Seorang kawan sering berkeluh kesah tentang pasangannya. Keluhan yang sama yang saya dengar hampir tiga tahun belakangan ini. Kawan saya tidak sendirian, Ia satu dari banyak pasangan yang menjalin relasi tidak sehat. Saya pun melihat relasi orang-orang terdekat saya, orang tua, saudara, teman hingga tetangga. Dari mereka saya menyadari ada pemahaman yang keliru tentang menjalin relasi. Kekeliruan ini salah satunya didukung dari motivasi awal menjalin relasi, seperti kebutuhan status sosial, kebutuhan sexual ataupun hanya sebatas kebutuhan pembuktian bahwa mampu berpasangan, hanya sedikit saja yang memang berlandaskan cinta kasih.
Kekeliruan ini berlanjut ketika menjalin hubungan. Menggunakan gaya komunikasi searah, enggan berdialog, mendominasi, menganggap tidak setara hingga tidak memberikan ruang untuk pasangan menjadi dirinya sendiri.
Dalam relasi yang tidak sehat, seseorang bahkan tidak menyadari bahwa ia sedang menjadi budak bagi lainnya. Kebohongan, manipulasi, saling menyakiti, menjadi bumbu yang kian hari kian tajam, yang sebenarnya akan meledak seperti bom waktu. Setiap hari menjadi buruk. Relasi yang tidak sehat mempunyai efek domino. Energi negatif membiak dengan cepat, menyebabkan penderitaan, cara pandang menjadi sempit dan penuh berprasangka buruk, bahkan terasing dari diri yang sebenarnya.
Banyak yang bertahan dengan pola relasi ini selama belasan bahkan puluhan tahun. Alasan bertahan pun bermacam-macam, merasa sayang karena sudah lama menjalin hubungan, malu jika berakhir, atau yang lebih parahnya ketika sudah menjadi candu, candu disakiti berulang kali. Namun, jika diperiksa dengan detail apakah selama menjalani hubungan sudah menjadi dirimu yang sebenarnya?
Kualitas diri biasanya dapat dilihat dari sejauh mana kita berkembang menjadi lebih baik dari diri kita yang sebelumnya. Perkembangan ini bukan tentang penambahan. Misal, penambahan jumlah kekayaan, gelar, anak atau lainnya yang bersifat ekternal. Tetapi perkembangan yang sifatnya internal, contohnya dari pribadi yang tidak percaya diri menjadi percaya diri, tadinya mudah marah menjadi pemaaf, sulit bahagia menjadi bahagia setiap saat, tadinya tergesa menjadi lebih tenang, lebih kalem, lebih berpikir positif dan berkesadaran.
Perubahan ini hanya bisa terjadi jika ada support system yang baik. Relasi yang sehat akan saling mendukung. Bukan hanya ada di saat terpuruk tetapi juga saling mengupayakan pertumbuhan jiwa masing-masing, hingga merasa cukup satu sama lain. Semua hal menjadi transparan, tidak ada yang ditutupi. Komunikasi yang baik, dan merawat cinta kasih merupakan upaya yang harus terus dilakukan setiap hari. Pasangan yang menjalani relasi sehat sadar benar bahwa kebahagian mereka berasal dari dalam diri, bukan dari faktor ekternal. Mereka sama sekali tidak terusik oleh sesuatu yang di luar diri mereka.
Sama seperti relasi tidak sehat yang memiliki efek domino, relasi yang sehat pun demikian. Kualitas hubungan yang baik akan melahirkan hubungan dan generasi yang mempunyai energi yang positif, yang sangat berguna untuk kehidupan. Hidup menjadi lebih mudah, ringan dan menyenangkan. Hari-hari dapat dinikmati dengan penuh. Tak ada lagi ruang untuk saling menyalahkan atau menyakiti yang tersisa hanyalah rasa keberlimpahan dan bahagia mendapatkan kesempatan untuk bersama dengan pasangan selama mungkin. Energi dan getaran adalah rangkaian yang tak terputus dan saling terkoneksi. Rasa dan energi yang positif akan memancar ke luar, menyebabkan hubungan dengan orang lain, lingkungan, makhluk lain, bumi dan semesta menjadi jauh lebih baik.
Jika relasi yang tidak sehat tidak dapat lagi diperbaiki, mengakhiri hubungan bukanlah sebuah bencana, bahkan bisa menjadi jalan keluar dari penderitaan. Tidak ada kata terlambat untuk menghargai dan merawat diri sendiri. Seringkali, terjebak dalam relasi tidak sehat karena sudah terlalu jauh melangkah dari diri, sehingga kehilangan arah. Periksa kembali dirimu, mendekatlah, buat ruang dan beri jeda , sehingga tahu apa yang sebenarnya diinginkan dan terbaik bagi diri.
Thank you bu Rena
ReplyDelete