
Kali ini kamu benar-benar “pulang”, wajahmu sumringah
menyambut hari kepulangan itu tiba, kamu mendadak sehat, wajahmu segar,
senyummu mengembang, biasanya yang kulihat hanya pucat, sekarang darah
ditubuhmu sepertinya mengalir lagi, degup jantungmu juga berdetak normal,
talunya terdengar oleh telingaku, aku senang, penyakit-penyakit itu sepertinya
pelan-pelan memudar dari tubuhmu.
Kemarin, kamu bercerita banyak tentang kisah kekasihmu itu,
yang dengan setia kamu sebut “kanjeng rasul”, aku manggut-manggut, lalu kamu
bercerita tentang kewajiban setiap muslim untuk memelihara anak yatim,
mendengar kata yatim hatiku mencelos, aku tak nyaman dengan kata-kata itu, tapi
kamu terlalu antusias untuk terus bercerita.
Makanmu banyak, dan kamu tak muntah. Batukmu pun mereda,
dengan kondisi yang dirasa sehat kamu memainkan keyboard, menyanyikan lagu elegi
esok pagi-nya Ebiet G. Ade, aku mendekat sambil kuambil gitar, dan aku mengalun
denganmu, di depan kamar kulihat sosok perempuan yang tersenyum kepada kita,
ditangannya ada dua air teh hangat, kita saling mengedip, suaraku menyelinap
dibalik jari-jemarimu yang mahir memainkan tuts-tuts keyboard itu.