Tuesday, May 14, 2013

Ketika Kuantitas mendefinisikan Kenormalan

http://haritsaja.files.wordpress.com/2011/12/bodoh_dan_bingung1.jpg

Saya menulis, karena saya sudah terlalu gerah dengan suara-suara yang lantang meneriakkan kenormalan, dimasyarakat kita yang masih menganut sistem “keturunan” dan “konservatif”, sesuatu baru dianggap normal jika berjumlah banyak. Jika jumlahnya sedikit maka dia adalah abnormal.

Contoh, ketika perempuan menikah di usia 20 – 25 tahun maka dia dianggap normal, lebih dari usia diatas, suara-suara miring makin terdengar nyaring. Memang saya setuju bukan tanpa alasan kebanyakan orang menyuarakan agar menikah di rentang usia tersebut, masa produktif wanita yang terbatas adalah faktor utama kenapa menikah seperti sebuah perlombaan, berlomba-lomba memproduksi keturunan sebelum masa produksi habis.

Menikah bukan lagi upacara sakral, tapi sebuah upacara yang terburu-buru. Alasan pernikahan pun menjadi beragam, dari mulai ingin meningkatkan status sosial, ingin punya anak, takut tidak ada jodoh lagi, menghindari omongan kerabat dan tetangga, sampai status klasik yaitu ingin melegalkan cinta.

Definisi pernikahan di indonesia menurut UU no 1 tahun 1974 adalah “ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Definisi ini menurut saya terlalu sempit, dan terbatas. Yang kemudian tergambar oleh pasutri adalah terburu-buru membuat keturunan, tanpa menikmati arti ikatan tersebut. Dalam Undang-undang tersebut seolah dibenarkan jika pernikahan dengan paksaan, pernikahan dengan yang belum matang pun sepertinya dibolehkan, yang jelas disana hanya berdasarkan gender, ada pria ada wanita maka boleh menikah.

Pulang



Kali ini kamu benar-benar “pulang”, wajahmu sumringah menyambut hari kepulangan itu tiba, kamu mendadak sehat, wajahmu segar, senyummu mengembang, biasanya yang kulihat hanya pucat, sekarang darah ditubuhmu sepertinya mengalir lagi, degup jantungmu juga berdetak normal, talunya terdengar oleh telingaku, aku senang, penyakit-penyakit itu sepertinya pelan-pelan memudar dari tubuhmu. 

Kemarin, kamu bercerita banyak tentang kisah kekasihmu itu, yang dengan setia kamu sebut “kanjeng rasul”, aku manggut-manggut, lalu kamu bercerita tentang kewajiban setiap muslim untuk memelihara anak yatim, mendengar kata yatim hatiku mencelos, aku tak nyaman dengan kata-kata itu, tapi kamu terlalu antusias untuk terus bercerita.

Makanmu banyak, dan kamu tak muntah. Batukmu pun mereda, dengan kondisi yang dirasa sehat kamu memainkan keyboard, menyanyikan lagu elegi esok pagi-nya Ebiet G. Ade, aku mendekat sambil kuambil gitar, dan aku mengalun denganmu, di depan kamar kulihat sosok perempuan yang tersenyum kepada kita, ditangannya ada dua air teh hangat, kita saling mengedip, suaraku menyelinap dibalik jari-jemarimu yang mahir memainkan tuts-tuts keyboard itu.

Thursday, April 25, 2013

Cinta


Aku memilih satu cinta, diantara banyaknya pilihan, cinta yang kutemukan tanpa sengaja diantara langkah-langkah saling mendahului para pejalan kaki sore itu, klakson mobil yang bersahut-sahutan sangat payah, membuat negeri yang kutinggali ini menjadi negeri yang beradab. 

Cinta yang masih mentah, aku sama sekali belum berpikir akan membentuknya seperti apa. Mungkin agar menjadi manis, akan kutambahi banyak madu dan gula, tapi aku tak mau membuatnya legit, seret di kerongkongan, aku berpikir ratusan kali untuk membuat citarasanya pas. 

Mungkin sebagian orang akan menganggapku bodoh atau bahkan gila, karena cinta yang kupilih terlalu biasa, mustinya aku mendapatkan yang istimewa kata mereka. Aku tersenyum kecut, aku telah memilih cinta itu, pilihan yang akan selalu kupertanggungjawaban hingga waktu lelah dengan sendirinya. 

Sunday, April 21, 2013

Kartini


Ini tanggal 21 april, sebagian besar orang mengenalnya dengan hari kartini, pahlawan nasional ke-23, dan pahlawan perempuan ke-3 setelah Dewi Sartika dan Cut Mutia. Pada tanggal tersebut Kartini hadir di setiap sudut kota, di Taman Kanak-kanak, instansi-instansi pemerintah, sanggul dan kebaya menjadi ciri tentangnya. 

Buah pemikiran Kartini dewasa ini dipersempit sebatas penanda sanggul dan kebaya. Padahal yang dilakukan Kartini lebih dari sebuah pergerakan perang fisik, jika Cut Nyak Dien dan Keumala Hayati menjadi sosok yang muncul gemilang pada masanya karena melawan penjajah dengan perang, maka Kartini cukup berperang dengan pena-nya mendobrak sistem feodalisme pada masa itu. Kehampaan Kartini akan hidupnya jelas tergambar dari tulisan-tulisannya, jika saja Kartini diberi waktu hidup lebih lama mungkin saja pemikirannya tidak sebatas pemikiran tapi dia menikmati buah pikirannya itu, atau bisa saja sebaliknya, setelah pernikahannya dengan seorang bupati mungkin dia akan menjadi ibu rumah tangga biasa, sesuai sistem yang berlaku saat itu, dimana peran seorang istri sama halnya dengan budak.

Monday, January 7, 2013

Tidak Cukupkah?


Aku telah begitu terbiasa dengan suara-suara, dengan petikan gitar, dengan berbagi banyak hal denganmu. Aku jadi ingat pada salah satu senja yang kita pilih, kita duduk di tengah hiruk pikuk kendaraan yang lalu lalang di lingkungan kampus terkenal itu, lalu seperti biasa tanganmu terampil memetik dawai, lagu-lagu yang tak pernah selesai, lirik-lirik yang berantakan, nada-nada yang ketinggian, tapi dengan begitu kamu sempurna dimataku. Aku menyimak semua ketidaksempurnaan itu dari awal hingga selesai, hingga tanganmu memutuskan berhenti.
Sudah… tanyaku?senja ini, kamu baru saja menuntaskan 3 lagu dengan lirik yang hampir setengahnya kamu lupa, kamu tersenyum malu… ya aku menikmati ini, senja dengan lagu yang tak pernah selesai.
Kamu masih ingat, ketika bulan masih siaga, kamu menceritakan kepadaku tentang dongeng di masa lampau, dongeng yang kamu pilih untuk mengantarkanku tidur, kali ini pun aku menyimak sambil mengantuk, tetapi bukankah itu yang kamu tuju?mengantarkanku pada batas sadar, meyilakanku masuk lebih awal ke gerbang mimpi untuk sesudahnya aku menunggumu di sana, terkadang kamu terlalu sibuk dengan aturan penulisan tugas akhirmu hingga akupun harus menunggu lama untuk berdua kamu di alam mimpi, kamu ingat?kamu melakukannya hampir setiap malam… membiarkanku menunggu terlalu lama, hingga akhirnya terkadang aku melakukan banyak hal yang tidak jelas, melompat, menyanyi dengan suara seadanya, bermain bersama kupu-kupu, bunga dan kumbang yang terbang tanpa aturan.
Aku selalu berharap matahari datang lebih lambat agar aku bisa lebih menikmati malam dengan panjang, tapi sayang matahari tak pernah ingkar janji, dia selalu pasti untuk terbit dan tenggelam sesuai aturan, lagi-lagi aku mengalah pada siklus semesta.
Dan kini…
Aku nikmati alunan suara saras dewi di earphone dengan hati yang entah tertuju kemana, yang kutahu hanya mataku basah, ada yang sakit di dada ini, terlalu banyak hal yang kamu tanyakan dengan jawaban yang tak pernah ada.
Lembayung Bali ini sudah kuputar untuk ke-tiga kalinya, suaranya semakin memelan kalah oleh suara hatiku yang menghentak-hentak, meminta banyak penjelasan darimu, mengapa semua harus kamu dengar secara lisan?tidak cukupkah semua yang kulakukan ini…?

Drama


Satu demi satu kebohongan itu akhirnya nampak
Menjelma lugas keluar dari rerimbunan
Aku tinggal menyaksikan rentetan drama
Seperti menonton film,
Tiba bagian klimaks
Kuhela nafas panjang
Menahan air mata yang tergesa keluar
Sudah..sudah, semua sudah usai
Ucapku pada diri
Rentetan drama akhirnya usai kutonton
Bertepuk tangan seolah menyoraki diri sendiri
Memberi selamat kepada para pemain
Dan segera kuhadiahi hatiku dengan kata “hebat” bertubi-tubi.

Friday, November 2, 2012

Di Sudut Kota


Hampir dini hari tapi kita masih belum terpejam, sengaja menghirup angin malam sambil memperhatikan beragam aktivitas di pusat kota ini, penjual wedang ronde, es potong, mainan anak, semua memenuhi pandangan mata, ada rasa aneh yang tiba-tiba mampir ketika kita duduk berdekatan, membicarakan aktivitas seharian, membicarakan orang-orang terdekat, berdiskusi tentang ini dan itu, rasanya aku tak perlu melakukannya sambil menatapmu, cukup mendengarkan suaramu saja, itu sudah membuatku tersihir.

Jarang sekali aku bisa serius, biasanya aku menanggapi semua hal dengan bercanda ataupun berucap manja, malam ini aku memintamu untuk menemaniku tanpa mengucap dengan rengekan manja tapi lebih seperti permintaan orang dewasa.