Thursday, January 19, 2012

Tentang Senja


Kamu selalu bercerita tentang senja, kamu selalu membuat senjja menjadi begitu menarik, begitupun denganku, bagiku senja adalah titik dimulainya hari, jejak jingga yang ditinggalkan oleh penguasa siang, langit yang garang akan menjadi sangat damai dan bersahabat jika senja tiba.

Aku dan kamu begitu menikmati senja, senja yang selalu datang di kota paling ramah sedunia, senja yang kita taklukan dengan melakukan marathon waktu, senja yang membuat keadaan romantis, biasanya tepat pada senja kugandeng tanganmu menyusuri taman yang dipenuhi lampu-lampu kurang daya, kenapa kukatakan kurang daya? karena memang hanya warna kuning, merah, hijau, remang yang terlihat, kita duduk dibangku kayu sambil sesekali memperhatikan orang-orang yang lalu lalang, sesekali aku letakkan kepalaku dibahumu, kaupun mengusapnya akan, bosan dengan keadaan taman yang itu-itu saja, aku dan kamu mencoba menikmati senja dengan sebuah benda berbentuk bulat, bola lebih tepatnya. 


Terengah engah nafasku dipermainkan oleh benda berwujud bola itu, sial!!! kaupun hanya tersenyum simpul sambil sesekali menyeka keringatku, akh…bagaimana aku mampu mendeskripsikan senja, jika senja selalu membuatku ingat kamu??

kala senja juga kita akan menikmati tontonan maha akbar, orang-orang raksasa, dan benda-benda yang berubah menjadi ukuran jumbo, terkadang aku tak menyimak apa yang didepanku, aku selalu tertarik untuk melihat pemandangan disebelahku, seseorang yang tertidur lelap, kuusap rambutnya, ku usap pelipisnya, kuletakkan kepalanya dibahuku, kurekatkan jaket ketubuhnya, kudaratkan sebuah ciuman kecil dipelipisnya, cukup..itu saja, aku tak ingin membuatnya terbangun.

cukupkah aku bercerita tentang senja???

Tak pernah cukup, karena detik berikutnya senja juga yang mengantarkan kamu dan aku diujung gerbang perjalanan, kamu harus kembali kesarangmu, begitupun aku, pemilikku telah lama menunggu, ”aku harus pulang kataku”, kau merengut tapi detik berikutnya kau tersenyum ” tapi senja besok kita ketemu lagi bukan??ucapmu” ”pasti jawabku dan akan selalu...” karena aku telah berjanji untuk diriku sendiri, bahwa senja adalah kamu dan aku, meskipun setelah semburat jingga menghilang, kita berdua harus sama-sama pulang, tapi itu tak apa, karena aku tau, pulang bukan berarti menjauh, apalagi hilang, pulang bagiku hanya untuk mengisi bensin, dan beristirahat sejenak untukku melakukan perjalanan lebih jauh dan lebih matang bersamamu, hanya menunggu waktu untuk sayapku lebih kokoh lagi, dan kakiku lebih kuat lagi untuk terbang tinggi.

No comments:

Post a Comment