Sunday, December 18, 2011
Bantal, Guling dan Selimut
Friday, November 25, 2011
Guruku

Wednesday, November 23, 2011
Bunda
Kaki kecilmu melangkah disana
Mengurai waktu, mengetuk semua pintu
Kutemukan wajah letih dengan mata sembab
Tapi senyum itu tak pernah hilang, darimu…
Untukku…anakmu
masih kuingat jelas
rambut hitam, dan kulit kuning langsat itu
sekarang telah memutih dan mengkerut
betapa waktu sangat cepat mengubahnya
bunda…kita telah bersama-sama
mengayuh sampan menuju ujung muara
aku ingin tetap berada di sini, dekat denganmu
meski kamu berkali-kali bilang
sudah waktunya kau jalan sendiri nak…
Dialog Dengan Tuhan
Tuesday, November 22, 2011
expresi
Di sana, aku melompat bergerak kesana-kemari, menari centil, melenggokkan kepala, mengayunkan kaki, pinggul pun bergoyang, aku berputar diiringi tawa ceria semua orang, alunan music tradisional membuat aku makin menghentak, ya…aku bahkan tak peduli ketika ada sepasang mata memandangku dan mengabadikan itu dengan lensa kameranya. Thursday, October 20, 2011
romance d’amor

Lagu romance d’amor di mp3ku ini sudah ku putar untuk kesekian kalinya, aku hanyut didalamnya, tenggelam bersama petikan dawai yang memintal nada indah itu.
...
Sudah terlalu lama, aku tak menyapamu dalam kata, kaupun begitu mendiamkanku begitu lama, hingga tak lagi mampu kuhitung hari, karena aku tak pernah tertarik dengan susunan terbit dan tenggelamnya matahari yang bagiku itu tak ada beda.
Aku hampir lupa aroma tubuhmu, tahun berlalu menguapkan semuanya, gerak-gerik, kosa-kata, senda gurau semua terlihat samar, terakhir kali bertemu, seperti biasanya kau membuat aku kelu, aku tak berani menatap tatapanmu, tatapan yang masih sama, dari dulu hingga kini.
Tidakkah kau lihat ada yang berubah pada diriku, raut mukaku yang sekarang tegas, wajah yang semakin tirus, kerutan di kelopak mata, dan satu lagi yang terpenting, kau telah benar-benar berhasil mengasah duri-duri di hati ini hingga menjadi taring tajam yang siap mengoyak siapapun yang mendekat.
Dulu, aku tak siap, ketika kau mengisyaratkan pergi dengan tatapanmu. Aku masih terlalu dini untuk kau lukai, dan aku saat itu sedang di mabuk asmara untuk selalu jatuh cinta kepadamu setiap hari.
Ini musim hujan yang kulewati kesekian kalinya tanpamu, tanpa pelukan, tanpa selimut yang selalu kau sampirkan ke tubuhku, tanpa air minum hangat, dan satu lagi, tanpa candamu mencandai hujan di depanku.
Aku tumbuh, aku berjalan, sesekali berlari, tertawa keras, hanya untuk meyakinkanku bahwa luka itu sudah sembuh…
Untuk kesekian kalinya, aku pun malam ini tergugu, menyusuri lorong gelap, menuju rumah entah siapa, tanpamu, tanpanya….