Sunday, May 13, 2012

Jatinangor...kini


Berjalan menyusuri jatinangor kini, aku mendadak kehilangan rasa percaya diri, bangunan-bangunan megah, resto-resto baru, gemerlap lampu, jajanan-jajanan mahal, mobil-mobil keluaran terbaru yang di parkir di halaman kost-kostan, membuat kota kecil ini menjadi glamour.

Dulu ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jatinangor tahun 2005, tempat ini masih sunyi, masih banyak tanah kosong, kost-kostan dengan cat sederhana, pedagang kaki lima yang semarak, warnet-warnet dengan fasilitas seadanya, tanpa mall, tanpa ruas jalan yang searah, wajah-wajah ramah pemilik kost-kostan sepetak, dan jalanan gank-gank yang masih berdebu.

Pembangunan di Jatinangor termasuk pesat, awal 2007-an kost-kostan semakin naik kelas, bukan lagi tempat istirhat untuk mahasiswa, tapi menjadi ajang gengsi, munculnya kost-kostan dengan fasillitas mewah, seperti kamar mandi sendiri dengan shower dan bahkan bathtube, furniture kamar yang lengkap dan mewah, lapangan parkir yang luas, semakin memperlebar batas pemisah antara mahasiswa yang berlimpah materi, dengan mereka mahasiswa yang hanya mengandalkan beasiswa untuk biaya bulanan hidupnya.

Salah satu area yang menjadi tempat untuk bersarangnya mobil-mobil mewah adalah ciseke besar, lokasi yang dekat dengan kampus menjadikannya area ini sangat strategis, banyak dibangun kost-kostan berfasilitas hotel, dengan tarif bulanan sebesar gaji pegawai negeri golongan 2A. 
  
Aku kehilangan senyum para penduduk asli jatinangor yang kini semakin terpinggirkan, kost-kostan mereka yang masih sederhana tak lagi dilirik oleh mahasiswa, aku juga kehilangan tempat-tempat makan yang merakyat, angkringan-angkringan murah, warung-warung tenda, jalanan yang makin sempit, yang terlihat hanya benteng-benteng kokoh, bangunan-bangunan bertingkat.

Untung saja, pesona Gunung Geulis belum hilang, angkuh dan kukuh…

5 tahun lagi, atau sepuluh tahun lagi dari sekarang, masihkah Jatinangor menyisakan tempat untuk mereka yang berjalan dengan tas ransel kucel, tetapi memiliki semangat yang tinggi untuk sekolah?
Masihkah ada harapan untuk mereka ketika mengetuk setiap pintu kost-kostan yang mereka dengar adalah biaya dengan harga yang merakyat bukan dengan rupiah yang melebihi biaya semesteran?
Semoga saja, masih akan ada tempat untuk mereka yang benar-benar datang dengan hanya membawa harapan…


No comments:

Post a Comment