Tuesday, November 22, 2016

Berkaca pada Eiger

Sudah berhari-hari saya tak keluar rumah. Di luar rumah hiruk pikuk tak karuan. Gaduh. Suara keadilan dan kebencian menyeruak di mana-mana. Saya memilih diam. Menyibukkan diri dengan yoga dan tenggelam dalam lautan abjad. Bukan tanpa sebab, tetapi ini adalah bentuk saya melakukan perlawanan terhadap suara-suara bising.

“Kamu harus bersuara, tidak bersuara berarti memihak” sayup-sayup bisikan serupa itu selalu hadir di ruang-ruang imajiner. Di sini netral saja sudah sebuah dosa. Sosok-sosok imajiner, belakangan bermain-main dalam benak. Mereka hadir meriuhkan suasana, bukan kedamaian yang lahir tetapi kebencian yang semakin memenuhi segala ruang. Lebih baik saya menyingkir. Bukan karena tak sanggup bertarung, tetapi bukankah bertarung tak mesti dengan bersuara keras?

Saya tak hendak membuat perkara. Hidup hanya serupa permainan. Permainan yang menyenangkanlah yang saya pilih. Bukan pula saya mencari aman. Tetapi kadangkala diam dibutuhkan karena bising juga tak menyelesaikan masalah. Saya tak ingin terjebak dalam lingkaran pseudoactivity. Diam bentuk perlawanan yang paling manis. Seperti Buddhis yang menjalankan darmanya dalam keheningan.

Sesekali saya menengok jendela, melihat yang terkasih sedang asyik bermain bersama Eiger yang meloncat-loncat gembira di halaman. Menyapukan pekarangan dan memungut dedaunan yang jatuh. Mendengar suara harmoni lidi bergesekan dengan rumput basah. Dia lalu akan menyuruh saya untuk mendekat. Kemudian menyiapkan secangkir teh manis. Dia dengan cekatan akan melaporkan apa saja yang terjadi di luar rumah. Mulutnya fasih bercerita, matanya berkerlap-kerlip antusias. Sejujurnya saya lebih menikmati ekpresinya yang menggemaskan daripada mendengar apa yang dia ceritakan.

Gambar dokumentasi pribadi

Ini sudah berulang kali, suara-suara bising itu tak pernah pergi. Saya bertanya pada belahan jiwa saya “sebenarnya apa sih yang sedang mereka cari?” Seperti biasa dia hanya tersenyum penuh makna. “Beberapa dari mereka bising karena sedang ribut mencari makan, beberapa lainnya berteriak karena menuntut keadilan”. Katanya.

Saya melihat Eiger yang mengeong terus-terusan. Eiger lapar, suaranya bising sekali. Eiger juga mengeong keras ketika dia sedang kesakitan, Eiger juga berteriak ketika dia mencari-cari anaknya. Eiger, tempat saya berkaca. Manusia akan bersuara ketika lapar, kesakitan dan kehilangan.
Kekasih saya berulang kali mengajak saya menghadiri kerumunan. Di dalam kerumunan huruf-huruf berterbangan menghias udara. Ada yang teruntai sempurna, tetapi banyak juga yang berantakan. Kebanyakan kerumunan hanya melahirkan permasalahan baru. Lalu orang-orang yang berkerumun akan bubar kala matahari sayup-sayup meredup. Tetapi pedih, duka, lara, amarah masih tersisa bahkan ketika jejak-jejak kaki sudah tak ada dalam lingkaran kerumunan tadi.

Tak semua kerumunan menyebalkan. Saya lupa bercerita, saya tak benar-benar tak keluar rumah. Setiap jumat pagi saya menghadiri kerumunan. Kemurunan yang satu ini lain dari biasanya, beberapa orang telanjang, tubuh kami menggelinjang, keringat membuat tubuh mengkilap. Dalam kerumunan tersebut kata-kata tak berebutan keluar. Hanya ada mantra dan sedikit syair. Tubuh kami pasrah, jiwa kami biarkan untuk bermain dengan sendirinya. Pikiran kami bebaskan untuk menjadi dirinya sendiri. Kami menyerahkan diri pada kerumunan tersebut. Mantra menggaung, mata terpejam, tubuh kami ringan, meski kami tak terbang. Hening, tak ada angka dan huruf yang saling bersaing.
Barangkali besok atau lusa saya akan mulai ke luar rumah, bermain dengan Eiger.

















No comments:

Post a Comment