Monday, May 8, 2023
Satu Tahun Resign
Sunday, April 2, 2023
Cara Saya Memulihkan Trauma
Patah hati terbesar saya adalah ketika bapak meninggalkan saya, ibu dan kakak tahun 2005. Saat itu adalah momen saya memasuki bangku kuliah. Kepergiannya menandai luka batin terbesar pertama saya. Sayangnya, ia pergi tanpa penjelasan, tanpa maaf dan penyesalan. Ia tak pernah menanyai bagaimana kabar saya, bagaimana saya makan, bagaimana saya bisa membiayai kuliah, apakah saya bisa mengerjakan ujian, atau gimana cara saya bertahan hidup selama di kota rantauan, hingga tahun-tahun sesudahnya ia mungkin lupa (tak pernah) bertanya.
Rasa sakit itu ternyata melekat, tak mau hilang. Orang pertama yang saya harapkan dapat melindungi saya ketika masa pendewasaan ternyata menjadi orang yang paling menyakiti saya.
Untungnya dengan segala sakit tersebut saya tetap mampu menjalani hidup dengan baik, menyelesaikan kuliah tepat waktu, tentunya dengan pertolongan banyak orang.
Friday, January 13, 2023
Saya dan Meditasi
September 2022 lalu, saya didera kesedihan yang luar biasa. Hari-hari saya menjadi buruk dan tidak bergairah. Hati terasa kosong, yang diingat hanya tentang kekecewaan, kemarahan dan kesedihan atas banyak peristiwa buruk yang terjadi pada saya di masa lalu.
Saya menjalani hari-hari dengan penuh tangisan. Seringkali, air mata
jatuh begitu saja dengan tiba-tiba. Mengobrol dengan kawan, bersepeda keliling
komplek, main dengan Gato, memasak, belanja bahkan ketika berada di dalam mobil
melakukan perjalanan. Rasanya setiap apa yang saya lihat selalu mengingatkan saya
pada peristiwa di masa lampau.
Di tengah kesedihan tersebut beruntung saya dikenalkan oleh kawan
untuk mempelajari meditasi. Dia menginformasikan akun-akun di sosial media
untuk bermeditasi bersama. Saya pun mulai mengikutinya, membaca semua
informasinya, membuka video-video meditasi yang tersebar di Youtube. Saya pun
memantapkan diri untuk mengikuti meditasi dengan Samanera Abisarano dari akun IG
: gomindful.id dan mengikuti meditasi pak Merta Ada dari Bali Usada.
Awal mula bermeditasi, saya tidak mengerti apa yang harus
saya lakukan. Saya hanya mengikuti panduan Samanera atau pak Merta Ada. Alih-alih
fokus pada nafas, pikiran saya justru melayang-layang pergi ke banyak tempat. Sulit
sekali rasanya untuk memperhatikan nafas. Namun, saya mencoba bertahan. Pertama
kali hanya bertahan sepuluh menit, kaki tidak kuat menahan kesemutan, badan
juga terasa tegang. Tetapi saya tidak menyerah, saya coba berulang kali hingga akhirnya
bisa bertahan mengikuti panduan sampai waktu berlalu tiga puluh menit bahkan
hingga satu jam.
Thursday, November 10, 2022
Memilih Minimalisme
Ini postingan pertama setelah 2 tahun tidak lagi menulis di rumah kesayangan ini.
Apa yang terjadi selama dua tahun? Banyak! bahkan sejarah mencatat wabah besar yang dialami oleh umat manusia, COVID-19, yang hingga saat ini ditulis masih juga terdapat kasus aktif di beberapa negara dan bahkan efek long covid masih dirasakan hingga kini oleh banyak penyintas covid-19.
Lalu apa yang terjadi dengan saya?Bagi saya, 2020 merupakan titik mula beperjalanan. Ini titik dimana saya berpikir tentang apa yang hendak saya maui besok, dan cara hidup seperti apa yang saya iingini. Semakin 'menua' pencarian mengenai identitas juga nilai kehidupan semakin lekat untuk terus dipikirkan. Tak ingin hidup hanya mengalir begitu saja, tak terima waktu hanya dipakai untuk melakukan aktifitas yang itu-itu saja.
Beruntung, pandemi covid-19 memaksa saya untuk terus berpikir keras tentang esensi hidup manusia. Esensi yang belakangan kian hilang. Waktu yang luang memberi saya banyak kesempatan untuk mencari referensi melalui film, buku dan perbincangan hangat dengan beberapa teman.

