
Hari ini 25 nopember, diperingati sebagai hari guru. Aku jadi teringat guru sekolah madrasahku, ya…sekolah madrasah, atau sekolah agama. Jadwal sekolahnya setelah sekolah dasar usai, dimulai dari jam 13.00 – 17.00, sekolah madrasah ini memiliki 4 tingkatan kelas, dari kelas 1 hingga kelas 4, maka akupun masuk menjadi siswi madrasah kelas 1 ketika aku berada di kelas 3 sekolah dasar, menurut ibuku katanya biar hitungannya pas, madrasah tamat, SD pun tamat.
Sekolah madrasahku namanya “Assalam” yang artinya pembuka. Letaknya persis dibelakang pasar, memiliki 2 ruangan yang berukuran kecil, karena ada 4 tingkatan kelas, maka guru pun membagi 1 ruangan untuk 2 kelas. Bayangkan, bagaimana penyampaian materi disana, di ruangan yang sama dihuni oleh 2 tingkatan kelas, kelas 1 & 2, kelas 3 & 4, blackboard yg hanya 1 di setiap ruangan akhirnya diberi batas oleh guru menjadi 2. Jujur saja, aku tak pernah fokus, bagaimana bisa fokus, ketika aku sedang belajar bahasa arab, adik tingkatku sedang belajar tarikh islam, beda tingkatan maka materi ajar pun berbeda. Tapi lagi-lagi ini lah kondisinya, bukti bahwa desa yang kudiami sangat tidak maju.
Letaknya yang persis dibelakang pasar, menjadikan seluruh aroma hadir disana, ikan asin, terasi, bau busuk sayuran, hiruk pikuk orang pasar, belum lagi tepat di belakang madrasahku itu adalah tempat pembuangan sampah, kadang sampah-sampah pasar itu di bakar, duh asapnya… masuk melalu jendela tak berkaca di kelasku.
Benar-benar memprihatinkan, itu kondisi yang ingin kusampaikan disini.
Murid-murid antusias memasuki kelas 1, tapi berlalunya waktu, hanya segelintir orang yang bertahan hingga di kelas 4, salah satunya aku dan ke-6 temanku, ya.. satu angkatan hanya terdiri dari paling banyak 7 orang,
Padahal kulihat di pasar banyak anak sebayaku berkeliaran bermain dengan kaki telanjang, mengapa mereka enggan untuk belajar agama?
Madrasah “assalam” ini tidak di subsidi oleh dinas pendidikan, guru hanya memanfaatkan 2 ruangan kosong untuk dijadikan tempat belajar, segala atribut mengajar dan gaji guru hanya berasal dari sumbangan orang tua, madrasah “assalam” ini tidak memungut bayaran, mereka hanya bilang “seikhlasnya saja”. Bayangkan lagi, dengan siswa yang hanya segelintir dan uang sumbangan orang tua murid yang seikhlasnya, berapa gaji guru disana? Pikiranku tak sampai ke gaji guru, karena uang itu akan habis di awal bulan untuk membeli kapur dan peralatan tulis lainnya.
Ada 3 guru, masing-masing guru untuk setiap mata pelajaran yang berbeda, semuanya naik sepeda, berkopiah, berkoko warna kusam, sekarang pun langsung terbayang di benakku bagaimana wajah Pak Dahlan, guru tarikh islam, dengan sepeda tua, sandal jepit, kopiah hitam, dan koko kusam, beliau selalu tersenyum menyapa semua muridnya yang totalnya dari kelas 1 hingga kelas 4 tak lebih dari 20 orang.
Ada lagi Pak Ahmadi, sepeda beliau sepeda paling bagus di antara guru lainnya, tapi tetap saja, sepedanya tak bermesin, padahal motor dan mobil lalu lalang di pasar yang berbatasan langsung dengan jalan raya.
Ibu Sri pun begitu, beliau naik becak ke “Assalam” kami biasanya langsung sumringah kalau bu Sri datang, Bu Sri bagai oase di tengah gurun, beliau selalu memanjakkan kami, karena beliau satu-satunya guru perempuan di Assalam.
Meski hanya segelintir murid saja, tapi jangan salah, prestasi murid Assalam setara dengan madrasah lainnya yang lebih bagus, “kami memang madrasah miskin, tapi ilmu kami tak pernah miskin” begitu kata Pak Ahmadi.
Di sini pun, aku punya teman dengan kualitas no 1, ada Lela jago ilmu sejarah islam, ada Andi dan Dadan jago ilmu hukum tajwid, maka ketika cerdas cermat antar madrasah sekecamatan digelar, kami tak ragu untuk maju, menjadi juara bukan tujuan kami, tapi membuat mereka tak lagi memandang kami sebelah mata itu yang kami inginkan.
Sekarang hari guru, bagaimana kondisi guru madrasahku sekarang?
oh ya..kuceritakan, tiap minggu di Assalam ini pasti ada hapalan qur’an, aku selalu deg-degan menghapal qur’an, tiba pelajaran hapalan, satu persatu maju ke ruang Pak Ahmadi, di test di sana, kami deg-degan kalau teman kami tak kunjung datang, pasti hapalannya tak lancar. Begitu tiba giliranku, hapalan yang semalam sudah berada di otakku, hilang menguap entah kemana ketika menatap pak Ahmadi, tak berani ku tatap beliau, aku hanya berani menatap jenggot panjangnya saja, penggaris kayu pun dipegangnya, ditepuk-tepuknya penggaris itu ke tangannya, ayoo… mana hapalanmu???ujarnya, aku memilin-milin ujung kerudung, hampir menangis rasanya, tapi teringat ucapan bu Sri, “Allah selalu dekat, ketika kamu ketakutan”, gelisahku sedikit menurun, aku terbata mengucap 3 ayat terakhir surat Al-baqoroh, 15 menit dengan pengulangan sampai 3x, aku terbebas dari tepukan di kakiku oleh penggaris kayu itu. Keringat sudah membanjiri kerudungku, tapi hari ini belum usai, masih ada lagi 2 hapalan percakapan dalam bahasa arab… akh.. dulu aku benci di hari jum’at, karena jumat adalah mata pelajaran hapalan.
4 tahun aku digembleng untuk berbicara dalam bahasa arab oleh pak Ahmadi, hingga aku harus setidaknya hapal beberapa surat di al-qur’an 4 tahun aku di ceritakan tentang kisah nabi oleh pak Dahlan, seringkali terkantuk-kantuk, tapi pak Dahlan dengan sigap tahu setiap muridnya yang mengantuk, kapur tulis di potongnya kecil-kecil, dan dilempar kepada murid yang mengantuk, aku tak mau menjadi target pelemparannya, maka kupaksakan mataku tak tidur saat pelajarannya. 4 tahun aku diberikan ilmu tentang akhlaq oleh bu Sri, dan bu Sri selalu mengemas setiap cerita menjadi hal yang menarik, 4 tahun aku jamaah solat asar bersama mereka, menimba air wudhu dari sumur, dengan badan yang kecil, berpakaian muslim, berkerudung, aku selalu kewalahan menimba, takut kecemplung. lalu setelahnya bukannya berwudhu malah asik main ciprat-cipratan bersama temanku. 4 tahun aku melewati bulan puasa di madrasah, dengan hapalan quran dan tadarus tiap hari, dengan target dari pak Ahmadi, tiap hari 1 juz al-quran, bayangkan lagi anak sekecil itu, betapa lelahnya membaca abjad arab tersebut.
13 tahun berlalu ketika aku dengan gembira mendekap surat kelulusan yang ditandatangani dinas pendidikan agama, 4 tahun menjalani sekolah dengan kondisi yang memprihatinkan, Rasanya lega-selega leganya, bagi anak seumuranku waktu itu, sekolah madrasah adalah penderitaan, waktu yang enak untuk bermain dan tidur siang dipakai untuk belajar, hapalan bahasa arab pula, dengan kondisi sekolah yang beraroma tak enak.
Dan sekarang, bagaimana nasib Assalamku…?
Bagaimana kabarmu guruku…?
******
Selamat hari guru
Banyak terima kasih kuhaturkan
untuk ilmu dan wejangan
Kini, ku nikmati kerja kerasmu,
aku baru mengerti apa yang mereka ajarkan ketika aku dewasa
guruku tercinta
Engkaulah pelita, penerang dalam gulita”
jasamu tiada tara…
No comments:
Post a Comment