Mungkin sesuatu tak pernah dianggap penting
sampai kita harus benar-benar melenyapkannya. Atau mungkin sesuatu itu sangat
berbahaya hingga kita dengan serius harus menghapus jejaknya. Kisah cinta masa
lalu bisa saja menjadi teror bagi siapapun, untuk saya ataupun kamu.
Saya rajin menulis, menulis apa saja.
Kadang-kadang tulisan itu bagus dan layak untuk dibaca umum, seringkali hanya
menjadi file yang terbengkalai di laptop. Sebenarnya menulis selain melegakan juga bisa membahayakan. Ada saja orang
yang tak suka dengan apa yang kita tulis lantas dia kurang kerjaan dan
mengomentari tulisan kita, alih-alih mengambil pelajaran dari apa yang kita
tulis malah menjadikan tulisan kita untuk menyerang personal. Menulis memang
pekerjaan berat.
Saya dulu mempunyai kekasih yang juga rajin menulis,
dialah yang mengajari saya untuk terampil memainkan kata-kata. Tetapi sayang, seiring dengan hubungan kami yang kandas sepertinya dia sudah lelah membuai kata. Dia berhenti menulis. Menghapus
jejak-jejak tulisannya. Blog pribadinya
yang berisi tentang kisah cinta saya dengan dia pun tak
segan di delete. Surat-surat elektroniknya, foto dan video yang dikirimkan ke saya bertahun-tahun lalu tak segan dibuang dari komputer. Sayang sekali kebiasaan menulis pun
berhenti hanya karena terhimpit rasa bosan dan sesal pernah
mencintai. Dia
takluk pada ketakutannya. Dia menutup ruang ekspresinya. Dia berpikir menjalani
hidup dengan pasangannya yang baru berarti harus membuang habis yang lama. Untungnya
bagi saya tak jadi soal, Saya terus menulis.