Thursday, November 10, 2022

Memilih Minimalisme

Ini postingan pertama setelah 2 tahun tidak lagi menulis di rumah kesayangan ini. 

Apa yang terjadi selama dua tahun? Banyak! bahkan sejarah mencatat wabah besar yang dialami oleh umat manusia, COVID-19, yang hingga saat ini ditulis masih juga terdapat kasus aktif di beberapa negara dan bahkan efek long covid masih dirasakan hingga kini oleh banyak penyintas covid-19.

Lalu apa yang terjadi dengan saya?Bagi saya, 2020 merupakan titik mula beperjalanan. Ini titik dimana saya berpikir tentang apa yang hendak  saya maui besok, dan cara hidup seperti apa yang  saya iingini. Semakin 'menua' pencarian mengenai identitas juga nilai kehidupan semakin lekat untuk terus dipikirkan. Tak ingin hidup hanya mengalir begitu saja, tak terima waktu hanya dipakai untuk melakukan aktifitas yang itu-itu saja. 

Beruntung, pandemi covid-19 memaksa saya untuk terus berpikir keras tentang esensi hidup manusia. Esensi yang belakangan kian hilang. Waktu yang luang memberi saya banyak kesempatan untuk mencari referensi melalui film, buku dan perbincangan hangat dengan beberapa teman. 

Monday, February 3, 2020

Monolog Wanodja Soenda: Suara Perempuan dalam Balutan Pagelaran Mewah


Suatu hari saya mendapat pesan whatsapp dari kang Deni, pemilik Toko buku Lawang Buku. Beliau memberikan e-poster tentang pementasan Monolog Wanodja Soenda yang akan diselenggarakan tanggal 29 Januari 2019 di Hotel Savoy Homan. Raden Ayu Lasminingrat, Raden Dewi Sartika, dan Raden Emma Poeradireja adalah tiga perempuan yang menjadi tokoh dalam monolog tersebut. Bukan main gembiranya hati saya, mengingat kisah tentang mereka memang layak untuk terus diperkenalkan, dan digaungkan suaranya kepada publik. Kiprah ketiganya tak main-main dalam pendidikan dan organisasi perempuan.

Tentu saja yang membuat semangat saya semakin menyala pada pementasan ini adalah dinyaringkannya suara Lasminingrat Raden Ayu Lasminingrat, tokoh perempuan yang semua karyanya saya baca dan ulas dua tahun belakangan ini. Saya sangat penasaran seperti apa sosok Lasmi akan dihadirkan.

Tak menunggu lama, saya langsung mengontak panitia untuk memesan tiket, harga tiket masuk atau pihak panitia menamakannya sebagai donasi sebesar Rp. 250.000,-. Dalam pemikiran saya, dengan donasi tersebut, orang-orang yang butuh pengetahuan tetapi kekurangan finansial tidak akan dapat menontonnya. Akses untuk mendapat pengetahuan dan informasi seharusnya dibuka lebar, mengingat ketiga tokoh perempuan tersebut milik masyarakat luas.

Tempat pementasan yang berada di tengah kota membuat saya sedikit bernafas lega, karena mudah diakses dari arah Bandung Selatan. Dalam bayangan saya, tempat pertunjukan harus memenuhi kriteria sebagai tempat pertunjukan seperti tempat duduk yang berundak (level) tidak datar, maupun sound system yang terawat dan biasa dipakai khusus pertunjukan.

Wednesday, August 14, 2019

Agama : Kesadaran atau Warisan



Sengaja saya membuat judul tulisan ini seperti di atas. Tak ada apapun hanya ingin meyakinkan apa yang sedang saya anut dan perjuangkan. Agama lahir 2 abad yang lalu. Sejumlah kisah heroik dan keteladanan dilahirkan melalui sumber-sumber yang dinamakan kitab suci. Kitab suci diyakini sebagai firman dari yang Maha Suci. Illah. Sejak saat itu, semua hadir atas nama agama. Seluruh aspek manusia diatur oleh agama, meski tak sedikit yang merasa tak sreg.

Jauh dari kelahiran agama. Orang-orang zaman dulu meyakini sesuatu menurut nuraninya, entah apakah yang dilihat itu adalah bintang, atau pelangi atau bulan dan matahari. Tak ada hukum yang mengikat mereka. Semua tergantung oleh waktu berpindahnya siang menjadi malam, malam menjadi siang.

Kini. Produk-produk agama muncul meluber. Membuat sesak dan sedikit memualkan. Banyak oknum yang mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Dia sering kali dijadikan kambing hitam atas beragam tindakan keji di muka bumi ini. Membunuh, memperkosa, membatasi gerak perempuan, membakar tempat ibadah lainnya, membuat hidup orang yang tak sealiran menjadi sengsara. Atas nama Dia mereka tergelat di lautan tangisan dan darah orang-orang yang dihakiminya.

Agama yang sejatinya lahir untuk mendamaikan kini diperalat menjadi roda meraih kekuasaan dan uang. Agama apa yang kalian anut, Tuhan mana yang kalian imani? Apakah agama yang dihuni orang-orang yang penuh kemunafikan? Korupsi, dan beristri banyak? Ataukah agama yang melempem, diam saja melihat kemanusiaan dihancurkan di depan mata.

Lepaskan segera agama-agama yang kalian yakini sebagai agama warisan tersebut.
Carilah agama dan Tuhan-Tuhan baru.

Carilah Tuhan yang benar-benar Maha Asih. Tuhan yang Maha Asih tidak akan hadir pada orang-orang brutal yang berteriak-teriak mengumandangkan nama Tuhannya di jalan-jalan dengan beringas. Tuhan yang Maha Asih penikmat kesunyian, ia rindu dipanggil dengan lirih.


Monday, January 7, 2019

Ibu dan Hari Demokrasi


Pagi itu tak seperti biasanya, orang-orang dewasa mulai sibuk berdandan. Tak mau kalah, bocah-bocah berlarian hilir mudik. Sekolah dan kantor diliburkan. Senin, 5 juli 2004 menjadi hari bersejarah. Pemilihan presiden diadakan pertama kali secara langsung sejak negara ini didirikan.

Di jalanan, bentangan spanduk dengan warna dasar merah berkibar-kibar meriah. Merah. Merah. Tinggal di daerah dengan basis massa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan membuat mata ini tak mentolerir ada warna lain selain merah. Saat itu saya masih belum paham apa makna pemilu bagi saya, seorang remaja yang beranjak dewasa.

Ibu, dari jauh-jauh hari sudah menentukan pilihan. Kali ini ia berbeda pilihan dari keluarga besarnya. Dilahirkan dari keluarga yang cukup religius membuat ibu seperti mengemban tanggung jawab untuk memilih partai berlogo kabah dalam setiap pemilu. “Hanya itu partai yang mewakili islam”, kata aki kepadanya berpuluh tahun lalu. Bapak, lain lagi, Ia seorang guru, abdi negara, pns sejati. Pada partai berlogo beringin bapak menambatkan hatinya. “Kamu, kita semua bisa makan karena partai itu”. Begitu ia menekankan pada saya berkali-kali. Lagi-lagi saya masih tak peduli, saya tak paham.

Friday, December 28, 2018

Perpusnas RI : Surga Para Pencari

Foto dokumentasi pribadi

Pagi-pagi sekali saya sudah bersiap. Jadwal keberangkatan kereta api jam 07.35 membuat saya harus bersigegas sejak suara sayup speaker musola di samping rumah terdengar. Hari itu, 2 November saya menuju Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) di Jakarta.

3 jam perjalanan, jarak tempuh kereta Bandung-Jakarta terasa sangat singkat. Kereta berhenti di stasiun akhir, Gambir. Udara ibukota mulai menyergap, keringat dengan cepat membasahi tubuh. Saya disambut luapan massa yang saat itu sedang berkumpul di Monas, membuat sulit bergerak.

Gedung tinggi menjulang 27 lantai itu bukan saja menjadi harapan para pencari data tetapi menjadi pengguyur dahaga saya setelah cukup penat berjibaku hampir 45 menit dalam lautan massa. Sebenarnya, jarak dari stasiun kereta Gambir ke Perpusnas RI tidaklah jauh, hanya lima menit saja dengan menggunakan motor, bahkan bisa berjalan kaki. Gedung Perpusnas RI yang baru saja diresmikan kini menjadi salah satu ikon Indonesia, terletak di pusat kota mudah dijangkau oleh siapa saja.

Tentu saya tak sendiri, teman saya sudah menunggu untuk menemani dan membantu proses pencarian data. Ia, sudah lebih dulu ada di Jakarta. Kami saling berbagi tugas. Proses pencarian tidaklah mudah. Saya mengibaratkan data itu seperti jodoh, ia akan datang di saat yang tepat.

Wednesday, October 31, 2018

Perempuan dalam Pelukan


Siang itu, 29 Oktober 2018, dengan langkah ringan saya meninggalkan toko buku. Hujan mulai turun tipis-tipis. Toko buku di jalan Merdeka Bandung ini memang kerap kali menjadi tempat favorit saya untuk membeli buku, peralatan maupun sekedar membaca.

Saya pun berjalan melewati koridor yang menghubungkan kedua bangunan. Tepat ketika kaki saya melangkah ke pintu gedung toko buku untuk menuju tampat parkir tiba-tiba ada yang memanggil nama saya dengan jelas dan setengah berteriak. Lima detik pertama, saya terpaku. Rasanya tak percaya dengan apa yang saya lihat. Dengan hati gelisah saya mendatanginya, mencium tangan perempuan itu.

Dari ujung matanya, saya pun bisa menangkap perasaannya sedang tak karuan. Mulutnya antusias bertanya banyak hal, pertanyaan yang remeh temeh, sekedar basa basi. Saya pun menimpalinya dengan sedikit tidak nyaman. Tanpa sadar, kami berdua ternyata masih menyimpan perasaan yang belum selesai.

Setelah obrolan basa basi yang berlangsung lima menit, dengan serta merta ia memeluk saya. Tubuhnya yang tambun, adalah tubuh yang sering sekali saya peluk, dulu…dulu sekali. Saya masih dapat membaui aroma parfumnya yang masih sama.

Sunday, August 19, 2018

Politik dan Hari-hari yang Kelam


Sejak diumumkannya Capres dan cawapres tanggal 10 Agustus lalu untuk periode 2019-2024 suasana seantero negeri pun gegap gempita. Orang-orang bersuara mengeluarkan pendapatnya. Ada yang berpendapat dengan ambisius dan heroik membela capres pilihannya, ada juga yang sibuk mencari-cari kesalahan. Yang paling banyak dan menyedihkan adalah suara-suara itu berkembang tanpa data. Fitnah-fitnah tersebar di ruang maya dan dengan segera dikonsumsi masyarakat luas.

Tidak hanya di kota, gema politik pun ternyata sampai di pelosok desa. Jika dahulu kebanyakan masyarakat desa bersikap masa bodoh dengan dunia politik, sekarang mereka menjadi ‘melek’ politik, saling melempar gagasan, beropini, berdebat dan saling menyerang pendapat lawan. Sayangnya kebanyakan perdebatan hanya didasari oleh kebencian. Kebencian itu bukan hanya dikonsumsi oleh orang dewasa saja tetapi sudah melibatkan anak-anak kecil yang belum memiliki hak pilih. Mereka menjelekkan Jokowi tanpa rasa sungkan, semua aspek dikulitinya, pantangan untuk tidak berkampanye SARA pun diabaikannya. Begitu juga sebaliknya, Prabowo dijatuhkan dari segala aspek, hingga seolah-olah tak satupun ada kebaikan yang tersisa. Dengan cara seperti ini tak ada yang mereka raih kecuali kepuasan telah ‘merasa’ menyelamatkan negara dari pemimpin dzalim.