Monday, January 7, 2013

Tidak Cukupkah?


Aku telah begitu terbiasa dengan suara-suara, dengan petikan gitar, dengan berbagi banyak hal denganmu. Aku jadi ingat pada salah satu senja yang kita pilih, kita duduk di tengah hiruk pikuk kendaraan yang lalu lalang di lingkungan kampus terkenal itu, lalu seperti biasa tanganmu terampil memetik dawai, lagu-lagu yang tak pernah selesai, lirik-lirik yang berantakan, nada-nada yang ketinggian, tapi dengan begitu kamu sempurna dimataku. Aku menyimak semua ketidaksempurnaan itu dari awal hingga selesai, hingga tanganmu memutuskan berhenti.
Sudah… tanyaku?senja ini, kamu baru saja menuntaskan 3 lagu dengan lirik yang hampir setengahnya kamu lupa, kamu tersenyum malu… ya aku menikmati ini, senja dengan lagu yang tak pernah selesai.
Kamu masih ingat, ketika bulan masih siaga, kamu menceritakan kepadaku tentang dongeng di masa lampau, dongeng yang kamu pilih untuk mengantarkanku tidur, kali ini pun aku menyimak sambil mengantuk, tetapi bukankah itu yang kamu tuju?mengantarkanku pada batas sadar, meyilakanku masuk lebih awal ke gerbang mimpi untuk sesudahnya aku menunggumu di sana, terkadang kamu terlalu sibuk dengan aturan penulisan tugas akhirmu hingga akupun harus menunggu lama untuk berdua kamu di alam mimpi, kamu ingat?kamu melakukannya hampir setiap malam… membiarkanku menunggu terlalu lama, hingga akhirnya terkadang aku melakukan banyak hal yang tidak jelas, melompat, menyanyi dengan suara seadanya, bermain bersama kupu-kupu, bunga dan kumbang yang terbang tanpa aturan.
Aku selalu berharap matahari datang lebih lambat agar aku bisa lebih menikmati malam dengan panjang, tapi sayang matahari tak pernah ingkar janji, dia selalu pasti untuk terbit dan tenggelam sesuai aturan, lagi-lagi aku mengalah pada siklus semesta.
Dan kini…
Aku nikmati alunan suara saras dewi di earphone dengan hati yang entah tertuju kemana, yang kutahu hanya mataku basah, ada yang sakit di dada ini, terlalu banyak hal yang kamu tanyakan dengan jawaban yang tak pernah ada.
Lembayung Bali ini sudah kuputar untuk ke-tiga kalinya, suaranya semakin memelan kalah oleh suara hatiku yang menghentak-hentak, meminta banyak penjelasan darimu, mengapa semua harus kamu dengar secara lisan?tidak cukupkah semua yang kulakukan ini…?

Drama


Satu demi satu kebohongan itu akhirnya nampak
Menjelma lugas keluar dari rerimbunan
Aku tinggal menyaksikan rentetan drama
Seperti menonton film,
Tiba bagian klimaks
Kuhela nafas panjang
Menahan air mata yang tergesa keluar
Sudah..sudah, semua sudah usai
Ucapku pada diri
Rentetan drama akhirnya usai kutonton
Bertepuk tangan seolah menyoraki diri sendiri
Memberi selamat kepada para pemain
Dan segera kuhadiahi hatiku dengan kata “hebat” bertubi-tubi.

Friday, November 2, 2012

Di Sudut Kota


Hampir dini hari tapi kita masih belum terpejam, sengaja menghirup angin malam sambil memperhatikan beragam aktivitas di pusat kota ini, penjual wedang ronde, es potong, mainan anak, semua memenuhi pandangan mata, ada rasa aneh yang tiba-tiba mampir ketika kita duduk berdekatan, membicarakan aktivitas seharian, membicarakan orang-orang terdekat, berdiskusi tentang ini dan itu, rasanya aku tak perlu melakukannya sambil menatapmu, cukup mendengarkan suaramu saja, itu sudah membuatku tersihir.

Jarang sekali aku bisa serius, biasanya aku menanggapi semua hal dengan bercanda ataupun berucap manja, malam ini aku memintamu untuk menemaniku tanpa mengucap dengan rengekan manja tapi lebih seperti permintaan orang dewasa.

Saturday, September 1, 2012

Apa kabar?


Lama kita tak bertemu, berganti musim, berpindah tempat...

Pertemuan kita selalu singkat, karena kamu selalu datang ketika matahari tepat di atas kepalamu, tidak sekalipun kamu datang kala sinar matahari sehasta bahuku, lalu kamu pulang, bila malam sudah terlalu pekat, aku hapal ritme itu, tidakkah ingin kamu tinggal lebih lama? Menyaksikan fajar berdua, mengulum malam dengan tubuh yang melekat?

Aku masih hapal senyummu, senyum ketika kuhardik karena kudapati kamu merokok di depanku, batang-batang rokok yang selalu kusembunyikan hingga akhirnya kamu menyerah mematikan ujung pilinan tembakau itu dengan paksa, sudah kukatakan berulang kali, bagaimana bibir kita akan berpagut jika kudapati bau nikotin menyengat dari mulutmu, atau ajari saja aku sekalian menjadi perokok, biar kita sama-sama saling menghisap, saling membaui aroma yang sama keluar dari mulut kita. Kamu dengan cepat menggeleng... aku menyerah, aku mengalah, aku tidak merokok setidaknya didepanmu katamu.

Tuesday, August 7, 2012

Rama, Sinta dan Rahwana


Membaca ulang kisah klasik cerita ramayana, yang diambil dari kitab Mahabarata yang dikemas dan dituturkan secara apik juga indah oleh Sindhunata pada bukunya Anak Bajang Menggiring Angin, membuatku lebih banyak tahu dan belajar.

Siapa yang tidak mengenal Kisah cinta Rama – Sinta – Rahwana ini? Rama dan Sinta adalah icon untuk orang-orang yang berpasangan, tampan dan cantik, tutur kata dan tingkah lakunya baik, keduanya dari keluarga baik-baik, keduanya juga sama-sama keturunan ksatria, tetapi apakah mesti selalu begitukah konsep berpasangan?lalu bagaimana dengan kisah anak-anak Adam diawal-awal masa penciptannya Allah menyuruh untuk yang tampan berpasangan dengan yang jelek, Qabil yang tampan menikahi adiknya Labuda yang jelek, juga Iqlima yang cantik menikahi habil yang buruk rupa?


Mencari


Pernahkah kalian mencari, terus mencari tanpa pernah tau apa yang kalian cari.


Aku pernah...

Menggeret kakiku untuk terus melangkah menuju delapan arah mata angin, dengan binar mata yang redup, rambut kusut, sekujur tubuh bau panas matahari, sorot gelisah terus menggayut, ekpresi ketidak puasan, dan yang paling inti... melangkah tanpa tujuan.

Berlari dari satu tempat ke tempat lainnya... singgah pada beberapa kota, sejenak beban terlupa, tertawa terbahak, mengomentari banyak hal, pejalan kaki, supir bus, taman kota, perempuan-perempuan malam (aku masih ragu apakah mereka benar-benar perempuan), menjejali mulut dengan aneka rasa kuliner, menonton musik dangdut pinggiran, ke museum, dan banyak hal.

Lalu apakah selesai sampai disana...

Tidak...ketika pulang, yang kudapati adalah pencarian tanpa hasil, gelisah masih saja ada.

Entah kenapa... itu tak juga berujung.

Mungkin ini karena aku kangen kamu, sampai terbawa mimpi...  

Jadi ingat, beberapa malam lalu, aku bermimpi bertemu kamu, di suatu kota yang asing, kamu dengan kemeja kotak-kotak dan rambut kusut, pandanganmu kosong... aku menyongsongmu dengan haru, begitu sebaliknya, kita berpelukan... lalu bantal guling menjadi basah, ternyata tangisku nyata.

Sedemikiankah pencarianku akanmu??
Gelisahku reda...? tidak juga.

Sampai sekarang aku masih mencari, dimana perhentianku selanjutnya...

Wednesday, August 1, 2012

obrolan mereka


Matahari masih belum nampak dari ufuk timur, bulan masih siaga, ayam-ayam pun masih terlelap. Hening diiringi hembusan angin kemarau yang mulai kencang, lampu kamar masih redup, yang terdengar hanya suara detak dari jam tangan  analog.

Meja hias, kursi dan meja di depan televisi, lemari pakaian, karpet yang tergelar, semuanya mendengarkan dengan khidmat percakapan bantal, guling dan selimut yang berlangsung sejak tadi.
“bantal, coba kamu ceritakan apa istimewamu, ujar guling. Aku pernah menjadi tempat bersandarnya 2 kepala, 2 kepala itu selalu bercerita tentang hari yang mereka jalani, kejadian lucu hingga derai tawa yang manja, rambut yang bersatu, sering juga kudengar suara kecupan kecil di kepala. Aku senang pernah menjadi saksi untuk cerita mereka, lalu bagaimana denganmu guling?ujar bantal.