Tuesday, May 14, 2013

Pulang



Kali ini kamu benar-benar “pulang”, wajahmu sumringah menyambut hari kepulangan itu tiba, kamu mendadak sehat, wajahmu segar, senyummu mengembang, biasanya yang kulihat hanya pucat, sekarang darah ditubuhmu sepertinya mengalir lagi, degup jantungmu juga berdetak normal, talunya terdengar oleh telingaku, aku senang, penyakit-penyakit itu sepertinya pelan-pelan memudar dari tubuhmu. 

Kemarin, kamu bercerita banyak tentang kisah kekasihmu itu, yang dengan setia kamu sebut “kanjeng rasul”, aku manggut-manggut, lalu kamu bercerita tentang kewajiban setiap muslim untuk memelihara anak yatim, mendengar kata yatim hatiku mencelos, aku tak nyaman dengan kata-kata itu, tapi kamu terlalu antusias untuk terus bercerita.

Makanmu banyak, dan kamu tak muntah. Batukmu pun mereda, dengan kondisi yang dirasa sehat kamu memainkan keyboard, menyanyikan lagu elegi esok pagi-nya Ebiet G. Ade, aku mendekat sambil kuambil gitar, dan aku mengalun denganmu, di depan kamar kulihat sosok perempuan yang tersenyum kepada kita, ditangannya ada dua air teh hangat, kita saling mengedip, suaraku menyelinap dibalik jari-jemarimu yang mahir memainkan tuts-tuts keyboard itu.

Aku tahu benar, bagaimana aku kagum akan kemampuan bermusikmu, sebelum aku menggemari banyak musisi, yang pertama ku kagumi adalah kamu. Kita makin terhanyut dalam alunan suara, aku bahkan ingin dunia berhenti berputar, waktu pun diam. Aku hanya ingin menikmati permainanmu, permainan yang sederhana tapi selalu mengagumkan untukku, karena yang selalu keluar darimu bukanlah sesuatu yang mewah.

Mobil tua itu adalah saksi bisu bagaimana kamu bermula, mencari keringat, mencurahkan kasih untuk anggota keluarga, kini mobil itu pun menjadi yatim, keyboard dan gitar pun mengalami nasib yang sama. Sentuhan khasmu tak kan lagi mereka rasakan.

Tiba-tiba aku tersedak, air mataku membuncah. Aku memainkan keyboard dengan cara brutal, aku telah lupa bagaimana mesti memperlakukannya karena aku kini bermain sendiri, kamu “pulang” ketika aku masih sangat membutuhkanmu untuk pelindungku, aku masih sangat rapuh untuk menghadapi berbagai berondongan pertanyaan yang terdengar tolol keluar dari orang-orang yang mengatasnamakan dirinya adalah orang lurus.

Ini terlalu cepat.

Kamu membiarkanku sendiri menghadapi rintik hujan yang selalu datang kerap dan bertubi-tubi, kamu bilang bahwa hidup tak pernah berhenti, hidup hanya berubah wujud, dulu kita tak bersekat, sekarang ada sekat tipis yang sukar dirobek, tetapi bisa dilihat karena sekat itu transparan, kamu bilang, hiduplah untuk melakukan perjalanan bukan untuk meraih tujuan, rumus hidup sederhana, bukan diantara dua pilihan apakah jalan lurus atau berkelok, tetapi hidup harusnya menyisakan satu pilihan, “janganlah menyakiti orang lain”, itu cukup buatku.. katamu.

Perempuan pembawa air teh masih saja sama, berdiri ditempat yang sama, sambil tersenyum ke arah keyboard, air teh yang dibuatnya selalu saja dua, meski yang selalu habis hanyalah satu, yang satunya akan dia buang, lalu esok dia buatkan lagi.

Didalam sekat yang transparan itu, matamu teduh, kubaca gerak bibirmu, sekilas tertangkap olehku “aku sayang kamu, jaga ibu”.

Air mataku mengucur deras, aku menikmati rasa kehilangan ini dengan tangisan, sebelum semuanya benar-benar kering.

Entah esok atau lusa mungkin giliranku untuk “pulang” karena “Pulang” adalah kata mutlak untuk setiap mereka yang pergi.



_________________________________________________________________________________
tulisan ini didedikasikan "untuk kamu yang sedang kehilangan"
Ket : gambar di pinjam dari sini

No comments:

Post a Comment