Tuesday, October 7, 2014

Rumah para "Pencari"


Apa yang kamu ingat dari sebuah pertemuan?

Sore dengan dihantarkan jingga yang pekat, aku mampir di kedai kopi milik temanmu. Asap rokok mengepul, rambut yang tak tersisir rapi, aroma badan kecut menyambut sapaku.
Teh poci dengan gula batu yang dihantarkan pelayan membuat keadaan yang kaku menjadi cair.
Aku menelusuri wajah yang kutemui dua tahun lalu. Semua masih sama hanya saja getar di dada menunjukkan reaksinya.

Orgasme! Terlalu dini aku menyebutnya begitu, karena ini baru pertemuan pertama setelah dua tahun lalu itu.
Di lain kesempatan kita bertemu ketika langit memayungi awan hitam, ditemani sedikit penerang di ujung barat, beberapa pengamen mulai unjuk gigi di depan kita. Malam menjadi tak biasa, deretan penjual wedang ronde memenuhi pandangan mata.

------

Mimpi. Kamu percaya mimpi? Aku percaya. Rahwana ketika bertapa di Gunung Gohkarna pernah bermimpi memperistri Dewi Sukasalya, dan akhirnya Sinta yang merupakan titisan dewi Sukasalya berhasil mendiami Alengka.
Mungkin kamu tahu benar kelanjutan cerita Ramayana tersebut, karena kamulah Sinta itu.
Katakan padaku yang sebenarnya, bahwa kamu akhirnya mencintai Rahwana kan? Bukan Rama. Ayo katakan saja tak usah malu-malu.



Rumah yang dipenuhi buku, suara musik, suara air dari pancuran, anak-anak kecil yang sedang berlatih tari, lalu di depan tertera plang nama Serat Pena Rumah untuk para “pencari”.
Itu mimpi yang selalu kamu bilang berulang-ulang Sinta. Kamu hidup dari mimpi-mimpi itu. matamu bersinar, wajahmu sumringah, aku tahu benar bagaimana rasamu ketika mengatakan. Aku pernah masuk tanpa permisi ke dalam dadamu, melewati lubang tenggorokan, kulihat dadamu bergetar. Indah... indah sekali, sayang aku tak punya kamera untuk memotretnya. Aku keluar dari dalam tubuhmu kali ini melewati lubang hidung. Hidungmu kembang kempis, orang tua bilang, kembang kempis pertanda bahagia.
Melihat matamu berbinar begitu, aku tak sabar berkata aku mencintaimu. Berulang-ulang ku ucapkan kata yang sama, sungguh aku mencintaimu walau penuh cacat. Aku tak perduli cacat itu membawa kebaikan atau keburukan. Yang ku tahu bahwa di mataku kamu sungguh mempesona.

Spanyol, Roma, Venice, Paris, Belanda. Eropa dalam mimpi kita. Kamu selalu bilang, Spanyol adalah negara pertama yang akan kita setubuhi peradabannya. Ah... sayang, siapa lagi yang bisa menunjukkan padaku tentang itu semua, kecuali kamu, tak ada lainnya.

-----

Kekasih,,, mereka bilang kamu masa laluku. Cibiran yang kuat, kata-kata yang sinis membuat aku justru tak bisa lepas dari masa lalu, darimu. Masa lalu selalu membuntuti kuanggap itu sebagai berkah, karena aku tahu kita tak pernah bisa beranjak jauh-jauh dari sana. Darimu.

-----

Matahari mulai merekah, tanggal di kalender berganti.
Ini sobekan terakhir. Kuucap mantra penutup usia.


No comments:

Post a Comment