Friday, November 22, 2013

Hawa



Suara daun, gemerisik angin, gelapnya cahaya menjadi pengantar suara-suara yang kita ucapkan hingga menggaung di angkasa. Langit menjadi atap kita sekaligus telinga yang tak bosan mendengar percakapan kita.

Kamu hadir tiba-tiba bersama surat imajiner yang dengan sengaja dikirimkan penjaga langit untukku. Aku merabamu dengan hati-hati, memperlakukanmu seolah kamu adalah barang pecah belah, menyentuhmu penuh rasa. Kamu hanya diam menikmati sentuhanku yang kutahu itu adalah sentuhan pertama yang kamu rasakan.

Kulitmu halus menyerupai kulitku, seluruh tubuhmu ku sentuh untuk meyakinkan bahwa kita serupa. Kamu menikmatinya, hingga tanpa terasa kamu pun mengikuti apa yang kulakukan. Kita saling menyentuh mengenali bentuk tubuh dan menamainya sesuka hati.


Hanya dengan isyarat, kita telah sama-sama mengerti bahwa kita tak beda. Kita merebahkan diri menatap kerlip cahaya di langit. Penjaga langit terlihat sedang menyapa kita, lalu dia berbisik ke telingaku, “kutitipkan Adam padamu, Hawa”

Sejak saat itu kita selalu bersama, kukenalkan banyak hal kepadamu. Aku mengenalkan nada, aku mengajarimu berkata, aku membuat sketsa, kita melompat bersama, kita namai pohon-pohon dengan buahnya yang bergelantungan, kau namai itu Khuldi, katamu itu titipan nama dari penjaga langit.

Akupun tak mau kalah. Aku menamai sebuah pohon dengan nama beringin kembar. Beringin mempunyai banyak daun kamu suka berteduh di bawahnya, di bawah beringin kita mengukir kisah. Kamu bercerita tentang kehidupan langit yang penuh dengan kesempurnaan, sungai-sungai dengan airnya yang jernih mengalir tanpa ujung, buah-buahan segala rupa dengan rasanya yang legit, semua kenikmatan ada di langit katamu.
Lantas kenapa kamu turun ke bumi jika semua kenikmatan ada di Langit? Kataku.

“Aku diam-diam memperhatikanmu dari dulu, perempuan dengan alis mata yang mempesona, dua tonjolan di dadamu yang terlihat ranum dan mata yang menyiratkan banyak hal membuatku tergoda, tanpa kamu sadari, kamu pendarkan cahaya ke langit. Aku meminta penjaga langit untuk mengantarkanku menemuimu. Awalnya penjaga langit menolak, dia bersikeras bahwa langit dan bumi diciptakan terpisah, bumi hanya untuk kaum lemah sedangkan langit untuk raja dan bangsawan. Aku bersikeras, akhirnya penjaga langit mengalah. Tetapi dia harus membuat laporan kepada penguasa langit, akhirnya kami bersepakat mengarang cerita, bahwa Aku telah melanggar aturan sehingga layak dijatuhkan ke bumi dan yang membuat aku melanggar aturan adalah Hawa, perempuan cantik di bumi.

Cerita tentang keburukanmu sebagai perempuan penggoda harus kukarang sedemikian rupa agar namaku tetap baik dan penguasa langit tak marah. Seluruh penghuni langit mengutukmu Hawa, dan mereka menyebarkan keburukanmu melalui cerita ke anak cucunya. Hingga cerita itu menjadi hikayat ribuan tahun lalu yang dipercaya sampai kini.
Aku meminta maaf padamu Hawa, kukorbankan namamu demi kehormatanku. Dirimu tak pernah bersalah, akulah yang mengarang cerita bohong”.

Aku menarik nafas lebih dalam dari biasanya, biarlah ku telan bulat-bulat hikayat yang salah itu hingga kini. Akulah tokoh utama dalam sejarah ribuan tahun lalu. Sejarah yang bisa menjadi memori kolektif karena bisa mempersatukan mereka yang percaya dan bangga olehnya.

Namaku Hawa.



_______________________________________________________________________________
Ket : Tulisan ini menceritakan ulang cerita tulisan Okky Madasari dengan judul "Perempuan Pertama" yang dimuat di Jurnal Perempuan no 77, Mei - Juni 2013. "Perempuan Pertama" bisa dibaca di sini

3 comments:

  1. suka banget sama yg ini
    illa sekarang pembaca settia aksara-aksara ibu

    ReplyDelete
  2. suka banget sama yg ini
    illa sekarang pembaca settia aksara-aksara ibu

    ReplyDelete