Sunday, May 26, 2013

Cerita Perjalanan (Bagian 1)


Hari itu minggu, aku bergegas ketika lembayung fajar mulai membentang, merapikan rambut dan baju, menyiapkan ransel yang sudah dipenuhi camilan, mencari sandal jepitku, lalu melangkah menuju stasiun diiringi kokok ayam yang datang kesiangan.

Kotak besi itu terlihat dari kejauhan bunyinya selalu serupa, seolah tak pernah melewati berbagai lapisan zaman, aku mendapatkan tiket di kelas bisnis, perjalanan kali ini menuju Kota Budaya, tentunya akan melelahkan begitu kutahu aku hanya kebagian tiket kelas bisnis. Akupun mulai mencari tempat duduk yang tertera di tiket.

kereta mulai bergerak, raut wajah orang yang ditinggalkan di stasiun menjadi pemandangan yang mewah, ekspresi mereka ketika ditinggal pergi oleh keluarga ataupun kekasihnya tidak  bisa dirangkai dalam balutan kata, lambaian tangan yang tak juga turun sampai kotak besi ini hanya menyisakan titik di mata mereka.

Perkawinan antara gesekan roda dengan rel kereta api mulai terdengar, menciptakan bunyi yang magis, aku selalu terperdaya pada bunyinya yang membangkitkan memori ingatan, baik secara brutal ataupun pelan-pelan. Frame-frame penuh cerita mulai hadir di benakku,  rasa sakit, tawa, bahagia, kesedihan menjelma di detik yang berdekatan, tidak terhenti di situ suasana melankoli makin membuncah ketika pemandangan klasik mulai menghampar menjadi santapan mata yang sudah jengah dengan gedung-gedung bertingkat, musim panen sudah lewat, padi-padi yang baru semata kaki memenuhi pandangan mata.


Kulirik lelaki yang duduk di sampingku, tangannya sibuk memainkan smartphonenya, kukeluarkan buku  Madre yang sengaja kubawa, berharap waktu segera cepat berlalu untuk mencegah kebosanan. Kereta pun berhenti di stasiun Tasikmalaya, masih 6 jam perjalanan lagi untuk sampai ke tujuan.  ”Suka baca mbak?”, kuanggukkan kepala, “Film Madre beda banget dengan bukunya”, ujarnya. Ya memang begitu, jika kita sudah membaca bukunya, jangan sekali-kali menonton filmnya, pilihlah salah satu, menjadi pembaca atau penonton, dari sekian banyak film yang kutonton berdasarkan adaptasi dari novel, hanya beberapa yang bagus, Davinci Code, Rectoverso, Laskar Pelangi. Dia pun mengangguk mengiakan. Ya, para sineas harus bekerja keras ketika membuat film adaptasi novel, itulah esensi menjadi seorang penulis, mampu menciptakan berbagai imajinasi liar pada pembaca, tetapi ketika sudah menjadi film, sineas membuat imajinasi pada penonton yang sekaligus pembaca tak berkembang, membatasinya pada gambar-gambar bergerak yang dibuatnya. Tetapi banyak juga sineas yang berhasil membuatkan adegan-adegan mengejutkan yang kadang tak terbayangkan oleh pembaca. Semuanya saling melengkapi.  Dari kata menjadi adegan....ujarku.

Arif,.. ujarnya sambil mengulurkan tangan kepadaku mengajak berkenalan. Lalu perbincangan pun berlanjut tidak hanya seputar film, tiba-tiba aku merasa beruntung, duduk di kelas bisnis tidaklah merugi, kubandingkan dengan beberapa perjalanan dan aku melewatkannya di kelas eksekutif, aku merasa menjadi individu yang hidup sendiri, di gerbong eksekutif, semua individu telah menyiapkan bahan untuk menemani perjalanan mereka, ada yang membaca, mendengarkan musik dengan memasang earphone, ada yang menghabiskannya dengan tidur, tidak ada yang berbincang, di gerbong eksekutif suara seolah sebuah anomali, semua harus bungkam, sedikit senyum kepada penumpang lain itu sudah interaksi paling istimewa.

No comments:

Post a Comment