Sunday, August 19, 2018

Politik dan Hari-hari yang Kelam


Sejak diumumkannya Capres dan cawapres tanggal 10 Agustus lalu untuk periode 2019-2024 suasana seantero negeri pun gegap gempita. Orang-orang bersuara mengeluarkan pendapatnya. Ada yang berpendapat dengan ambisius dan heroik membela capres pilihannya, ada juga yang sibuk mencari-cari kesalahan. Yang paling banyak dan menyedihkan adalah suara-suara itu berkembang tanpa data. Fitnah-fitnah tersebar di ruang maya dan dengan segera dikonsumsi masyarakat luas.

Tidak hanya di kota, gema politik pun ternyata sampai di pelosok desa. Jika dahulu kebanyakan masyarakat desa bersikap masa bodoh dengan dunia politik, sekarang mereka menjadi ‘melek’ politik, saling melempar gagasan, beropini, berdebat dan saling menyerang pendapat lawan. Sayangnya kebanyakan perdebatan hanya didasari oleh kebencian. Kebencian itu bukan hanya dikonsumsi oleh orang dewasa saja tetapi sudah melibatkan anak-anak kecil yang belum memiliki hak pilih. Mereka menjelekkan Jokowi tanpa rasa sungkan, semua aspek dikulitinya, pantangan untuk tidak berkampanye SARA pun diabaikannya. Begitu juga sebaliknya, Prabowo dijatuhkan dari segala aspek, hingga seolah-olah tak satupun ada kebaikan yang tersisa. Dengan cara seperti ini tak ada yang mereka raih kecuali kepuasan telah ‘merasa’ menyelamatkan negara dari pemimpin dzalim.


Ini baru permulaan. Pemilihan capres dan cawapres masih delapan bulan lagi. Ketidakmapanan masyarakan kita dalam bersikap politik dijadikan sasaran empuk para penyebar fitnah. Tak dapat dibayangkan berapa banyak kata-kata tajam yang akan keluar semena-mena tanpa filter hanya untuk menjatuhkan lawan. Tak bisa dihitung akan berapa banyak fitnah yang harus didengar. Masyarakat desa yang kebanyakan berlatar pendidikan SD, tidak pernah terlibat dalam partai politik, tidak pernah juga mencapai jabatan/kedudukan di pemerintahan harus menjadi korban dari konsep berpolitik yang buruk yang diciptakan oleh para elit parpol.

Konsentrasi sebagian masyarakat desa terganggu. Mereka yang seharusnya masih berfokus untuk bekerja keras dan berkarya demi menaikkan taraf hidupnya, kini terbawa arus politik. Beropini tanpa data, beragumentasi tanpa berpikir. Habis sudah energi untuk menjalani hari-hari yang positif. Pemilihan capres dan cawapres merupakan pesta demokrasi terbesar yang seharusnya dijalani dengan suka ria. Bukan dengan menyiapkan amunisi terus-terusan untuk menjatuhkan lawan.

Gara-gara politik, di pedesaan hari-hari yang damai perlahan memudar, berganti dengan teriakan dan pekikan membela idolanya. Karena perbedaan pandangan politik pula, hubungan persaudaraan pun mulai terancam. Ah…sayang, sekencang apapun mereka berteriak, itu tak akan membuat kehidupannya berubah. Setelah hari-hari yang penuh kemuakan ini berlalu, mereka masih seperti dahulu, menjadi petani, menjadi buruh, menjadi supir, dan tentu saja siapapun yang jadi pemimpin nanti, mereka tetap harus bekerja keras untuk bisa menikmati hidup.





1 comment:

  1. Casino - DRMCD
    Experience the elegance of Las Vegas 김포 출장안마 from 사천 출장안마 a luxurious hotel and casino floor with 진주 출장안마 a 경상북도 출장마사지 view to a world of luxury. Experience it at DRM.D. - the 논산 출장샵 world's best

    ReplyDelete