Tak ada yang bisa menyangkal bahwa rumah adalah
tempat kita menaruh harapan. Rumah bukanlah tempat para pencaci berkumpul, tapi
sebaliknya tempat kata-kata hangat bermula. Tembok, kasur, lemari, pintu,
cermin semua menjadi saksi bagaimana ornamen rumah dibuat. Mereka lah para
pemilik kuping sesungguhnya.
Pintu. Dia lah mata yang selalu melihat kaki siapa
saja yang melangkah pergi dan datang mendekat. Decitnya menyuarakan pertanda
apakah pemilik kaki melangkah untuk pergi selamanya atau hanya sebentar dan
kembali singgah.
Tak ada perpisahan yang tak diiringi tangisan.
Serat-serat pintu telah penuh dengan air mata. Pelukan dan lambaian tangan
menjadi pemandangan yang memuakkan. Punggung yang menjauh hanya menyuguhkan
kegelisahan yang tak berkesudahan.
Seratpena. Nama rumah ini. Kamu memberikannya ketika
aku hampir selesai memoles taman rumah ini. Dengan langkah tergesa kamu
menghampiriku, memberikan pelukan setelah sekian lama kamu melangkah pergi.
Aku tak pernah mengerti mengapa kamu bersikukuh
menamainya Seratpena. Kelak aku tahu kemudian, Seratpena telah tumbuh menjadi
rumah bagi mereka para “pencari”.
Seratpena. Di rumah ini mimpi-mimpi terhimpun memenuhi
cawan-cawan yang kosong. Buku-buku yang tertata di setiap dinding menjadi
wallpaper alami, aroma kertas yang telah menguning tak mau kalah menusuk hidung
mereka para “pencari” layaknya aroma terapi.
Kata-kata yang menguap darimu, permata di rumah ini
menjadi musik yang suaranya merambat pelan memenuhi seisi rumah. Kamu sang Suhu
yang kata-katanya selalu dinanti mereka, menjadi magnet di rumah ini. Aku hanya
pelengkap, yang melengkapimu menjadi utuh. Aku tahu, kamu mudah sekali retak,
patah. Aku menjadi pelindungmu, cangkang paling luar dari tubuhmu.
Ketika kamu duduk di tengah menjadi sentral dari
segala pusat energi, duduk bersila dengan air putih yang selalu ada di samping
kamu. Maka, saat itupun aku akan mulai siaga. Menyiagakan mata dan telinga
untuk mendengarmu. Belajar darimu tak pernah cukup. Ilmumu tak pernah habis.
Mereka para “pencari” biasanya puas setiap kali mendengarmu. sumringah wajah
mereka. Aku yang menyaksikan itupun lega. Sebagai pelengkapmu aku merasa
tugasku telah sempurna ketika para “pencari” itu pulang dengan wajah yang
ceria.
Lalu aku akan kembali berdua denganmu. Merapikan
buku-buku, memutar musik, bermeditasi bersama, dan kamu pun kembali bercerita.
Kalau sudah begini, aku ingin waktu berhenti. Ini sudah cukup buatku. Hidup.
Aku hidupmu. Kamu hidupku.
Seratpena. Rumah yang cantik. Rumah para “pencari”.
Kali ini aku hendak pergi sebentar, bukan untuk menghilang, tapi hanya mencari
sedikit penganan. Barangkali kamu lapar, atau jangan-jangan aku yang lapar. Aku
pergi sebentar mencari buku-buku untuk menutupi dinding yang masih kosong.
Kamu, Suhu, tunggu sebentar. Bermeditasilah selagi menungguku. Pejamkan matamu
lebih lama, tutup pintu rapat-rapat jangan biarkan tetangga menggosip. Cukup
rumput saja yang riuh membicarakan kepergianku.
Suhu. Aku ingin mengatakan kepada mereka para
“pencari” yang selalu datang ke Seratpena ini. Suhu yang mereka hormati itu
adalah kekasihku. Separuh tubuhku. Sepasang mata dan telingaku.
Pintu memalingkan muka ketika aku memasang sendal.
Pintu tak mau membuka. Aku peluk pintu, kukatakan padanya semua akan baik-baik
saja. Jaga Seratpena baik-baik, kau adalah pertahanan pertama dari rumah ini.
Jaga Suhu baik-baik, jangan ganggu meditasinya. Hanya dengan meditasi Suhu
waras. Pintu, jaga lemari, jaga cermin, jaga kursi, jaga kasur, jaga buku-buku,
jaga kaset-kaset, jangan biarkan mereka sampai mengeluh karena aku pergi
terlalu lama. Ssshhhh.... aku akan cepat kembali.
Seratpena. Teruslah bersinar, kamu hidupku dan hidup
Suhu.
Suhu... jaga cawan-cawan mimpi untuk tetap terisi
penuh, jangan sampai tumpah hingga mimpi-mimpi itu hilang tanpa arah.
Suhu, jagalah Seratpena agar tetap bernyawa.
Suhu...
Bermeditasilah.
Akupun begitu.
No comments:
Post a Comment