Sunday, December 18, 2011

Bantal, Guling dan Selimut


Ketika ku tanya pada hati, apakah ia baik-baik saja jawabnya tidak. Akh.. ya aku lagi-lagi lupa bahwa ia pernah ada, inginnya berkehendak semaunya saja, tapi tak bisa, ada hal yang harus berjalan sebagaimana yang ia mau, meskipun itu tidak seperti yang kuinginkan.

Sayang semua itu membekas, tak bisa hilang, tak juga mengabur, aku masih ingat jelas tindak tanduknya yang selalu membuatku muak hingga mau tak mau kurapalkan kata-kata sakti untuk menguatkanku dan melemahkannya.

Aku tak mengerti dengan esensi waktu, bagiku semua berjalan terlambat, tuturnya terlambat, tindakannya terlambat, dan terakhir maafnya pun terlambat.

Friday, November 25, 2011

Guruku


Hari ini 25 nopember, diperingati sebagai hari guru. Aku jadi teringat guru sekolah madrasahku, ya…sekolah madrasah, atau sekolah agama. Jadwal sekolahnya setelah sekolah dasar usai, dimulai dari jam 13.00 – 17.00, sekolah madrasah ini memiliki 4 tingkatan kelas, dari kelas 1 hingga kelas 4, maka akupun masuk menjadi siswi madrasah kelas 1 ketika aku berada di kelas 3 sekolah dasar, menurut ibuku katanya biar hitungannya pas, madrasah tamat, SD pun tamat.

Sekolah madrasahku namanya “Assalam” yang artinya pembuka. Letaknya persis dibelakang pasar, memiliki 2 ruangan yang berukuran kecil, karena ada 4 tingkatan kelas, maka guru pun membagi 1 ruangan untuk 2 kelas. Bayangkan, bagaimana penyampaian materi disana, di ruangan yang sama dihuni oleh 2 tingkatan kelas, kelas 1 & 2, kelas 3 & 4, blackboard yg hanya 1 di setiap ruangan akhirnya diberi batas oleh guru menjadi 2. Jujur saja, aku tak pernah fokus, bagaimana bisa fokus, ketika aku sedang belajar bahasa arab, adik tingkatku sedang belajar tarikh islam, beda tingkatan maka materi ajar pun berbeda. Tapi lagi-lagi ini lah kondisinya, bukti bahwa desa yang kudiami sangat tidak maju.

Wednesday, November 23, 2011

Bunda

Kaki kecilmu melangkah disana

Mengurai waktu, mengetuk semua pintu

Kutemukan wajah letih dengan mata sembab

Tapi senyum itu tak pernah hilang, darimu…

Untukku…anakmu

masih kuingat jelas

rambut hitam, dan kulit kuning langsat itu

sekarang telah memutih dan mengkerut

betapa waktu sangat cepat mengubahnya

bunda…kita telah bersama-sama

mengayuh sampan menuju ujung muara

aku ingin tetap berada di sini, dekat denganmu

meski kamu berkali-kali bilang

sudah waktunya kau jalan sendiri nak…

Dialog Dengan Tuhan

Aku mencoba menikmati kesendirian ini, mencoba berdamai dengan keadaan yang mengharuskanku mengambil “kesempatan itu”…, aku melakukan dialog panjang denganMu pada suatu malam, bukankah aku telah lama meminta padaMu untuk suatu kesempatan yang sama??kuingat lagi, ya sejak tahun 2004, ku melihat gedung angkuh itu yang bersimbolkan makhluk raksasa, kucoba membuka semua pintu gerbang untuk masuk kedalamnya, seribu pintu kulalui, tapi hasilnya nihil, aku tak pernah menemukan kunci yang pas. Pada suatu titik dimana aku bergerak seperti osilator yang mempunyai simpangan minimum, makin melemah, dan makin melemah, sampai akhirnya aku menyerah, tak mampu lagi mencapai batas amplitudo maksimum. aku mulai hilang arah, kuenyahkan pikiran idealisku yang selama ini menjadi pembungkus otakku, ku ganti dengan realita yang ada, tapi tetap Tuhan aku tak bisa berdamai, aku benar-benar tak bisa menikmatinya…akh..aku hanya ingin lebih salahkah?? Engkau tersenyum mendengar keluhku, Kau ucap “Nikmatku mana lagi yang kau dustakan (QS. Ar-rohman)”… deg…aku menunduk, tak kuasa kutantang Engkau... aku mencoba berdamai dengan kesempatan yang ada, akan kucoba enyahkan pikiran idealisku... tapi Tuhan masih bolehkah aku berharap??untuk sekali saja Kau membantuku menemukan kunci yang pas memasuki bangunan angkuh yang selalu kukagumi??karena jujur, aku tak sanggup jika harus berjalan sendiri ”AKU tak pernah meninggalkanmu sedikitpun”jawabMu *ketika pertentangan idealis dan realita mulai berperang* Na ket : gambar diambil dari file pribadi

Tuesday, November 22, 2011

expresi

Di sana, aku melompat bergerak kesana-kemari, menari centil, melenggokkan kepala, mengayunkan kaki, pinggul pun bergoyang, aku berputar diiringi tawa ceria semua orang, alunan music tradisional membuat aku makin menghentak, ya…aku bahkan tak peduli ketika ada sepasang mata memandangku dan mengabadikan itu dengan lensa kameranya.

Peluh mulai bercucuran tipis saja, tapi music tradisional ini tak berhenti mengalun, sesaat diajaknya aku mengingat masa kecilku, bermain petak umpet, ular-ularan, dan mendendangkan lagu sepanjang zaman “rasa sayange”. Ya… disini aku merasa hidup, bersyukur karena aku terlahir di tanah sunda, aku menyanyikan lagu dengan bahasa ibuku, aku melirik ke atas tribun, dia masih terus memandangku, aku pun memandangnya dan tersenyum.

Thursday, October 20, 2011

romance d’amor


Lagu romance d’amor di mp3ku ini sudah ku putar untuk kesekian kalinya, aku hanyut didalamnya, tenggelam bersama petikan dawai yang memintal nada indah itu.

Entah apa yang kupikirkan, aku hanya membayangkan jika kamu yang memainkannya untukku langsung, tak akan aku berkedip karena aku tak ingin kehilangan moment untuk menonton permainan gitarmu, mungkin aku akan menjadi seperti sosok anak kecil yang hanyut oleh alunan musik. Atau aku akan bertingkah seperti remaja yang memainkan mata berbinar-binar mendengarnya, atau aku akan bertingkah seperti wanita dewasa, yang khusyuk menyimak satu persatu melodi, atau aku akan seperti seorang nenek yang perlahan memejamkan mata dan tertidur diiringi musik syahdu itu, entahlah.. aku tak ingin menjadi salah satu di antara mereka, aku hanya ingin menjadi aku...tak akan aku mengambil jarak darimu, akan kugenggam lututku kuat, sedikit kutundukkan kepalaku, sesekali melirik ke arahmu...tapi lebih banyak aku memilih menunduk, bukan hanya lagu ini yang membuatku hanyut, tapi karena kamu yang memainkannya.

...

Sudah terlalu lama, aku tak menyapamu dalam kata, kaupun begitu mendiamkanku begitu lama, hingga tak lagi mampu kuhitung hari, karena aku tak pernah tertarik dengan susunan terbit dan tenggelamnya matahari yang bagiku itu tak ada beda.

Aku hampir lupa aroma tubuhmu, tahun berlalu menguapkan semuanya, gerak-gerik, kosa-kata, senda gurau semua terlihat samar, terakhir kali bertemu, seperti biasanya kau membuat aku kelu, aku tak berani menatap tatapanmu, tatapan yang masih sama, dari dulu hingga kini.

Tidakkah kau lihat ada yang berubah pada diriku, raut mukaku yang sekarang tegas, wajah yang semakin tirus, kerutan di kelopak mata, dan satu lagi yang terpenting, kau telah benar-benar berhasil mengasah duri-duri di hati ini hingga menjadi taring tajam yang siap mengoyak siapapun yang mendekat.

Dulu, aku tak siap, ketika kau mengisyaratkan pergi dengan tatapanmu. Aku masih terlalu dini untuk kau lukai, dan aku saat itu sedang di mabuk asmara untuk selalu jatuh cinta kepadamu setiap hari.

Ini musim hujan yang kulewati kesekian kalinya tanpamu, tanpa pelukan, tanpa selimut yang selalu kau sampirkan ke tubuhku, tanpa air minum hangat, dan satu lagi, tanpa candamu mencandai hujan di depanku.

Aku tumbuh, aku berjalan, sesekali berlari, tertawa keras, hanya untuk meyakinkanku bahwa luka itu sudah sembuh…

Untuk kesekian kalinya, aku pun malam ini tergugu, menyusuri lorong gelap, menuju rumah entah siapa, tanpamu, tanpanya….