Sunday, March 16, 2014

Sunyi




Sunyi kali ini datang tanpa perantara. Tidak angin. Tidak bulan. Tidak juga suara serupa anjing yang menyalak. Hanya sayup-sayup terdengar suara serangga dan cicak yang semakin jelas di telinga.

Posisiku selalu sama setiap malam. Dengan mata terpejam dan kaki bersila, aku menjemput sunyi diam-diam. Rasa takut mulai bereaksi menyebabkan perutku mulas dan seluruh ototku menegang, tapi walaupun begitu aku tahu bahwa aku harus tetap bersetubuh dengan sunyi.

Segala ritual untuk pendekapan sunyi telah kusiapkan. Ingatan-ingatan yang terpelihara dengan baik satu persatu mulai ku bariskan untuk segera ku keluarkan. Peristiwa, rasa sakit, kebahagian, kekecewaan siap berlompatan menunggu giliran untuk di pertontonkan kembali.

Suara-suara dengingan serangga di telinga kian mengusik karena semakin jelas terdengar, itu pertanda bahwa sunyi mulai menjamahku.

Ada beberapa hal yang tak kusukai dari persetubuhanku dengan sunyi. Aku seperti dipaksa untuk memuntahkan kembali peristiwa yang sudah tak mau kuingat lagi. Semacam perpisahan, ketidakutuhan. Ketidakutuhan selalu berhasil menggiring sunyi menjadi peristiwa yang melankoli.

Syukurnya kali ini tak ada hujan.

Sepuluh menit pertama dengan sunyi, aku masih bisa menguasai kondisi. Tetapi menit berikutnya aku sudah pasrah pada apa saja yang menggiringku, baik itu ingatan-ingatan yang berhamburan keluar, ataupun dada yang tiba-tiba sesak, juga bagian mata yang kian terasa perih. Ingatan-dada sesak-mata perih. Tiga tahap yang selalu benar.

Jika ketiganya telah hadir artinya sunyi sudah masuk dalam tulang belikat, melilit dalam tulang ekor, mengikat diri pada setiap persendian. Seharusnya tubuhku lemas, tapi kenyataannya tubuhku kaku.

Dua puluh menit, aku dililit dalam kesiap sunyi. Posisiku tak berubah, mata terpejam dan duduk bersila. Di hadapanku seakan ada layar raksasa yang sedang memutar peristiwa bertahun-tahun lalu, peristiwa yang sudah ingin kulupa.

Akh.. ya, seharusnya aku mengerti bahwa sunyi hadir karena dendam dan ketidakterimaan.
Tiga puluh menit persetubuhanku dengan sunyi, aku lelah luar biasa. Sunyi menelanjangiku tanpa ampun, dicabutnya kebahagianku empatpuluhlima menit lalu, ketika sunyi belum datang. Aku ingin menudingmu sebagai perusak kebahagian tapi nyatanya kamu adalah penanda yang selalu menyadarkanku bahwa ketidakterimaan itu masih ada, dendam itu masih melekat.

Perlahan dada yang sesak membaik. Guruh gemuruh suara yang terdengar di telinga mengantarkanku pada tempat yang jauh dari realitas. Surealis. Nafasku mulai teratur, gerakan menghirup dan mengeluarkan nafas sudah pas dengan hitungan dan mulai terkendali. Pikiran-pikiran kembali jernih, kurasakan bulir keringat di pelipisku. Leherku berpeluh. Tubuhku basah.

Perlahan aku membuka mata, cicak di dinding masih menempel di bagian yang sama. Tiga puluh menit bukan waktu yang pas untuk cicak itu memutuskan bergerak. Sunyi malam ini tak lebih baik dari malam kemarin. Akupun mulai merebahkan badan, menyiapkan diri menjemput kesunyian dengan cara yang lain.


---------------------------------------------------------------------------
Ket : gambar "Keraton Surakarta Hadiningrat Solo" dokumentasi pribadi. 

No comments:

Post a Comment