Hampir pagi ketika kedua pasang kaki masih
saling membelit. Lingga dan Yoni bersenda gurau tanpa malu. Selimut berbahan
polyester berwarna putih pun terjuntai ke lantai. Lingga dan Yoni masih saja menuntut
matahari untuk melambatkan sapanya. Sementara itu, aroma pewangi ruangan
bercampur dengan bau peluh.
Matahari tak mau menunggu lagi. Riuh suara
burung menyambutnya. Daun-daun bergeliat tertiup angin kemarau. Persetubuhan
pagi pun di mulai ketika angin mulai menerbangkan benang-benang sari dan
hinggap di putik-putik bunga. Alam menyaksikan mereka bersetubuh dengan
cantiknya. Akar-akar pohon di bawah tanah mulai membelit satu sama lain,
mencari penghidupan, menelurkan kehidupan. Mereka melakukan sembahyang pagi,
pemujaan pada Dewi Danu yang merupakan manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa
sebagai Dewi Kesuburan.
Kokok ayam melengkapi ritual ibadah pagi ini.
Sang jantan berkokok ditunggui betina nya hingga usai, betina mulai beraksi
melenggak lenggok memancing gairah lawan. Kokok ayam jantan pun terhenti, lalu
diganti suara betina yang gusar. Tanah di pekarangan berantakan. Giliran sapu
lidi digenggaman abah yang bekerja. Abah 70 tahun umurnya, rutinitas pagi
menyapu pekarangan tak pernah ia lewatkan. Abah seperti enggan menjauhkan lidi
dan tanah. Abah tahu bahwa sentuhan lidi selalu di nanti tanah, abah bahkan
menduga bahwa pasir-pasir tanah itu menari dengan gembira. Bagi abah gesekan
lidi dengan tanah adalah harmoni alam yang membangkitkan jiwanya, menguatkan
ingatan tentang dirinya di masa muda.
Abah seorang nayaga. Pesona abah ketika tampil
di panggung bisa meluluhlantakkan para perempuan yang sedang menontonnya.
Pesinden yang duduk di samping abah seringkali membenahi posisi duduknya dan
seiring waktu duduknya tiba-tiba menjadi hanya sejengkal jaraknya dari abah. Profesinya
membawa ia mengunjungi banyak tempat. Perjalanan menuju tempat-tempat asing
itulah yang mendekatkan Abah pada sinjang-sinjang pesinden. Ketika sinjang
pesinden mulai tersingkap itu seperti kode untuk abah agar mulai memainkan
sebelah tangannya ke dalam sinjang pesinden tersebut.
Alunan musik gamelan masih terdengar, suara
pesinden juga masih terdengar stabil. Malam hampir tuntas, tabuhan gamelan tak
terdengar lagi. Panggung telah mati, tapi tidak bagi abah dan pesinden. Kedua
insan itu membuat gaduh di pojok belakang panggung. Lingga dan Yoni memainkan
perannya. Abah bercinta dengan rasa. Rasa pada diri abah seperti sebuah iman
yang tak bisa di ganggu gugat. Abah paham betul bahwa persetubuhan seperti
halnya pemujaan. Bersatunya Lingga yang berupa gunung dan Yoni yang berupa
danau artinya bersatunya Purusha dan Prakerti, maskulin dan feminim, di mana
penyatuan ini akan menimbulkan suatu penciptaan kehidupan, keseimbangan alam,
kesuburan serta keharmonisan. Bagi abah hidup hanya tentang rasa dan
penyembahan sebagai rasa syukur pada yang empunya hidup.
Cicit burung membuyarkan lamunan abah. Abah
mulai menggesekkan lagi lidi ke tanah. Abah tahu tanah sumringah, makin kencang
pula abah menggerakkan sapu lidi ke tanah. Tanah terlihat lelah, debu-debunya
berterbangan ke segala arah. Abah pun lelah, dia tahu saat itu juga dia harus
berhenti. Abah melihat dua ekor capung jantan terbang rendah di sekitar sapu
lidi abah. Abah memperhatikan dengan seksama, abah tahu kedua capung itu sedang
melakukan persetubuhan. Yoni dengan yoni. Abah tersenyum, mengingat beberapa
perempuan yang pernah bercinta dengannya juga bercinta dengan perempuan. Abah
tak marah ketika tahu bahwa perempuan yang ditidurinya itu menempatkan Lingga
dalam dirinya demikian tinggi.
Perempuan itu bercerita katanya Yoni hanyalah
simbol, sedangkan Lingga adalah kehidupan. Pada akhirnya abah paham benar bahwa
alam mengijinkan persetubuhan beragam rupa. Demi kelangsungan rasa. Alam tahu
baginya tak ada pergerakan kecuali dengan rasa.

No comments:
Post a Comment