
Kita sering menyapa melalui tulisan-tulisan, atau lonceng kereta api, ataupun aroma kopi dari dua gelas cangkir di pagi hari. Kita banyak bercerita tentang dia, mereka, anak-anak, para penari, isi
perut, bahkan rumah singgah.
Biasanya ketika aku mulai bercerita, kamu akan seksama mendengarkan, tanpa berpaling, tanpa menghelaku, kamu selalu bilang aku adalah pencerita yang hebat, tetapi ketika aku bernyanyi satu nada saja, kamu langsung melabelkan suaraku seperti campuran seniman Doel Sumbang dan Iwan Fals, akh…
mengesalkan!!!
Lalu kamu, ceritamu selalu mampu menghipnotisku, kamu dengan segala hal kelucuan dan aktifitasmu, kamu dengan segudang wawasan dan mata yang berbinar-binar ketika menceritakannya, itu sepertinya yang membuatku jatuh cinta padamu, satu tatapan, dua tatapan dan keseribu tatapan pun aku masih merasakan
denyut yang sama, aku jatuh cinta padamu.
Kita pernah bercerita tentang hujan, yang menurutmu biasa-biasa saja, bagiku hujan tak hanya sekedar air turun dari langit, ada banyak pesan pada setiap bulir yang jatuh, hujan mengantarkanku padamu, pada gerbang ingatan akan seseorang yang dengan repot menutupi kepalanya dengan tangan yang penuh dengan plastic-plastik tak bermerek. Ya… kamu pada suatu masa menemuiku dalam keadaan lusuh dan kuyup, turun dari kotak besi, memamerkan deretan gigi rapihnya.
Lalu aroma kopi di pagi hari mengantarkan ingatan kita pada jejak-jejak kecil yang lincah berlarian di trotoar mencari sedikit harapan bahkan ketika matahari masih malu-malu untuk muncul.
Kini dalam dunia kekinian, tulisan-tulisan, lonceng kereta api, dan aroma kopi di pagi hari menguap begitu saja, hidup terlalu penuh dengan rutinitas yang membosankan, kita melupakan hujan, melupakan senja, akh… ya waktu adalah esensi yang di dalamnya kita tak bisa menebak akan seperti apa.
Lagi… wangi kopi itu menggelitik hidungku, untuk kemudian aku mencarinya, sekedar mengingatku akanmu.
No comments:
Post a Comment