Di ruang sayap timur di depanku aku yakin sekelompok teman-temanku sedang merasakan kepanasan karena di ada segerombolan orang asing berpostur tinggi yang jumlahnya 15 orang tampak sangat khusuk melihat temanku. Aku melirik pada fosil tengkorak Homo erectus, “lelah ya?ujarku” dia mendelik dengan cepat, rongga matanya yang bolong dan kepalanya yang pelontos tampak penuh dengan peluh, aku tak tahu itu peluh siapa? “kamu kecapean? Dari tadi kulihat orang-orang asing itu tampak mengukur-ngukur kepalamu, mereka menulis banyak tentangmu, ujarku”. Ini bukan peluhku, tapi peluh dari tangan mereka yang menempel di kepalaku, huh sialan… tengkorak kepalaku jadi lengket, ujarnya sambil mendengus. Seketika aku terbahak… membayangkan menjadi dirinya dengan kepala yang dielus oleh banyak tangan, hiiiihhh.
Hei T-rex sttttttt…suara tawamu membuat stalaktit dan stalagmit yang berasal dari Gua Inten, Jawa Tengah itu hampir roboh. Lihat beberapa orang dari sayap barat gedung langsung menuju kemari pasti akan memarahimu yang tertawa terbahak tadi ujar Elephas hysudrindicus si gajah purba yang posisinya tepat berada di depanku. Seketika aku menghentikan tawaku, kulanjutkan dengan terkekeh kecil. “hehehe sorry udin” (panggilanku kepadanya kuplesetkan dari kata udrin) kadang aku lupa kalau bagian sayap kanan dari gedung ini benda-benda yang mudah jatuh, aku jadi ingat beberapa waktu lalu, tawaku membuat peta asal mula bumi itu jatuh, lalu ada beberapa batuan alam yang juga menggelinding ke arahku, minyak-minyak bumi lalu peta-peta gunung api pun berjatuhan. Kepala museum langsung melotot, ku kasih saja senyuman paling manis untuk meluluhkan hatinya, dan ternyata berhasil. Bagaimana tidak, senyuman yang menurutku manis, tenyata itu menjadi seringai yang menyeramkan untuknya, hal inipun baru kutahu ketika dia terkencing-kencing pipis dicelana setiap kali aku mencoba tersenyum, bapak yang baik lain kali pake pampers, ujarku lirih.
Ruanganku hampir kosong, kemana larinya bocah-bocah tengil nan centil itu, yang kebanyakan difoto dari pada mendengarkan dan menulis apa diterangkan oleh pemandu??kemana juga orang-orang berpostur jangkung?dari lantai 2 kudengar suara gaduh, nah…mereka pasti lagi disana.
Aku melirik badak yang tetap dengan posisi siaga, eh dak udah rebahan aza dulu, mereka lagi pada diatas, kita bebas nih. Baru saja aku akan menselonjorkan kakiku yang tinggal tulang belulang, petugas museum memberi aba-aba melalui microphone. “dear T-rex, dear badak, dear smua kelompok fosil purba, tetap pada posisi semula, kalo kalian rebahan ataupun selonjoran, atau menggeliat, kalian sudah tidak akan ok di mataku, jadi tetap pada posisi semula, kooperatiflah, biar gaji saya tidak dipotong bulan depan”. Si badak langsung mendengus, gajah langsung cemberut, hanya aku yang sepertinya pamer senyum terus. Akh… ya sudah nasib.
Daripada aku mati bosan, aku menguping pembicaraan anak-anak kecil tadi dari lantai dua “eh, lihat deh itu ada nenek moyangmu, ada peta manusia purba pertama kali hingga yang terakhir homo sapiens, dari yang bertampang kera hingga menurut versi Darwin yang mirip manusia (jenis homo sapiens)”. Husss… jangan percaya sama Darwin, aku gak terima kalo asal-usulku dari kera, aku keturunan adam dan hawa suara bocah perempuan terlihat kesal menanggapi ucapan temannya.
Suara-suara kecil itu tak kudengar lagi, sering sekali aku mendengar perdebatan di lantai 2 ini, mendebatkan hal serupa seperti tadi, akh.. aku tak mau ambil pusing, aku hanya ingin segera pukul 5 sore ketika langit menjadi jingga, ketika aku bisa selonjoran karena museum telah tutup.
(gambar dokumentasi pribadi), latar : museum geologi Bandung




No comments:
Post a Comment