Monday, March 24, 2025

Rumah

26 Februari 2025

Hampir dua bulan saya menempati rumah baru, yang berbentuk kotak, berukuran dua puluh delapan meter persegi. Warna putih mendominasi seluruh sudut, ada banyak jendela dan menghadap semua arah mata angin memberi kesan luas, terbuka dań terang. 

Saat ini, penghuni tetap rumah adalah kami berenam. Saya, Dy, dan anak-anak berkaki empat, Gato, Alpha, Cello dan Edo. Halamannya yang luas menjadi tempãt bermain kami.

Barang yang sedikit adalah siasat kami agar rumah kecil ini menjadi nyaman untuk ditinggali. Tak banyak distraksi, hanya ada kekosongan.  Semua benda terlihat dan jelas kegunaannya,  dibutuhkan dan dipakai berulang kali. 

Letaknya di desa, suasananya masih alami, segar, tenang dan sunyi. Sawah membentang luas, banyak pepohonan, warna hijaunya menyejukkan mata. Langitnya jernih, jika hari cerah, awan-awan putih bergumpal akan menari-nari, saling berkejaran. Sore datang dengan membawa warna orange kemerahan yang menyala. Tiba waktunya malam, ada pertunjukan bintang yang banyak bisa dilihat mata telanjang dan planet yang terang dan jelas, menemani bulan, menambah keindahan dalam gelap. 


Tanah yang subur, matahari yang bersinar, hujan yang menenangkan, petir yang gemuruh, semilir angin, menjadi kawan yang melengkapkan saya di rumah ini, membuat saya terkoneksi kembali dengan semesta, sesuatu yang telah lama hilang. 

Saya dan Dy menanam segala. Bunga, buah, sayur, rempah, dan tanaman herbal. Kebun yang rimbun membuat serangga berterbangan leluasa, kupu-kupu, dan burung hilir mudik mempermainkan Gato dan adik-adiknya. Ekor mereka bergoyang-goyang melihatnya.

Saya makan sayuran dari apa yang saya tanam. Rasanya menakjubkan bisa membersamai mereka dari benih, keluar pucuk daun, hingga siap disajikan di piring. Tumbuhnya mereka adalah pengingat saya akan waktu, karena di sini waktu terasa berhenti, bergerak dan melambat. Karena kehadiran tanaman-tanaman inilah saya merasa sehat, saya di rawat oleh mereka. 

Saya menjadi lupa dengan hiruk pikuk dunia luar. Gosip pejabat, kebijakan pemerintah, perdebatan di sosial media, kondisi global dunia, dan segala situasi kehidupan, saya menjadi tidak terpengaruh dengan kekacauan apapun. 

Kekacauan itu ada di sekeliling saya, bergerak cepat, bising, hilir mudik, menyerupai medan besar yang menarik apapun dan siapapun yang ada di dekatnya. Namun, rasanya saya tetap ada di koordinat saya, tak bergeming, seperti ada tembok pembatas transparan yang memisahkan saya dengan mereka. Saya ada, namun tak terlibat.

Saya tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, karena dulu saya juga menjadi bagian dari kekacauan. Kini, saya hanya melakukan hal-hal yang sederhana, namun, saya merasa cukup dan seimbang, ini lebih dari yang saya mimpikan. 

Ada kalanya bertanya, kebaikan apa yang sudah saya lakukan di masa lalu hingga hari ini saya merasakan semua keindahan ini. Saya sekarang di sini, di rumah kecil ini, menjalani hari-hari yang biasa, memenuhinya dengan cinta. 

No comments:

Post a Comment