Tuesday, November 23, 2010
Biarkan aku menggenggam-mu
Friday, November 19, 2010
Rumah Tempat Pulang
Wednesday, June 2, 2010
Sesak
rasanya duri-duri mawar ini tak juga berkurang, tak juga menghilang
lagi-lagi, tanpa sengaja tersentuh...
tes... tes... darah-darah segar mengalir, mengikuti lekuk tubuhku
kubiarkan saja... pasrah
aku melihat wanita setengah baya itu...
menangis terisak hebat
menggugat Tuhannya
menceracau berkejar-kejaran dengan air mata yang membuncah
mengeluarkan semua hal yang tak pernah ia mengerti
Kehidupan... ya... kehidupan
ada saatnya terhenti
lalu apa yang kita bawa??
adakah sesuatu yang abadi??
dengan kaki telanjang kuinjak duri-duri mawar itu
berkali-kali,...
hingga kurasakan seluruh tubuhku mengejang hebat
hanya ada satu nama yang kusebut dihati ini
hanya terlintas satu kalimat sederhana untuk ku ucap
ketika semua menjadi gelap
dan matahari tak pernah kulihat lagi
by Na
’dalam sesak yang tak juga mereda’
Sunday, May 30, 2010
Isi Hati (si Jenonk)
sms yang kuterima siang itu, seperti petir yang menyambar kepalaku tepat. “sayang, aku akan menikahi wanita lain”, brukk.. pertahananku runtuh, otakku beku, teringat semua kenangan bersamanya selama hampir 3 bulan terakhir ini, ya semua bermula dari februari… dari seseorang yang bukan apa-apa lantas berubah kedudukan menjadi raja di singgasana hatiku.
aku memanggilmu mas, selayaknya hormatku kepadamu dalam ukuran masyarakat Jawa, aku tahu mas, aku bukan yang pertama dan terdahulu di hatimu, kamu hanya mengenalku di suatu siang di terminal bis, pertemuan yang tak pernah direncanakan, pertemuan yang menurutku tak pernah terduga, aku mengenalmu mas sebagai sosok lelaki yang kharismatik, kau kemudian menggantikan kududukan seseorang yang telah lama bercokol megah dalam hatiku, kau menggeser kedudukan aa perlahan, sangat pelan, kau tak pernah tergesa-gesa, tetapi pelanmu itu benar-benar menunjukkan jalan untukmu melewati celah sempit yang bermuara pada hatiku.
aku memanggilmu mas, selayaknya hormatku kepadamu dalam ukuran masyarakat Jawa, aku tahu mas, aku bukan yang pertama dan terdahulu di hatimu, kamu hanya mengenalku di suatu siang di terminal bis, pertemuan yang tak pernah direncanakan, pertemuan yang menurutku tak pernah terduga, aku mengenalmu mas sebagai sosok lelaki yang kharismatik, kau kemudian menggantikan kududukan seseorang yang telah lama bercokol megah dalam hatiku, kau menggeser kedudukan aa perlahan, sangat pelan, kau tak pernah tergesa-gesa, tetapi pelanmu itu benar-benar menunjukkan jalan untukmu melewati celah sempit yang bermuara pada hatiku.
Lelaplah dalam Tidurmu
Sudah...sudah tidurlah pejamkan matamu
jangan pedulikan aku yang belum terpejam juga disampingmu
aku hanya ingin terjaga
menatapmu yang tertidur lelap disampingku
kupandangi kau...
alis itu, mata yang tertutup rapat
mulut yang sedikit membuka
dan hidung yang kembang kempis
mengeluarkan dan menghirup oksigen
sketsa wajah yang telah kuhapal lekuknya
malam ini aku hanya ingin terjaga
aku lelah dengan mimpi-mimpiku tentang kamu
dan aku hanya ingin terjaga
untuk membuktikan
bahwa kamu benar-benar nyata untukku
malam ini aku hanya ingin terjaga disampingmu
tak berharap datangnya pagi
karena ku tahu
hanya setiap matahari tidur
kau menjadi milikku seutuhnya
malam ini aku hanya ingin terjaga
sampai datangnya pagi
sampai ketika kau membuka mata
hal pertama yang kau lihat
adalah aku yang tersenyum menatapmu
by
Na
jangan pedulikan aku yang belum terpejam juga disampingmu
aku hanya ingin terjaga
menatapmu yang tertidur lelap disampingku
kupandangi kau...
alis itu, mata yang tertutup rapat
mulut yang sedikit membuka
dan hidung yang kembang kempis
mengeluarkan dan menghirup oksigen
sketsa wajah yang telah kuhapal lekuknya
malam ini aku hanya ingin terjaga
aku lelah dengan mimpi-mimpiku tentang kamu
dan aku hanya ingin terjaga
untuk membuktikan
bahwa kamu benar-benar nyata untukku
malam ini aku hanya ingin terjaga disampingmu
tak berharap datangnya pagi
karena ku tahu
hanya setiap matahari tidur
kau menjadi milikku seutuhnya
malam ini aku hanya ingin terjaga
sampai datangnya pagi
sampai ketika kau membuka mata
hal pertama yang kau lihat
adalah aku yang tersenyum menatapmu
by
Na
Friday, May 21, 2010
Petir Tanpa Hujan V
Minggu yang mendung, aku berlari kecil menuju st. hall, hp-ku bergetar lembut...drttt...drttt... “Na dimana, aku uda nyampe”, ku tanya petugas security... pak, argo gede uda dateng ya??ia mbak 10 menit yang lalu, kepalaku sibuk mencari-cari sosok yang kucari, mudah-mudahan aku masi hapal wajahnya.
tiba-tiba, teriakan kencang seolah membangunkanku... “Naaaaaaaaaaa.... “tangannya melambai-lambai cepat mengalahkan gerak angin. kuhampiri tempat dia menungguku... “hei apa kabar, ucapku”, baik... makan yuks laper, wew... to the point banget nih... ya uda alhamdulilah ternyata rezeki makan siangku dikirimkan DIA lewatnya.
Na, habis ini aku mau ke Dago, ikut gak?? ngapain?? kita makan-makan lah, tau tempat makan gak Na disana?? huuuuuuu, meneketehe, negaraku kan bukan disini, tapi di Jatinangor:D... hahhaha, ia dasar ndeso luh, biarin aku mencibir, memangnya mau makan apa?? ”hmmm...makanan sunda deh, katamu”, makan ikan peda bakar mau gak?? hahhahah, ideku yang kupikir cemerlang, cespleng otak lu Na... tapi kalo mau makan ikan peda bakar ngapain musti ke Bandung, dirumahku juga sering makan ikan peda:d... hahhaha, aku tergelak, ya sudah lah..ikut saja, ku ajak kau ke ”bancakan” deh, tempatnya sundanese banget, harganya murah meriah, dari mulai piring, gelas, tempat duduk, lampu petromaks itu dibuat tempo dulu banget, gak nyesel deh kalo makan di ”bancakan” ujarku menggebu, senggaknya gak keluar duit banyak, itu buat dompet mahasiswa kok, huh.. tau az luh Na, kalo aku lagi cekak... maklumlah mahasiswa.
ini kubawa 2 novel untukmu, wow...kok Cuma 2??aku kan mintanya selusin??hahha..maruk lu Na, nanti deh kalo kesini lagi...hufffttt, itu artinya kapan-kapan dong, kamu kan kesininya sesuka hati, 3 bulan sekali, 5 bulan sekali, 9 bulan sekali, bahkan setahun sekali, kapan koleksi novelku akan nambah kalo gini caranya?? hahhaha, kamu tergelak hebat sambil mengacak-ngacak rambutku, ia nanti Na manis.... masih aza manja ya kamu, padahal rasanya uda hampir beberapa semester gak bertemu, masi gak berubah.
lagu ”malaikat juga tahu-nya” dewi lestari yang saat itu lagi marak, tiba-tiba mengalun lembut, aku hapal itu ringtone Hpku, kulirik nama yang menelepon, wow.. ternyata Tuan agung, segera kuangkat ”Na, dimana??saya lagi di Bandung, di daerah Dago Pakar nih, lagi makan ikan peda bakar kesukaanmu, kamu masih di Jatinangor kan, segeralah kesini, saya tak lama disini, saya tunggu ya. tunggu... kamu sama siapa?? dengan orang yang sudah tak asing bagimu pastinya Na??? what?? sapa lagi itu... duh dunia benar-benar aneh...
Na, jadi gak nih, kita makan ikan peda bakar, dimana tadi katamu??daerah dago Pakar ya?? hmmmm... gak jadi deh, kita makan di daerah Trunojoyo saja ya, ada tempat makan sunda juga bernama ”Sambara”. loh kenapa??? hmmm...gpp, haduh rasanya aku sudah tak bisa membayangkan bagaimana jadinya, kalo aku bertemu dengannya bersama denganmu...ikan pedanya gimana Na?? lain kali saja...ok, ucapku sambil melotot dan berujar ”nurut deh”.
hmmm... to be continued or the end ya..??
*Galau*
Aku kini telah menapak pada undakan tangga ke tujuh puluh ribu, huffft bukan angka yang kecil untuk sebuah undakan tangga, bergantian orang-orang menemaniku melangkah, tapi kebanyakan dari mereka kelelahan, mereka benar-benar tak bisa mengimbangi gerakku yang cepat, mereka kewalahan dengan energiku yang tak pernah habis, untuk beristirahat sebentar pun aku tak mau, aku akan marah-marah dan menggerutu panjang pendek bergumam tidak jelas ”buang-buang waktu saja beristirahat seperti ini”, apa sih yang aku tuju??*puncak tangga*
ya puncak tangga, yang akupun tak tahu dimana itu dan harus berapa lama lagi untuk meraihnya, aku merasa gamang ketika menginjak tangga ke tujuh puluh ribu ini, keseimbanganku hilang, tiba-tiba aku menangis, bukan tangga ini yang aku mau, aku melihat dengan kepala menoleh cepat kearah kananku, diseberang tanggaku ada tangga mewah dengan sesak dipenuhi oleh orang-orang yang penuh kerut, tak menarik, berkacamata tebal, aku melihat keatas, kedua tangga ini sebenarnya akan berakhir dipuncak yang sama, kenapa aku berada disini, bukankah aku mampu menaiki tangga diseberangku, bukankah aku memiliki energi yang berlebih untuk mencapainya, bukankah aku seharusnya berada diantara orang-orang penuh kerutan dan berkacamata tebal itu???
aku terduduk lesu, rasanya ingin melepas dahaga, merenung ”seandainya aku mungkin untuk menyebrangi tangga ini, itu pasti akan kulakukan” aku tahu bagaimana diriku, diri yang jika menginginkan sesuatu maka itu akan menggebu, seberapa banyakpun hal yang dihadirkan mataku untuk mengganti keinginanku, itu tak akan pernah membuatku merasa puas, akh... lagi-lagi aku tak bersyukur kembali aku mengingatNYA, orang-orang dibawahku terus mendesakku agar aku cepat melesat ke atas, seseorang yang menemaniku tertinggal jauh dibelakangku, aku tak tahu, apakah dia akan mengejarku dan menemaniku lagi mencapai puncak tangga, atau cukup sampai sekian seperti yang lalu-lalu.
sampai saat ini aku belum bisa berdamai dengan tangga yang akan kunaiki, aku perlu istirahat, biarlah orang-orang mendesakku, menginjakku, aku tak peduli, biarlah aku luangkan waktu untuk sekedar berpikir bahwa apa yang kupilih adalah benar.
”ketika berada dalam kegamangan bahwa aku akan menjalani sesuatu yang baru, yang benar-benar berbeda dari awalku, dari karakterku” apakah bisa??
With Love
"Na
Subscribe to:
Posts (Atom)