Sunyi kali ini datang tanpa perantara. Tidak angin. Tidak
bulan. Tidak juga suara serupa anjing yang menyalak. Hanya sayup-sayup
terdengar suara serangga dan cicak yang semakin jelas di telinga.
Posisiku selalu sama setiap malam. Dengan mata terpejam dan kaki
bersila, aku menjemput sunyi diam-diam. Rasa takut mulai bereaksi menyebabkan
perutku mulas dan seluruh ototku menegang, tapi walaupun begitu aku tahu bahwa
aku harus tetap bersetubuh dengan sunyi.
Segala ritual untuk pendekapan sunyi telah kusiapkan.
Ingatan-ingatan yang terpelihara dengan baik satu persatu mulai ku bariskan
untuk segera ku keluarkan. Peristiwa, rasa sakit, kebahagian, kekecewaan siap
berlompatan menunggu giliran untuk di pertontonkan kembali.
Suara-suara dengingan serangga di telinga kian mengusik
karena semakin jelas terdengar, itu pertanda bahwa sunyi mulai menjamahku.
Ada beberapa hal yang tak kusukai dari persetubuhanku dengan
sunyi. Aku seperti dipaksa untuk memuntahkan kembali peristiwa yang sudah tak
mau kuingat lagi. Semacam perpisahan, ketidakutuhan. Ketidakutuhan selalu
berhasil menggiring sunyi menjadi peristiwa yang melankoli.
Syukurnya kali ini tak ada hujan.
Sepuluh menit pertama dengan sunyi, aku masih bisa menguasai
kondisi. Tetapi menit berikutnya aku sudah pasrah pada apa saja yang
menggiringku, baik itu ingatan-ingatan yang berhamburan keluar, ataupun dada
yang tiba-tiba sesak, juga bagian mata yang kian terasa perih. Ingatan-dada
sesak-mata perih. Tiga tahap yang selalu benar.
Jika ketiganya telah hadir artinya sunyi sudah masuk dalam
tulang belikat, melilit dalam tulang ekor, mengikat diri pada setiap
persendian. Seharusnya tubuhku lemas, tapi kenyataannya tubuhku kaku.
Dua puluh menit, aku dililit dalam kesiap sunyi. Posisiku
tak berubah, mata terpejam dan duduk bersila. Di hadapanku seakan ada layar
raksasa yang sedang memutar peristiwa bertahun-tahun lalu, peristiwa yang sudah
ingin kulupa.
Akh.. ya, seharusnya aku mengerti bahwa sunyi hadir karena
dendam dan ketidakterimaan.
Tiga puluh menit persetubuhanku dengan sunyi, aku lelah luar
biasa. Sunyi menelanjangiku tanpa ampun, dicabutnya kebahagianku empatpuluhlima
menit lalu, ketika sunyi belum datang. Aku ingin menudingmu sebagai perusak
kebahagian tapi nyatanya kamu adalah penanda yang selalu menyadarkanku bahwa
ketidakterimaan itu masih ada, dendam itu masih melekat.
Perlahan dada yang sesak membaik. Guruh gemuruh suara yang
terdengar di telinga mengantarkanku pada tempat yang jauh dari realitas.
Surealis. Nafasku mulai teratur, gerakan menghirup dan mengeluarkan nafas sudah
pas dengan hitungan dan mulai terkendali. Pikiran-pikiran kembali jernih,
kurasakan bulir keringat di pelipisku. Leherku berpeluh. Tubuhku basah.
Perlahan aku membuka mata, cicak di dinding masih menempel
di bagian yang sama. Tiga puluh menit bukan waktu yang pas untuk cicak itu
memutuskan bergerak. Sunyi malam ini tak lebih baik dari malam kemarin. Akupun
mulai merebahkan badan, menyiapkan diri menjemput kesunyian dengan cara yang
lain.
---------------------------------------------------------------------------
Ket : gambar "Keraton Surakarta Hadiningrat Solo" dokumentasi pribadi.
No comments:
Post a Comment