Thursday, October 12, 2023

Mendengarkan Dhamma

Genap setahun saya melakukan rutinitas setiap pagi mendengarkan ceramah dhamma. Rutinitas ini lahir ketika kondisi mental sedang down, saya merasa butuh pertolongan. Entah bagaimana tiba-tiba memilih dhamma, ajaran Budha untuk menemani kepulihan luka batin dan mental down tersebut. Setiap hari jam enam pagi saya menuju channel youtube ceramah, ataupun podcast yang berisi pembacaan buku-buku dhamma. Mendengarkannya selama satu jam menjadi cara saya memulai hari.

Dari hari ke hari saya semakin terkesan dengan dhamma, ajarannya sangat logis. Ajahn, Monk, Bhante fasih berbicara psikologis manusia, mereka menyentuh hingga ke akar permasalahan yang kerap diderita manusia. Saya belajar mengenai akar penderitaan, mengapa sulit bahagia, mengapa memiliki kecemasan dan ketakutan. Bagi saya yang kala itu sedang dirundung luka batin, ajaran mereka begitu menyelamatkan.

Bulan berganti, saya merasakan banyak perubahan yang terjadi. Kesedihan, penyesalan, ketakutan, penderitaan pelan-pelan menghilang berganti rasa lega dan tenang. Saya semakin terampil mencatat semua perasaan yang saya alami. Apakah saya marah?mengapa harus marah? begitu juga dengan rasa sedih, iri, sombong, sakit hati. Saya bisa menyadari adanya perasaan itu dengan mudah. Lantas, saya pun jadi harus mengambil sikap, tidak lagi memuliakan dan melekat pada pikiran dan perasaan negatif tersebut.


Sedikit saja saya merasa tidak bahagia atau terluka saya segera bisa melacaknya, mengapa ini terjadi? Biasanya salah satunya karena saya berekspektasi terlalu tinggi. Saya jadi semakin memaknai hari dengan detail-detail kecilnya. Sesederhana bangun pagi dan telinga saya mendengar gemuruh suara air conditioner ataupun mata saya menangkap cahaya kuning lampu di luar yang masuk melalui celah jendela. Mata saya juga kian terampil menjelajahi barang-barang di setiap sudut kamar saya yang kecil. Aktifitas ini memenuhi waktu harian saya, membuat pikiran berada di moment tersebut, sehingga tidak sempat memikirkan hal-hal yang jauh di belakang ataupun di depan saya.

Saya juga jadi terampil merespon semua yang terjadi di luar diri saya. Dulu, biasanya jika ada berita buruk dari keluarga saya, terpancing emosi kemudian merasa sebal dan rasanya hidup terlampau sulit. Kini, meskipun berita yang sama saya dengar kembali, perasaan saya menjadi biasa saja tidak lagi bergemuruh menahan kepiluan dan kemarahan.

Secara fisik tampaknya tidak ada yang berubah dari diri saya, namun yang saya rasakan perubahan di dalam diri saya sangat luar biasa. Saya jadi sangat bisa menikmati hidup. Hidup yang dulu saya jalani teramat berat kini rasanya ringan saja. Pandangan saya berubah, hal-hal yang bersifat material tak lagi menyilaukan saya, semua menjadi sangat biasa. Dulu saya mengagumi intelektualitas karena itu sebagai tanda bahwa seseorang telah berusaha, bekerja keras, belajar dan mengapresiasi kehidupan, kini semua nampak biasa saja dan ini ternyata sangat membahagiakan. 

Satu tahun berlalu sejak saya memulai mendengarkan ceramah dhamma. Satu tahun tersebut mampu membuat saya menemukan jiwa saya, membuat diri ini menjadi utuh. Saya menjadi tahu siapa diri sejati saya. Saya merasa berkesempatan untuk menyusun hidup kembali. Hidup yang sesuai dengan yang saya maui dan sepakati, hidup yang bebas dan melepaskan, yang apa adanya, yang selaras dengan semesta. Saya tak ingin lagi terbawa ilusi. Saya hanya ingin bercengkrama, berlama-lama, menikmati hidup yang sangat penuh keberlimpahan ini dengan pelan-pelan.  

No comments:

Post a Comment