Hari itu minggu, aku bergegas ketika lembayung fajar mulai
membentang, merapikan rambut dan baju, menyiapkan ransel yang sudah dipenuhi
camilan, mencari sandal jepitku, lalu melangkah menuju stasiun diiringi kokok
ayam yang datang kesiangan.
Kotak besi itu terlihat dari kejauhan bunyinya selalu
serupa, seolah tak pernah melewati berbagai lapisan zaman, aku mendapatkan
tiket di kelas bisnis, perjalanan kali ini menuju Kota Budaya, tentunya akan
melelahkan begitu kutahu aku hanya kebagian tiket kelas bisnis. Akupun mulai
mencari tempat duduk yang tertera di tiket.
kereta mulai bergerak, raut wajah orang yang ditinggalkan di
stasiun menjadi pemandangan yang mewah, ekspresi mereka ketika ditinggal pergi
oleh keluarga ataupun kekasihnya tidak
bisa dirangkai dalam balutan kata, lambaian tangan yang tak juga turun
sampai kotak besi ini hanya menyisakan titik di mata mereka.
Perkawinan antara gesekan roda dengan rel kereta api mulai
terdengar, menciptakan bunyi yang magis, aku selalu terperdaya pada bunyinya
yang membangkitkan memori ingatan, baik secara brutal ataupun pelan-pelan. Frame-frame penuh cerita mulai hadir di
benakku, rasa sakit, tawa, bahagia,
kesedihan menjelma di detik yang berdekatan, tidak terhenti di situ suasana
melankoli makin membuncah ketika pemandangan klasik mulai menghampar menjadi
santapan mata yang sudah jengah dengan gedung-gedung bertingkat, musim panen
sudah lewat, padi-padi yang baru semata kaki memenuhi pandangan mata.
Kulirik lelaki yang duduk di sampingku, tangannya sibuk memainkan smartphonenya, kukeluarkan buku Madre yang sengaja kubawa, berharap waktu segera cepat berlalu untuk mencegah kebosanan. Kereta pun berhenti di stasiun Tasikmalaya, masih 6 jam perjalanan lagi untuk sampai ke tujuan. ”Suka baca mbak?”, kuanggukkan kepala, “Film Madre beda banget dengan bukunya”, ujarnya. Ya memang begitu, jika kita sudah membaca bukunya, jangan sekali-kali menonton filmnya, pilihlah salah satu, menjadi pembaca atau penonton, dari sekian banyak film yang kutonton berdasarkan adaptasi dari novel, hanya beberapa yang bagus, Davinci Code, Rectoverso, Laskar Pelangi. Dia pun mengangguk mengiakan. Ya, para sineas harus bekerja keras ketika membuat film adaptasi novel, itulah esensi menjadi seorang penulis, mampu menciptakan berbagai imajinasi liar pada pembaca, tetapi ketika sudah menjadi film, sineas membuat imajinasi pada penonton yang sekaligus pembaca tak berkembang, membatasinya pada gambar-gambar bergerak yang dibuatnya. Tetapi banyak juga sineas yang berhasil membuatkan adegan-adegan mengejutkan yang kadang tak terbayangkan oleh pembaca. Semuanya saling melengkapi. Dari kata menjadi adegan....ujarku.
Arif,.. ujarnya sambil mengulurkan tangan kepadaku mengajak
berkenalan. Lalu perbincangan pun berlanjut tidak hanya seputar film, tiba-tiba
aku merasa beruntung, duduk di kelas bisnis tidaklah merugi, kubandingkan
dengan beberapa perjalanan dan aku melewatkannya di kelas eksekutif, aku merasa
menjadi individu yang hidup sendiri, di gerbong eksekutif, semua individu telah
menyiapkan bahan untuk menemani perjalanan mereka, ada yang membaca,
mendengarkan musik dengan memasang earphone, ada yang menghabiskannya dengan
tidur, tidak ada yang berbincang, di gerbong eksekutif suara seolah sebuah
anomali, semua harus bungkam, sedikit senyum kepada penumpang lain itu sudah
interaksi paling istimewa.
No comments:
Post a Comment