Saturday, November 8, 2014

Menari di atas Tubuh



Hampir pagi ketika kedua pasang kaki masih saling membelit. Lingga dan Yoni bersenda gurau tanpa malu. Selimut berbahan polyester berwarna putih pun terjuntai ke lantai. Lingga dan Yoni masih saja menuntut matahari untuk melambatkan sapanya. Sementara itu, aroma pewangi ruangan bercampur dengan bau peluh.

Matahari tak mau menunggu lagi. Riuh suara burung menyambutnya. Daun-daun bergeliat tertiup angin kemarau. Persetubuhan pagi pun di mulai ketika angin mulai menerbangkan benang-benang sari dan hinggap di putik-putik bunga. Alam menyaksikan mereka bersetubuh dengan cantiknya. Akar-akar pohon di bawah tanah mulai membelit satu sama lain, mencari penghidupan, menelurkan kehidupan. Mereka melakukan sembahyang pagi, pemujaan pada Dewi Danu yang merupakan manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa sebagai Dewi Kesuburan.

Kokok ayam melengkapi ritual ibadah pagi ini. Sang jantan berkokok ditunggui betina nya hingga usai, betina mulai beraksi melenggak lenggok memancing gairah lawan. Kokok ayam jantan pun terhenti, lalu diganti suara betina yang gusar. Tanah di pekarangan berantakan. Giliran sapu lidi digenggaman abah yang bekerja. Abah 70 tahun umurnya, rutinitas pagi menyapu pekarangan tak pernah ia lewatkan. Abah seperti enggan menjauhkan lidi dan tanah. Abah tahu bahwa sentuhan lidi selalu di nanti tanah, abah bahkan menduga bahwa pasir-pasir tanah itu menari dengan gembira. Bagi abah gesekan lidi dengan tanah adalah harmoni alam yang membangkitkan jiwanya, menguatkan ingatan tentang dirinya di masa muda.

Abah seorang nayaga. Pesona abah ketika tampil di panggung bisa meluluhlantakkan para perempuan yang sedang menontonnya. Pesinden yang duduk di samping abah seringkali membenahi posisi duduknya dan seiring waktu duduknya tiba-tiba menjadi hanya sejengkal jaraknya dari abah. Profesinya membawa ia mengunjungi banyak tempat. Perjalanan menuju tempat-tempat asing itulah yang mendekatkan Abah pada sinjang-sinjang pesinden. Ketika sinjang pesinden mulai tersingkap itu seperti kode untuk abah agar mulai memainkan sebelah tangannya ke dalam sinjang pesinden tersebut.

Alunan musik gamelan masih terdengar, suara pesinden juga masih terdengar stabil. Malam hampir tuntas, tabuhan gamelan tak terdengar lagi. Panggung telah mati, tapi tidak bagi abah dan pesinden. Kedua insan itu membuat gaduh di pojok belakang panggung. Lingga dan Yoni memainkan perannya. Abah bercinta dengan rasa. Rasa pada diri abah seperti sebuah iman yang tak bisa di ganggu gugat. Abah paham betul bahwa persetubuhan seperti halnya pemujaan. Bersatunya Lingga yang berupa gunung dan Yoni yang berupa danau artinya bersatunya Purusha dan Prakerti, maskulin dan feminim, di mana penyatuan ini akan menimbulkan suatu penciptaan kehidupan, keseimbangan alam, kesuburan serta keharmonisan. Bagi abah hidup hanya tentang rasa dan penyembahan sebagai rasa syukur pada yang empunya hidup.

Cicit burung membuyarkan lamunan abah. Abah mulai menggesekkan lagi lidi ke tanah. Abah tahu tanah sumringah, makin kencang pula abah menggerakkan sapu lidi ke tanah. Tanah terlihat lelah, debu-debunya berterbangan ke segala arah. Abah pun lelah, dia tahu saat itu juga dia harus berhenti. Abah melihat dua ekor capung jantan terbang rendah di sekitar sapu lidi abah. Abah memperhatikan dengan seksama, abah tahu kedua capung itu sedang melakukan persetubuhan. Yoni dengan yoni. Abah tersenyum, mengingat beberapa perempuan yang pernah bercinta dengannya juga bercinta dengan perempuan. Abah tak marah ketika tahu bahwa perempuan yang ditidurinya itu menempatkan Lingga dalam dirinya demikian tinggi. 

Perempuan itu bercerita katanya Yoni hanyalah simbol, sedangkan Lingga adalah kehidupan. Pada akhirnya abah paham benar bahwa alam mengijinkan persetubuhan beragam rupa. Demi kelangsungan rasa. Alam tahu baginya tak ada pergerakan kecuali dengan rasa.  

No comments:

Post a Comment