1 April 2024
Ini hari ke-20 berpuasa, suara hujan terdengar nyaring menyibak keheningan siang ini. Saya membaca kembali “Segala-galanya Akan Ambar” milik Mark Manson. Sebelumnya saya pernah membaca buku ini namun tidak selesai, karena melelahkan. Analogi-analoginya, bahkan lelucon yang dibuat Mark bagiku terlalu berat.
Setelah membaca buku Eckhart Tolle yang berjudul “The Power of Now-Perjalanan Menuju Pencerahan Spiritual”, saya jadi mempunyai perspektif yang berbeda pada setiap buku, khususnya buku mengenai spiritualitas. Saya diajak mengenal kesadaran dan diri sendiri. Bahkan sekarang, saya dapat menikmati membaca terjemahan Al-Quran, memahami isinya dengan lebih terang. Pemahaman baru tentang kesadaran meniadakan ketakutan dan meluaskan pamahaman tentang teks-teks Al-Quran yang berisi penuh petunjuk tentang hidup dan kehidupan.
“Segala-galanya Ambyar” mula-mula bercerita tentang Pilecky sosok heroik dari Polania yang punya keberanian luar biasa untuk menyelamatkan tahanan-tahanan Nazi di Auszwich. Meskipun upayanya tidak berhasil namun perbuatannya yang “gila” tersebut dapat menjadi lucutan bagi setiap yang hidup untuk tidak pernah takut menghadapi kematian karena setidaknya telah melakukan sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Pilecky gembira menghadapi hukuman matinya.
Dalam paragraf berikutnya, Mark ingin memberitahukan bahwa sebenarnya manusia tidaklah penting, manusia hanyalah debu kosmis di semesta ini. Seringkali manusia terjebak dalam Ilusi pikirannya yang membuat ia harus mewujudkan ilusi-ilusi tersebut dalam keseharian. Biasanya wujud dari ilusi pikiran itu akan dimanifestasikan melalui eksistensinya, karena eksistensi adalah ego manusia yang sangat purba. Eksistensi ini menjadi sumber masalah dan penderitaan bagi kehidupan mereka sendiri. Jika mengingat bahwa manusia hanyalah debu kosmis maka tidak ada makna apapun dalam eksistensi manusia.