Sudah berhari-hari saya tak keluar rumah. Di luar rumah
hiruk pikuk tak karuan. Gaduh. Suara keadilan dan kebencian menyeruak di
mana-mana. Saya memilih diam. Menyibukkan diri dengan yoga dan tenggelam dalam
lautan abjad. Bukan tanpa sebab, tetapi ini adalah bentuk saya melakukan
perlawanan terhadap suara-suara bising.
“Kamu harus bersuara, tidak bersuara berarti memihak”
sayup-sayup bisikan serupa itu selalu hadir di ruang-ruang imajiner. Di sini
netral saja sudah sebuah dosa. Sosok-sosok imajiner, belakangan bermain-main
dalam benak. Mereka hadir meriuhkan suasana, bukan kedamaian yang lahir tetapi
kebencian yang semakin memenuhi segala ruang. Lebih baik saya menyingkir. Bukan
karena tak sanggup bertarung, tetapi bukankah bertarung tak mesti dengan
bersuara keras?
Saya tak hendak membuat perkara. Hidup hanya serupa
permainan. Permainan yang menyenangkanlah yang saya pilih. Bukan pula saya
mencari aman. Tetapi kadangkala diam dibutuhkan karena bising juga tak
menyelesaikan masalah. Saya tak ingin terjebak dalam lingkaran pseudoactivity. Diam bentuk perlawanan
yang paling manis. Seperti Buddhis yang menjalankan darmanya dalam keheningan.
Sesekali saya menengok jendela, melihat yang terkasih sedang
asyik bermain bersama Eiger yang meloncat-loncat gembira di halaman. Menyapukan
pekarangan dan memungut dedaunan yang jatuh. Mendengar suara harmoni lidi
bergesekan dengan rumput basah. Dia lalu akan menyuruh saya untuk mendekat.
Kemudian menyiapkan secangkir teh manis. Dia dengan cekatan akan melaporkan apa
saja yang terjadi di luar rumah. Mulutnya fasih bercerita, matanya
berkerlap-kerlip antusias. Sejujurnya saya lebih menikmati ekpresinya yang
menggemaskan daripada mendengar apa yang dia ceritakan.
| Gambar dokumentasi pribadi |
Ini sudah berulang kali, suara-suara bising itu tak pernah
pergi. Saya bertanya pada belahan jiwa saya “sebenarnya apa sih yang sedang
mereka cari?” Seperti biasa dia hanya tersenyum penuh makna. “Beberapa dari
mereka bising karena sedang ribut mencari makan, beberapa lainnya berteriak
karena menuntut keadilan”. Katanya.
Saya melihat Eiger yang mengeong terus-terusan. Eiger lapar,
suaranya bising sekali. Eiger juga mengeong keras ketika dia sedang kesakitan,
Eiger juga berteriak ketika dia mencari-cari anaknya. Eiger, tempat saya
berkaca. Manusia akan bersuara ketika lapar, kesakitan dan kehilangan.
Kekasih saya berulang kali mengajak saya menghadiri
kerumunan. Di dalam kerumunan huruf-huruf berterbangan menghias udara. Ada yang
teruntai sempurna, tetapi banyak juga yang berantakan. Kebanyakan kerumunan
hanya melahirkan permasalahan baru. Lalu orang-orang yang berkerumun akan bubar
kala matahari sayup-sayup meredup. Tetapi pedih, duka, lara, amarah masih
tersisa bahkan ketika jejak-jejak kaki sudah tak ada dalam lingkaran kerumunan
tadi.
Tak semua kerumunan menyebalkan. Saya lupa bercerita, saya
tak benar-benar tak keluar rumah. Setiap jumat pagi saya menghadiri kerumunan.
Kemurunan yang satu ini lain dari biasanya, beberapa orang telanjang, tubuh kami
menggelinjang, keringat membuat tubuh mengkilap. Dalam kerumunan tersebut kata-kata
tak berebutan keluar. Hanya ada mantra dan sedikit syair. Tubuh kami pasrah,
jiwa kami biarkan untuk bermain dengan sendirinya. Pikiran kami bebaskan untuk
menjadi dirinya sendiri. Kami menyerahkan diri pada kerumunan tersebut. Mantra
menggaung, mata terpejam, tubuh kami ringan, meski kami tak terbang. Hening,
tak ada angka dan huruf yang saling bersaing.
Barangkali besok atau lusa saya akan mulai ke luar rumah, bermain
dengan Eiger.
No comments:
Post a Comment