Thursday, April 27, 2017

DELETE BLOG

Mungkin sesuatu tak pernah dianggap penting sampai kita harus benar-benar melenyapkannya. Atau mungkin sesuatu itu sangat berbahaya hingga kita dengan serius harus menghapus jejaknya. Kisah cinta masa lalu bisa saja menjadi teror bagi siapapun, untuk saya ataupun kamu.

Saya rajin menulis, menulis apa saja. Kadang-kadang tulisan itu bagus dan layak untuk dibaca umum, seringkali hanya menjadi file yang terbengkalai di laptop. Sebenarnya menulis selain melegakan juga bisa membahayakan. Ada saja orang yang tak suka dengan apa yang kita tulis lantas dia kurang kerjaan dan mengomentari tulisan kita, alih-alih mengambil pelajaran dari apa yang kita tulis malah menjadikan tulisan kita untuk menyerang personal. Menulis memang pekerjaan berat.

Saya dulu mempunyai kekasih yang juga rajin menulis, dialah yang mengajari saya untuk terampil memainkan kata-kata. Tetapi sayang, seiring dengan hubungan kami yang kandas sepertinya dia sudah lelah membuai kata. Dia berhenti menulis. Menghapus jejak-jejak tulisannya. Blog pribadinya yang berisi tentang kisah cinta saya dengan dia pun tak segan di delete. Surat-surat elektroniknya, foto dan video yang dikirimkan ke saya bertahun-tahun lalu tak segan dibuang dari komputer. Sayang sekali kebiasaan menulis pun berhenti hanya karena terhimpit rasa bosan dan sesal pernah mencintai. Dia takluk pada ketakutannya. Dia menutup ruang ekspresinya. Dia berpikir menjalani hidup dengan pasangannya yang baru berarti harus membuang habis yang lama. Untungnya bagi saya tak jadi soal, Saya terus menulis.

Monday, April 3, 2017

Angkot dan Sebuah Harapan : Catatan Seorang Penumpang

Kamis 9 Maret 2017 lalu lintas Bandung tampak berbeda. Tak ada transportasi publik yang beroperasi. Angkot mogok. Ini sudah kesekian kalinya sejak hadirnya transportasi berbasis aplikasi online. Pemerintah Kota Bandung menghadirkan solusi untuk mengangkut para penumpang. Mobil-mobil dinas yang berada di kelurahan, di kantor kepolisian dan kantor dinas lainnya pun disulap menjadi kendaraan publik yang mengangkut anak sekolah, ibu-ibu yang hendak ke pasar, para karyawan dan mahasiswa.

Hari itu saya ingin menjadi bagian dari sejarah. Menyaksikan kota tanpa angkot melewati jalan-jalan di Bandung yang mendadak lengang. Tentunya saya menghindari titik demonstran berkumpul yakni Gedung Sate. Di mata saya hari itu Bandung seperti kota modern, yang maju warganya, dan disiplin. Tak terlihat kendaraan yang parkir sembarangan ataupun pengendara yang membuang puntung rokok atau botol minum mineral ke jalan juga mobil yang melaju dengan gaya zigzag.

Bertahun-tahun saya pengguna angkot, angkot menghadirkan banyak kenangan. Kenangan naik angkot ketika ibu dan kakak saya dijambret di daerah Ujung Berung jam dua siang bulan Desember tahun 2009. Gelang yang dipakai di pergelangan tangan ibu pun raib seketika. Sejak saat itu ibu saya trauma menaiki angkot. Atau ketika saya bersitegang dengan supir, gara-gara supir angkot merokok dan asapnya memenuhi ruangan penumpang. Saya menegur dengan sopan, dan supir angkot balas menghardik saya “naik taksi saja neng”, jika sudah begitu biasanya saya langsung berhenti dan keluar. Belum lagi angkot yang ngetem hingga beberapa jadwal yang sudah disusun pun gagal. Meski begitu angkot menjadi satu-satunya pilihan berkendara.