Sejak diumumkannya
Capres dan cawapres tanggal 10 Agustus lalu untuk periode 2019-2024 suasana
seantero negeri pun gegap gempita. Orang-orang bersuara mengeluarkan
pendapatnya. Ada yang berpendapat dengan ambisius dan heroik membela capres
pilihannya, ada juga yang sibuk mencari-cari kesalahan. Yang paling banyak dan menyedihkan
adalah suara-suara itu berkembang tanpa data. Fitnah-fitnah tersebar di ruang
maya dan dengan segera dikonsumsi masyarakat luas.
Tidak hanya
di kota, gema politik pun ternyata sampai di pelosok desa. Jika dahulu
kebanyakan masyarakat desa bersikap masa bodoh dengan dunia politik, sekarang
mereka menjadi ‘melek’ politik, saling melempar gagasan, beropini, berdebat dan
saling menyerang pendapat lawan. Sayangnya kebanyakan perdebatan hanya didasari
oleh kebencian. Kebencian itu bukan hanya dikonsumsi oleh orang dewasa saja
tetapi sudah melibatkan anak-anak kecil yang belum memiliki hak pilih. Mereka
menjelekkan Jokowi tanpa rasa sungkan, semua aspek dikulitinya, pantangan untuk
tidak berkampanye SARA pun diabaikannya. Begitu juga sebaliknya, Prabowo
dijatuhkan dari segala aspek, hingga seolah-olah tak satupun ada kebaikan yang tersisa. Dengan
cara seperti ini tak ada yang mereka raih kecuali kepuasan telah ‘merasa’
menyelamatkan negara dari pemimpin dzalim.
Ini baru
permulaan. Pemilihan capres dan cawapres masih delapan bulan lagi. Ketidakmapanan
masyarakan kita dalam bersikap politik dijadikan sasaran empuk para penyebar
fitnah. Tak dapat dibayangkan berapa banyak kata-kata tajam yang akan keluar
semena-mena tanpa filter hanya untuk menjatuhkan lawan. Tak bisa dihitung akan
berapa banyak fitnah yang harus didengar. Masyarakat desa yang kebanyakan berlatar
pendidikan SD, tidak pernah terlibat dalam partai politik, tidak pernah juga
mencapai jabatan/kedudukan di pemerintahan harus menjadi korban dari konsep
berpolitik yang buruk yang diciptakan oleh para elit parpol.
Konsentrasi
sebagian masyarakat desa terganggu. Mereka yang seharusnya masih berfokus untuk
bekerja keras dan berkarya demi menaikkan taraf hidupnya, kini terbawa arus
politik. Beropini tanpa data, beragumentasi tanpa berpikir. Habis sudah energi
untuk menjalani hari-hari yang positif. Pemilihan capres dan cawapres merupakan
pesta demokrasi terbesar yang seharusnya dijalani dengan suka ria. Bukan dengan
menyiapkan amunisi terus-terusan untuk menjatuhkan lawan.
Gara-gara
politik, di pedesaan hari-hari yang damai perlahan memudar, berganti dengan
teriakan dan pekikan membela idolanya. Karena perbedaan pandangan politik pula,
hubungan persaudaraan pun mulai terancam. Ah…sayang, sekencang apapun mereka berteriak,
itu tak akan membuat kehidupannya berubah. Setelah hari-hari yang penuh
kemuakan ini berlalu, mereka masih seperti dahulu, menjadi petani, menjadi
buruh, menjadi supir, dan tentu saja siapapun yang jadi pemimpin nanti, mereka
tetap harus bekerja keras untuk bisa menikmati hidup.
Casino - DRMCD
ReplyDeleteExperience the elegance of Las Vegas 김포 출장안마 from 사천 출장안마 a luxurious hotel and casino floor with 진주 출장안마 a 경상북도 출장마사지 view to a world of luxury. Experience it at DRM.D. - the 논산 출장샵 world's best