Tuesday, November 23, 2010

Biarkan aku menggenggam-mu

Sepi dan hampa selalu di benakku Tak pernah ku rasakan kehangatan terkadang membuat hatiku beku hampir tak ada rasa Siangku tanpa matahari bersinar Malamku pun tanpa bulan dan bintang Ku terus cari cahaya dan hangat itu Cahaya dan hangat yang ku inginkan Terus dan terus dan terus… Sampai akhirnya kini aku temukan sebuah cahaya lilin Walapun cahaya itu kecil namun ia dapat menerangiku Kini ku dapatkan cinta itu Rasa terang dan hangat yang ku damba Yang akan terus sinari hidupku Saat hujan tak lagi menyapa mu Saat gelap mulai membentuk gundukan Tetaplah lihat pada kilauan bintang Disanalah jawaban yang kau nantikan biarkan aku menggenggam-mu cahaya kecilku....

Friday, November 19, 2010

Rumah Tempat Pulang

Kutatap punggung itu yang semakin menjauh, hingga membentuk sebuah titik yang tak bisa kupandangi lagi. lagi…. lagi… hujan, dan kau pun kembali meninggalkanku dalam hujan musim ini, padahal yang ku ingat, dulu pun kau meninggalkanku dalam musim-musim yang basah yang seperti ini. Kututup pintu perlahan, deritnya semakin berbunyi keras, aku lupa mengolesi engsel pintu ini dengan oli, aku bahkan sampai lupa bahwa bahwa sebelum kau datang pintu rumahku ini adalah pintu paling mewah dikampungku. aku mengingat pertengkaran semalam, suaramu bersahut-sahutan dengan petir, suaramu kalah oleh derasnya hujan, tapi kau seolah tak pernah kehabisan energi untuk mengeluarkan kata-kata, aku hanya diam, terpaku menatap bola mata yang berkilat penuh marah, mata itu masi tetap sama, mata yang ku kagumi, mata yang penuh kasih, mata yang mampu membuatku menoleh dan tunduk. dan pagi ini, rasanya sama seperti musim-musim basah sebelumnya, kau kenakan ransel bututmu, kau kenakan jaket kesayanganmu, kau bawa air mineral, sebenarnya aku tahu kau ingin membawa teh tawar panas, tapi sayang… teh nya telah kita habiskan malam-malam sebelumnya. Menarik nafas panjang… melihat jam.. akh...hampir subuh ucapku, angin dingin menyeruak masuk membabi buta lewat pintu yang terbuka, ya.. sengaja pintunya kubiarkan terbuka... karena aku selalu yakin, kau akan datang dalam keadaan basah kuyup, dan menggigil seperti yang lalu. tak pernahkah kau sadari bahwa sesungguhnya, ketika kau mengucap pergi dan meninggalkan rumahku, kau akan mencariku lagi. karena bukankah aku adalah rumah tempatmu pulang?? akh... mungkin kau lupa, dan mungkin kemarin malam aku lupa mengingatkanmu... "bersandar pada daun pintu, sambil sesekali melihat ke jalanan berharap sosokmu datang, (aku... sudah tak bisa berkata-kata lagi)"

Wednesday, June 2, 2010

Sesak


rasanya duri-duri mawar ini tak juga berkurang, tak juga menghilang
lagi-lagi, tanpa sengaja tersentuh...
tes... tes... darah-darah segar mengalir, mengikuti lekuk tubuhku
kubiarkan saja... pasrah

aku melihat wanita setengah baya itu...
menangis terisak hebat
menggugat Tuhannya
menceracau berkejar-kejaran dengan air mata yang membuncah
mengeluarkan semua hal yang tak pernah ia mengerti

Kehidupan... ya... kehidupan
ada saatnya terhenti
lalu apa yang kita bawa??

adakah sesuatu yang abadi??


dengan kaki telanjang kuinjak duri-duri mawar itu
berkali-kali,...
hingga kurasakan seluruh tubuhku mengejang hebat
hanya ada satu nama yang kusebut dihati ini
hanya terlintas satu kalimat sederhana untuk ku ucap
ketika semua menjadi gelap
dan matahari tak pernah kulihat lagi


by Na
’dalam sesak yang tak juga mereda’

Sunday, May 30, 2010

Isi Hati (si Jenonk)

sms yang kuterima siang itu, seperti petir yang menyambar kepalaku tepat. “sayang, aku akan menikahi wanita lain”, brukk.. pertahananku runtuh, otakku beku, teringat semua kenangan bersamanya selama hampir 3 bulan terakhir ini, ya semua bermula dari februari… dari seseorang yang bukan apa-apa lantas berubah kedudukan menjadi raja di singgasana hatiku.

aku memanggilmu mas, selayaknya hormatku kepadamu dalam ukuran masyarakat Jawa, aku tahu mas, aku bukan yang pertama dan terdahulu di hatimu, kamu hanya mengenalku di suatu siang di terminal bis, pertemuan yang tak pernah direncanakan, pertemuan yang menurutku tak pernah terduga, aku mengenalmu mas sebagai sosok lelaki yang kharismatik, kau kemudian menggantikan kududukan seseorang yang telah lama bercokol megah dalam hatiku, kau menggeser kedudukan aa perlahan, sangat pelan, kau tak pernah tergesa-gesa, tetapi pelanmu itu benar-benar menunjukkan jalan untukmu melewati celah sempit yang bermuara pada hatiku.

Lelaplah dalam Tidurmu

Sudah...sudah tidurlah pejamkan matamu
jangan pedulikan aku yang belum terpejam juga disampingmu
aku hanya ingin terjaga
menatapmu yang tertidur lelap disampingku
kupandangi kau...

alis itu, mata yang tertutup rapat
mulut yang sedikit membuka
dan hidung yang kembang kempis
mengeluarkan dan menghirup oksigen
sketsa wajah yang telah kuhapal lekuknya

malam ini aku hanya ingin terjaga
aku lelah dengan mimpi-mimpiku tentang kamu
dan aku hanya ingin terjaga
untuk membuktikan
bahwa kamu benar-benar nyata untukku

malam ini aku hanya ingin terjaga disampingmu
tak berharap datangnya pagi
karena ku tahu
hanya setiap matahari tidur
kau menjadi milikku seutuhnya

malam ini aku hanya ingin terjaga
sampai datangnya pagi
sampai ketika kau membuka mata
hal pertama yang kau lihat
adalah aku yang tersenyum menatapmu



by
Na

Friday, May 21, 2010

Petir Tanpa Hujan V

Minggu yang mendung, aku berlari kecil menuju st. hall, hp-ku bergetar lembut...drttt...drttt... “Na dimana, aku uda nyampe”, ku tanya petugas security... pak, argo gede uda dateng ya??ia mbak 10 menit yang lalu, kepalaku sibuk mencari-cari sosok yang kucari, mudah-mudahan aku masi hapal wajahnya. tiba-tiba, teriakan kencang seolah membangunkanku... “Naaaaaaaaaaa.... “tangannya melambai-lambai cepat mengalahkan gerak angin. kuhampiri tempat dia menungguku... “hei apa kabar, ucapku”, baik... makan yuks laper, wew... to the point banget nih... ya uda alhamdulilah ternyata rezeki makan siangku dikirimkan DIA lewatnya. Na, habis ini aku mau ke Dago, ikut gak?? ngapain?? kita makan-makan lah, tau tempat makan gak Na disana?? huuuuuuu, meneketehe, negaraku kan bukan disini, tapi di Jatinangor:D... hahhaha, ia dasar ndeso luh, biarin aku mencibir, memangnya mau makan apa?? ”hmmm...makanan sunda deh, katamu”, makan ikan peda bakar mau gak?? hahhahah, ideku yang kupikir cemerlang, cespleng otak lu Na... tapi kalo mau makan ikan peda bakar ngapain musti ke Bandung, dirumahku juga sering makan ikan peda:d... hahhaha, aku tergelak, ya sudah lah..ikut saja, ku ajak kau ke ”bancakan” deh, tempatnya sundanese banget, harganya murah meriah, dari mulai piring, gelas, tempat duduk, lampu petromaks itu dibuat tempo dulu banget, gak nyesel deh kalo makan di ”bancakan” ujarku menggebu, senggaknya gak keluar duit banyak, itu buat dompet mahasiswa kok, huh.. tau az luh Na, kalo aku lagi cekak... maklumlah mahasiswa. ini kubawa 2 novel untukmu, wow...kok Cuma 2??aku kan mintanya selusin??hahha..maruk lu Na, nanti deh kalo kesini lagi...hufffttt, itu artinya kapan-kapan dong, kamu kan kesininya sesuka hati, 3 bulan sekali, 5 bulan sekali, 9 bulan sekali, bahkan setahun sekali, kapan koleksi novelku akan nambah kalo gini caranya?? hahhaha, kamu tergelak hebat sambil mengacak-ngacak rambutku, ia nanti Na manis.... masih aza manja ya kamu, padahal rasanya uda hampir beberapa semester gak bertemu, masi gak berubah. lagu ”malaikat juga tahu-nya” dewi lestari yang saat itu lagi marak, tiba-tiba mengalun lembut, aku hapal itu ringtone Hpku, kulirik nama yang menelepon, wow.. ternyata Tuan agung, segera kuangkat ”Na, dimana??saya lagi di Bandung, di daerah Dago Pakar nih, lagi makan ikan peda bakar kesukaanmu, kamu masih di Jatinangor kan, segeralah kesini, saya tak lama disini, saya tunggu ya. tunggu... kamu sama siapa?? dengan orang yang sudah tak asing bagimu pastinya Na??? what?? sapa lagi itu... duh dunia benar-benar aneh... Na, jadi gak nih, kita makan ikan peda bakar, dimana tadi katamu??daerah dago Pakar ya?? hmmmm... gak jadi deh, kita makan di daerah Trunojoyo saja ya, ada tempat makan sunda juga bernama ”Sambara”. loh kenapa??? hmmm...gpp, haduh rasanya aku sudah tak bisa membayangkan bagaimana jadinya, kalo aku bertemu dengannya bersama denganmu...ikan pedanya gimana Na?? lain kali saja...ok, ucapku sambil melotot dan berujar ”nurut deh”. hmmm... to be continued or the end ya..??

*Galau*

Aku kini telah menapak pada undakan tangga ke tujuh puluh ribu, huffft bukan angka yang kecil untuk sebuah undakan tangga, bergantian orang-orang menemaniku melangkah, tapi kebanyakan dari mereka kelelahan, mereka benar-benar tak bisa mengimbangi gerakku yang cepat, mereka kewalahan dengan energiku yang tak pernah habis, untuk beristirahat sebentar pun aku tak mau, aku akan marah-marah dan menggerutu panjang pendek bergumam tidak jelas ”buang-buang waktu saja beristirahat seperti ini”, apa sih yang aku tuju??*puncak tangga* ya puncak tangga, yang akupun tak tahu dimana itu dan harus berapa lama lagi untuk meraihnya, aku merasa gamang ketika menginjak tangga ke tujuh puluh ribu ini, keseimbanganku hilang, tiba-tiba aku menangis, bukan tangga ini yang aku mau, aku melihat dengan kepala menoleh cepat kearah kananku, diseberang tanggaku ada tangga mewah dengan sesak dipenuhi oleh orang-orang yang penuh kerut, tak menarik, berkacamata tebal, aku melihat keatas, kedua tangga ini sebenarnya akan berakhir dipuncak yang sama, kenapa aku berada disini, bukankah aku mampu menaiki tangga diseberangku, bukankah aku memiliki energi yang berlebih untuk mencapainya, bukankah aku seharusnya berada diantara orang-orang penuh kerutan dan berkacamata tebal itu??? aku terduduk lesu, rasanya ingin melepas dahaga, merenung ”seandainya aku mungkin untuk menyebrangi tangga ini, itu pasti akan kulakukan” aku tahu bagaimana diriku, diri yang jika menginginkan sesuatu maka itu akan menggebu, seberapa banyakpun hal yang dihadirkan mataku untuk mengganti keinginanku, itu tak akan pernah membuatku merasa puas, akh... lagi-lagi aku tak bersyukur kembali aku mengingatNYA, orang-orang dibawahku terus mendesakku agar aku cepat melesat ke atas, seseorang yang menemaniku tertinggal jauh dibelakangku, aku tak tahu, apakah dia akan mengejarku dan menemaniku lagi mencapai puncak tangga, atau cukup sampai sekian seperti yang lalu-lalu. sampai saat ini aku belum bisa berdamai dengan tangga yang akan kunaiki, aku perlu istirahat, biarlah orang-orang mendesakku, menginjakku, aku tak peduli, biarlah aku luangkan waktu untuk sekedar berpikir bahwa apa yang kupilih adalah benar. ”ketika berada dalam kegamangan bahwa aku akan menjalani sesuatu yang baru, yang benar-benar berbeda dari awalku, dari karakterku” apakah bisa?? With Love "Na