Thursday, May 24, 2012

Cokelat


Aku lumer pada gigitan pertama, bagiku cokelat diperuntukkan untuk dikunyah bukan diemut, konsep mengunyah cokelat ini kudapatkan melalui beberapa percobaan, aku pernah mencoba mengemut cokelat, mengisapnya dan melumatnya, hasilnya adalah sebagian besar menempel pada dinding-dinding dan langit-langit mulutku, kuenyahkan cara itu, lalu aku mencoba menikmati cokelat dengan menggigitnya perlahan lalu kembali mengemutnya, masih saja tak kutemukan kepuasan, maka kali ini kuputuskan untuk mengunyahnya tanpa ampun, memberi mereka waktu 10 hingga 20 detik berada dalam mulutku, untuk selanjutnya mengalir deras melalui tenggorokan dan berhenti pada pencernaan.

Cokelat adalah istimewa, sebagian orang mengistimewakannya terlebih pada hari kasih sayang, cokelat tiba-tiba naik kelas, ketika hari pink itu datang, tapi buatku cokelat bukan hanya sekedar obat anti depresan, bukan pula sebagai alat untuk memperbaiki mood ataupun meningkatkan energi, mengurangi keriput, ataupun sebagai antioksidan penangkal radikal bebas penyebab kanker. 

Cokelat, dari namanya saja sudah sangat menggoda, manis dan lembut. Pertama kali aku jatuh cinta pada cokelat, ketika aku belum paham makna cinta, cokelat mengantarkanku pada seseorang yang dengan gigi-gigi ompongnya menyanyi dengan suara cempreng dan rambut bau panas matahari, mengenalkan namanya dengan suara cadel dan tangan kecilnya mengangsurkan cokelat ayam jago kepadaku ketika pada masa kejayaannya tahun 90-an. 

Sampai sekarang, setiap kali aku mendapat paket cokelat darimu, dari dia, dari mereka, ataupun dari kalian pencinta cokelat, aku selalu membandingkan rasanya dengan ayam jago, sensasi cokelat ayam jago masih membekas kuat dalam indera pencecapku.

Cokelat, menjadi bagian dari keseharianku, aku membaginya pada satpam kampus, pada petugas front office kampus, pada mahasiswa dan bahkan rekan-rekanku, mereka senang, semuanya sumringah, tak pernah kudapati satu orangpun menolak cokelat pemberianku, itu pertanda cokelat dicintai semua makhluk.

Cokelat adalah pertanda, bahwa cinta kasih ada pada setiap yang berdenyut, pada setiap detik, berbagai kondisi, tak hanya di bangunan mewah, tak jarang bahkan aroma cokelat terendus dari gubuk reyot yang dihuni oleh dua manusia lanjut usia. 

Aku bukanlah pencinta cokelat yang memburu cokelat ke seluruh penjuru dunia, tidak bukan seperti itu, biarkan itu menjadi tugas-tugas mereka, tangan-tangan yang diamanatkanNYA, untuk membawa cokelat ke hadapanku, bukankah hidup ini ada bagiannya?mereka sebagai kurir cokelat dan aku penerima paket yang berisi cokelat.

Kedudukan cokelat sangat tinggi untukku, karena cokelat adalah pertanda kamu ada.




No comments:

Post a Comment