Sunday, October 26, 2014

Seratpena



Tak ada yang bisa menyangkal bahwa rumah adalah tempat kita menaruh harapan. Rumah bukanlah tempat para pencaci berkumpul, tapi sebaliknya tempat kata-kata hangat bermula. Tembok, kasur, lemari, pintu, cermin semua menjadi saksi bagaimana ornamen rumah dibuat. Mereka lah para pemilik kuping sesungguhnya. 

Pintu. Dia lah mata yang selalu melihat kaki siapa saja yang melangkah pergi dan datang mendekat. Decitnya menyuarakan pertanda apakah pemilik kaki melangkah untuk pergi selamanya atau hanya sebentar dan kembali singgah. 

Tak ada perpisahan yang tak diiringi tangisan. Serat-serat pintu telah penuh dengan air mata. Pelukan dan lambaian tangan menjadi pemandangan yang memuakkan. Punggung yang menjauh hanya menyuguhkan kegelisahan yang tak berkesudahan.

Seratpena. Nama rumah ini. Kamu memberikannya ketika aku hampir selesai memoles taman rumah ini. Dengan langkah tergesa kamu menghampiriku, memberikan pelukan setelah sekian lama kamu melangkah pergi.

Aku tak pernah mengerti mengapa kamu bersikukuh menamainya Seratpena. Kelak aku tahu kemudian, Seratpena telah tumbuh menjadi rumah bagi mereka para “pencari”. 


Seratpena. Di rumah ini mimpi-mimpi terhimpun memenuhi cawan-cawan yang kosong. Buku-buku yang tertata di setiap dinding menjadi wallpaper alami, aroma kertas yang telah menguning tak mau kalah menusuk hidung mereka para “pencari” layaknya aroma terapi.

Kata-kata yang menguap darimu, permata di rumah ini menjadi musik yang suaranya merambat pelan memenuhi seisi rumah. Kamu sang Suhu yang kata-katanya selalu dinanti mereka, menjadi magnet di rumah ini. Aku hanya pelengkap, yang melengkapimu menjadi utuh. Aku tahu, kamu mudah sekali retak, patah. Aku menjadi pelindungmu, cangkang paling luar dari tubuhmu.

Ketika kamu duduk di tengah menjadi sentral dari segala pusat energi, duduk bersila dengan air putih yang selalu ada di samping kamu. Maka, saat itupun aku akan mulai siaga. Menyiagakan mata dan telinga untuk mendengarmu. Belajar darimu tak pernah cukup. Ilmumu tak pernah habis. Mereka para “pencari” biasanya puas setiap kali mendengarmu. sumringah wajah mereka. Aku yang menyaksikan itupun lega. Sebagai pelengkapmu aku merasa tugasku telah sempurna ketika para “pencari” itu pulang dengan wajah yang ceria.
Lalu aku akan kembali berdua denganmu. Merapikan buku-buku, memutar musik, bermeditasi bersama, dan kamu pun kembali bercerita. Kalau sudah begini, aku ingin waktu berhenti. Ini sudah cukup buatku. Hidup. Aku hidupmu. Kamu hidupku.

Seratpena. Rumah yang cantik. Rumah para “pencari”. Kali ini aku hendak pergi sebentar, bukan untuk menghilang, tapi hanya mencari sedikit penganan. Barangkali kamu lapar, atau jangan-jangan aku yang lapar. Aku pergi sebentar mencari buku-buku untuk menutupi dinding yang masih kosong. Kamu, Suhu, tunggu sebentar. Bermeditasilah selagi menungguku. Pejamkan matamu lebih lama, tutup pintu rapat-rapat jangan biarkan tetangga menggosip. Cukup rumput saja yang riuh membicarakan kepergianku.
Suhu. Aku ingin mengatakan kepada mereka para “pencari” yang selalu datang ke Seratpena ini. Suhu yang mereka hormati itu adalah kekasihku. Separuh tubuhku. Sepasang mata dan telingaku.

Pintu memalingkan muka ketika aku memasang sendal. Pintu tak mau membuka. Aku peluk pintu, kukatakan padanya semua akan baik-baik saja. Jaga Seratpena baik-baik, kau adalah pertahanan pertama dari rumah ini. Jaga Suhu baik-baik, jangan ganggu meditasinya. Hanya dengan meditasi Suhu waras. Pintu, jaga lemari, jaga cermin, jaga kursi, jaga kasur, jaga buku-buku, jaga kaset-kaset, jangan biarkan mereka sampai mengeluh karena aku pergi terlalu lama. Ssshhhh.... aku akan cepat kembali.
Seratpena. Teruslah bersinar, kamu hidupku dan hidup Suhu.

Suhu... jaga cawan-cawan mimpi untuk tetap terisi penuh, jangan sampai tumpah hingga mimpi-mimpi itu hilang tanpa arah.

Suhu, jagalah Seratpena agar tetap bernyawa.  

Suhu...
Bermeditasilah.
Akupun begitu.


No comments:

Post a Comment