang kami rusak
sudah, kami pun tak punya tujuan, hidup kami seolah ditentukan oleh truk-truk
dan mobil pikap ini.
Teringat
tentang saudara kami yang mengalami nasib yang sama. Terusir dari tanah dan
rumahnya. 6 tahun hidup di pengungsian dan sampai sekarang belum mendapat
kejelasan. Di Lombok tanah lahir mereka. Juga cerita-cerita serupa di beberapa
tempat di tanah air. Apa kabar kalian, sudahkah mulai diperlakukan sebagai
manusia? Kami melihat lagi, wajah-wajah pengusir kami, orang-orang
bersorban dan berkopiah, melapadzkan nama Allah dengan fasih. Adakah nuraninya
bekerja ketika memandang mata-mata menderita yang terusir dan dihakimi? Apakah
mungkin mereka sudah lupa rasanya menjadi manusia?
Mata
kami pun beradu tatap dengan mata mereka yang penuh kebencian. Kami tak sanggup
melihatnya. Hanya menahan diri agar diri ini tak menjadi pendendam. Agar
anak-anak kami tetap mempunyai nurani. Meskipun berkali-kali nuraninya
dihancurkan.
Truk-truk
ini membawa kami menjauh dari tempat pengungsian. Entah beranjak kemana. Negeri
yang katanya tanahnya luas, tak secuil pun memberi ruang untuk kami
hidup. Siapa yang bisa melindungi kami dari terjangan kerikil dan aksara
penuh amarah? Bapak presiden dan para penegak hukum ataukah mereka yang satu
Tuhan dengan kami ?
Semua
boleh berpindah, semua boleh berputus asa. Hanya satu yang tak pernah berubah.
Keimanan kami tak akan pernah luntur. Jadi ketika mereka menginginkan kami
berubah, Perubahan seperti apa yang mereka inginkan. Apa yang
kami yakini adalah benar bagi kami. Sama benarnya dengan cara kalian meyakini
sesuatu. Dan bukankah keyakinan atas suatu kebenaran adalah hak
setiap makluk ciptaanNya?
Mungkin
beberapa hari kedepan, sebulan, setahun atau bahkan puluhan tahun, hal ini akan
kami alami lagi. Pengusiran, pengucilan dan kata-kata “sesat” yang selalu
disematkan pada kami. Sampaikan salam kami pada bapak presiden, katakanlah
bahwa kami hanya ingin pulang, itu saja.
_____________________________________________________________________
Terinspirasi dari berita berita yang masuk melalui saksi mata kejadian di Sampang. Tulisan ini Untuk mereka yang terusir karena Iman_Untuk kaum Syiah di Sampang Madura
Terinspirasi dari berita berita yang masuk melalui saksi mata kejadian di Sampang. Tulisan ini Untuk mereka yang terusir karena Iman_Untuk kaum Syiah di Sampang Madura
No comments:
Post a Comment