Apa yang kamu
ingat dari sebuah pertemuan?
Sore dengan
dihantarkan jingga yang pekat, aku mampir di kedai kopi milik temanmu. Asap
rokok mengepul, rambut yang tak tersisir rapi, aroma badan kecut menyambut
sapaku.
Teh poci dengan
gula batu yang dihantarkan pelayan membuat keadaan yang kaku menjadi cair.
Aku menelusuri
wajah yang kutemui dua tahun lalu. Semua masih sama hanya saja getar di dada
menunjukkan reaksinya.
Orgasme! Terlalu
dini aku menyebutnya begitu, karena ini baru pertemuan pertama setelah dua
tahun lalu itu.
Di lain
kesempatan kita bertemu ketika langit memayungi awan hitam, ditemani sedikit
penerang di ujung barat, beberapa pengamen mulai unjuk gigi di depan kita.
Malam menjadi tak biasa, deretan penjual wedang ronde memenuhi pandangan mata.
------
Mimpi. Kamu
percaya mimpi? Aku percaya. Rahwana ketika bertapa di Gunung Gohkarna pernah
bermimpi memperistri Dewi Sukasalya, dan akhirnya Sinta yang merupakan titisan
dewi Sukasalya berhasil mendiami Alengka.
Mungkin kamu
tahu benar kelanjutan cerita Ramayana tersebut, karena kamulah Sinta itu.
Katakan padaku
yang sebenarnya, bahwa kamu akhirnya mencintai Rahwana kan? Bukan Rama. Ayo
katakan saja tak usah malu-malu.
Rumah yang
dipenuhi buku, suara musik, suara air dari pancuran, anak-anak kecil yang
sedang berlatih tari, lalu di depan tertera plang nama Serat Pena Rumah untuk
para “pencari”.
Itu mimpi yang
selalu kamu bilang berulang-ulang Sinta. Kamu hidup dari mimpi-mimpi itu.
matamu bersinar, wajahmu sumringah, aku tahu benar bagaimana rasamu ketika
mengatakan. Aku pernah masuk tanpa permisi ke dalam dadamu, melewati lubang
tenggorokan, kulihat dadamu bergetar. Indah... indah sekali, sayang aku tak
punya kamera untuk memotretnya. Aku keluar dari dalam tubuhmu kali ini melewati
lubang hidung. Hidungmu kembang kempis, orang tua bilang, kembang kempis
pertanda bahagia.
Melihat matamu
berbinar begitu, aku tak sabar berkata aku mencintaimu. Berulang-ulang ku
ucapkan kata yang sama, sungguh aku mencintaimu walau penuh cacat. Aku tak
perduli cacat itu membawa kebaikan atau keburukan. Yang ku tahu bahwa di mataku
kamu sungguh mempesona.
Spanyol, Roma,
Venice, Paris, Belanda. Eropa dalam mimpi kita. Kamu selalu bilang, Spanyol
adalah negara pertama yang akan kita setubuhi peradabannya. Ah... sayang, siapa
lagi yang bisa menunjukkan padaku tentang itu semua, kecuali kamu, tak ada
lainnya.
-----
Kekasih,,,
mereka bilang kamu masa laluku. Cibiran yang kuat, kata-kata yang sinis membuat
aku justru tak bisa lepas dari masa lalu, darimu. Masa lalu selalu membuntuti
kuanggap itu sebagai berkah, karena aku tahu kita tak pernah bisa beranjak
jauh-jauh dari sana. Darimu.
-----
Matahari mulai
merekah, tanggal di kalender berganti.
Ini sobekan
terakhir. Kuucap mantra penutup usia.
No comments:
Post a Comment