Desember 2024
Dalam hitungan hari, seluruh manusia di bumi akan merayakan malam pergantian tahun. Tahun berganti, angka berubah. Ini selalu menjadi peristiwa sakral yang dinanti karena seringkali dijadikan penanda perubahan kehidupan seseorang.
Bagi saya, tahun baru kali ini menjadi berbeda. Tak lagi menikmatinya sebagai malam gemerlap yang penuh cahaya kembang api, tetapi menjadi pengingat sejauh mana jiwa ini telah bertumbuh.
2024 tahun yang istimewa, karena sepanjang yang saya ingat proses pencarian diri menjadi terang benderang. Sebenarnya, semua dimulai pada tahun 2022 ketika proses pemulihan luka batin. Seiring trauma dan kekacauan dalam hidup saya pelan-pelan pulih, banyak pintu mulai terbuka. Bukan hanya diri tetapi saya akhirnya menemukan jalan pulang.
Pulang menjadi suatu hal yang menakutkan karena banyak yang tak tahu jalannya. Terperangkap dalam kebahagiaan semu tanpa disadari sampai melekat hingga tak mau jika kepastian itu tiba. Hanya sedikit yang yakin kemana jiwa ini pergi setelah kematian.
Selama tahun 2023 saya dipertemukan dengan banyak pengetahuan baru. Pengetahuan yang mengantarkan saya untuk melihat realitás, bukan ilusi seperti yang selama ini dijalani dan diyakini.
Tentu saja, setiap pencarian tak pernah mudah. Saya dibuat kebingungan berulang kali. Mulanya menyakitkan mendapati selama ini ternyata terjebak dalam kemelut dan drama pikiran, tenggelam mengikuti sistem dunia, hingga akhirnya bisa menertawakan setiap kesedihan, lelah dan segala ego yang menyetir selama ini.
Banyak guru yang hadir begitu saja dalam menuntun pencarian jalan pulang ini. Orang-orang asing yang jauh di ujung dunia sana dengan segala kebijaksanaannya. Semua mahkluk dengan hal-hal sederhana yang dilakukannya. Entahlah mengapa bagi saya mereka tampak memukau. Pak tukang yang setia dengan pekerjaannya yang sama selama puluhan tahun,, kumbang yang penuh perjuangan untuk mencapai pucuk bunga, kucing yang hari-harinya hanya diisi dengan bermain, hingga matahari, langit, bulan dan alam yang selalu hadir menakjubkan setiap hari.
Saya berhenti belajar dengan buku-buku akademis, saya menjauh dari hiruk pikuk perkumpulan, saya melepas hampir semua identitas yang selama ini saya lekati.
Saya belajar menjadi biasa, tanpa apa-apa. Saya mulai membaca kitab semesta, yang selama ini saya abaikan. Saya jadi mudah menangisi keindahan, mudah merasakan dada bergemuruh penuh haru dan sukacita, mudah melihat keberlimpahan di sekitar.
Saya menjumpai pagi dengan menyadari nafas yang masih ada, menghabiskan sore dengan menatap langit senja. Sungguh tak henti-hentinya saya bertemu banyak kebetulan yang ternyata memang sudah terpola. Saya jadi lupa kapan terakhir kali saya meminta. Saya lupa pada keinginan-keinginan, hidup jadi mengalir begitu saja, apa adanya, sebagaimana seharusnya.
Akhirnya saya menyadari bahwa proses pencarian jalan pulang membawa saya pada ketiadaan, kekosongan, kesatuan, ketenangan hingga menjadi terhubung dengan sumber kesadaran, kehadiran, keberadaan, dan tak ada hal yang paling berharga selain hidup itu sendiri.
Terima kasih untuk segala cinta.
No comments:
Post a Comment