Berjalan menyusuri jatinangor kini, aku mendadak kehilangan
rasa percaya diri, bangunan-bangunan megah, resto-resto baru, gemerlap lampu,
jajanan-jajanan mahal, mobil-mobil keluaran terbaru yang di parkir di halaman
kost-kostan, membuat kota kecil ini menjadi glamour.
Dulu ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jatinangor tahun
2005, tempat ini masih sunyi, masih banyak tanah kosong, kost-kostan dengan cat
sederhana, pedagang kaki lima yang semarak, warnet-warnet dengan fasilitas seadanya,
tanpa mall, tanpa ruas jalan yang searah, wajah-wajah ramah pemilik kost-kostan
sepetak, dan jalanan gank-gank yang masih berdebu.
Pembangunan di Jatinangor termasuk pesat, awal 2007-an kost-kostan semakin naik kelas, bukan lagi tempat istirhat untuk mahasiswa, tapi menjadi ajang gengsi, munculnya kost-kostan dengan fasillitas mewah, seperti kamar mandi sendiri dengan shower dan bahkan bathtube, furniture kamar yang lengkap dan mewah, lapangan parkir yang luas, semakin memperlebar batas pemisah antara mahasiswa yang berlimpah materi, dengan mereka mahasiswa yang hanya mengandalkan beasiswa untuk biaya bulanan hidupnya.
Salah satu area yang menjadi tempat untuk bersarangnya
mobil-mobil mewah adalah ciseke besar, lokasi yang dekat dengan kampus
menjadikannya area ini sangat strategis, banyak dibangun kost-kostan
berfasilitas hotel, dengan tarif bulanan sebesar gaji pegawai negeri golongan
2A.
Aku kehilangan senyum para penduduk asli jatinangor yang
kini semakin terpinggirkan, kost-kostan mereka yang masih sederhana tak lagi
dilirik oleh mahasiswa, aku juga kehilangan tempat-tempat makan yang merakyat,
angkringan-angkringan murah, warung-warung tenda, jalanan yang makin sempit,
yang terlihat hanya benteng-benteng kokoh, bangunan-bangunan bertingkat.
Untung saja, pesona Gunung Geulis belum hilang, angkuh dan
kukuh…
5 tahun lagi, atau sepuluh tahun lagi dari sekarang,
masihkah Jatinangor menyisakan tempat untuk mereka yang berjalan dengan tas
ransel kucel, tetapi memiliki semangat yang tinggi untuk sekolah?
Masihkah ada harapan untuk mereka ketika mengetuk setiap
pintu kost-kostan yang mereka dengar adalah biaya dengan harga yang merakyat
bukan dengan rupiah yang melebihi biaya semesteran?
Semoga saja, masih akan ada tempat untuk mereka yang
benar-benar datang dengan hanya membawa harapan…
No comments:
Post a Comment